Novel: UDQ #14 Tanpa Nai

Ungkapan Dalam Qalbu

SHARE

Ketika ditinggalkan seseorang, sakit memang.
Tapi itu hanya rasa sejenak, karena ditinggal bukan berati kehilangan.
…hanya sedang memupuk rindu untuknya.

Suaranya masih terniang jelas di telinga, semua yang kami lakukan bersama terus saja muncul dalam pejaman. Aku ingat, dia langsung mendatangiku setelah ia berkencan dengan laki-laki yang disukainya.

Padahal itu sudah malam. Dia juga langsung memberikan Novel padaku, tanpa menunggu besok. Aku benar-benar merasa tersanjung dan dianggap sebagai sahabatnya. Tapi ia tak pernah bilang kalau ia menderita penyakit jantung.

“Mama juga sering kangen sama ayah,” mama memasuki kamarku dan duduk di sebelahku. “tapi kita gak pernah kehilangan ayah kan?” mama membelai lembut rambutku.

“Iya, karena ayah gak benar-benar ninggalin kita.” Aku letakkan kepala di pangkuan mama. “Begitu juga Nai, aku tahu dia gak benar-benar ninggalin aku. Cuma, entah kenapa hatiku rasanya sakit Ma.” Tanpa terasa air mataku meleleh.

“Rasa sakit itu wajar. Perlahan tapi pasti, nanti rasa itu juga hilang sayang.”

Aku seharusnya bisa mengendalikan perasaanku, bukannya membiarkan terhanyut kesedihan seperti ini. Nai tentu akan sedih melihat aku seperti ini. Sebelumnya aku sudah pernah ditinggalkan ayah, ini bukanlah perasaan sakit yang pertama. Aku harus tegar, atau mereka akan ikut bersedih.

Ketika ditinggalkan seseorang, sakit memang. Tapi itu hanya rasa sejenak, karena ditinggalkan bukan berati kehilangan. Selama kau masih bisa tersenyum untuknya dan mendoakanya. Kau bukan kehilangannya, hanya sedang memupuk rindu untuknya.


Sudah dua kali jadwal latihan silat aku lewati. Teman-teman latihan menyambutku dengan gembira, mereka merindukanku. Aku mencoba latihan seperti biasanya, meski tanpa Nai. Aku tak ingin membawa kepiluanku di tengah mereka. Aku harus kuat.

“Konsentrasi!” perintah sang pelatih. “Jurus satu!” pintanya “Zhiii!”

Kami memperagakan jurus yang dipinta bang yusuf. Disaat seperti ini, aku benar-benar merindukan soulmate-ku. Ini bukanlah latihan pertamaku tanpa Nai. Tapi aku merasa sangat berbeda.

“kalau aku aja gak bisa ngalahin kamu, maka gak boleh ada orang lain yang ngalahin kamu. Please, kalau gak aku bakal ngerasa benar-benar payah.” Kata-kata itu terus terngiang.

Latihan selesai, biasanya aku dan Nai akan menyempatkan waktu untuk melihat bintang. Kini aku tak akan bisa mengulang waktu itu lagi. Aku duduk sendiri menatap bintang-bintang.

Nai, apa kau melihat senyuman ini? aku akan selalu tersenyum untukmu di sana. Doaku menyertaimu.

“Sampai kapan kamu mau lihat langit?” kak Dhani ternyata duduk sebelahku.

“Kakak kok di sini?”

“Emang salah ya kalau aku jemput pacarku?” kak Dhani bertanya balik. “Nanti, kalau aku udah mulai ujian, gak bisa nemenin kamu pulang lagi.” Tambahnya seakan mengucap salam perpisahan.

Sering aku lupa, bahwa aku pacar ‘kak Dhani’. Cukup lama aku melihat langit malam yang indah bersama kak Dhani. Kemudian ia mengantarku pulang. Sungguh, aku rindu ketika aku pulang bersama Nai.


Rasa sakit itu wajar.
Perlahan tapi pasti,
nanti juga hilang.

Daftar Isi Novel Online Ungkapan Dalam Hati

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here