Novel: UDQ #16 Sisa Permen

SHARE
Ungkapan Dalam Hati Gadis

Kamu gak tahu kan, sakit apa aja yang kamu alami cuma karena patah hati?

Semester awal di kelas XII aku harus lebih fokuskan pada pelajaran. Bukan saatnya terlena untuk soal perasaan karena berbagai ujian sekolah menanti di depan. Meski ingin selalu melihat wajah manis itu. Sudahlah, bukan maksudku mengabaikanya. Seperti katanya juga, sebagai pelajar kita haruslah profesional dengan mengutamakan pelajaran.

“Kamu bawa Atlas gak?” tanyanya gusar.

“Di kelas aku mana ada pelajaran IPS Ar.” Jawabku mengingatkan bahwa aku kelas IPA. “Mungkin Erka bawa.”

Arly mematung seakan gusarnya bertambah mendengar nama Erka. Aku menuntunnya ke kelas Erka. Mereka berdua terlihat kaku seakan ada masalah.

“Kenapa Ram?” Tanya Erka.

“Arly mau pinjam atlas.”

Erka mengambil buku yang berisi peta dunia itu kemudian menyerahkannya pada Arly.

“Aku pinjam dulu. Terima kasih.” Ucap Arly sungkan seraya pergi.

“Kalian kenapa? Kayak ada masalah?” tanyaku penasaran, Erka hanya menjawabnnya dengan menaik turukan pundaknya.


Yogi menikmati permen-permenku dari pemberian Arly yang masih tersisa. Biarlah ia menebar sampah bungkus permen semaunya. Maklum, sedang patah hati sama seperti aku waktu itu, jadi kalaupun ia akan menderita sakit gigi, itu resikonya sendiri.

“Aku harap aku sakit gigi, biar aku lupa sama sakit hatiku.” Cetus Yogi dengan santai. Aku ingat persis kata-katanya waktu aku sakit gigi. “Jangan sampai kamu patah hati lagi kayak gini!” ancam kakakku. “Kamu gak tahu kan, sakit apa aja yang kamu alami cuma karena patah hati? Banyak Ram, sampai aku bingung.

“Ram, apa waktu makan permen-permen ini kamu sakit perut?”

“Enggak tuh.” Jawabku yakin.

Yogi langsung menyeretku ke rumah sakit. Hasil yang tak pernah ku duga, bahwa Yogi hampir keracunan permen kadaluarsa. Beruntungnya Yogi sangat sensitif dan cepat tanggap hingga ia terselamatkan. Ini cukup jadi pelajaran bagiku, bahwa makanan bisa kadaluarsa, jadi besok kalau aku ingin menyimpan pemberian Arly jangan makanan, tapi benda saja. Ah, apa yang aku pikir?

Aku mampir keruangan dokter Firman. Kami berbincang cukup lama sampai waktu praktik sang dokter tiba. Dokter muda itu banyak cerita mengenai Kinari sewaktu dalam masa pesakitannya. Kinari sudah mengalami beberapa kali operasi dari usia kecilnya, sampai ia benar-benar bosan dan tak mau lagi menjalani proses penyembuhannya itu. Selang beberapa tahun mungkin penyakit itu masih bisa ditangani tanpa operasi. Sampai akhirnya masa itu tiba dan menjadi sebab perginya Kinari.

Sebenarnya aku kurang mengerti dengan apa yang di maksud Heart Valve Disease. Tapi penyakit yang masalahnya pada katup jantung itu cukup membuatku merinding dan takjub akan kuatnya Kinari saat menjalani hidupnya selama ini. Hebatnya, tak satupun sahabat bahkan pihak sekolah yang tahu tentang penyakitnya. Ia berhasil mengelabui semunya termasuk aku.

Dokter Firman bilang, bukan dia laki-laki yang disukai Kinari. Apa yang Kinari katakan padaku mengenai perasaannya pada dokter Firman hanyalah alasan agar aku tak curiga. Seharusnya aku tahu itu dari awal. Mengenal dokter muda seperti dokter Firman, membuat aku iri. Aku jadi ingin sepertinya kelak.


Daftar Isi Ungkapan Dalam Qalbu Novel Teenlit

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here