Novel: UDQ #17 Menyatakan

SHARE
Novel Teenlit Ungkapan Dalam Qalbu

Sejak kedatangannya sore itu aku jadi terus memikirkan kak Dhani. Aku seakan dihantui rasa bersalah karenanya. Sepulangnya Raia, aku dan kak Dhani berbicang sampai matahari tenggelam.

“Aku tahu kamu gak akan merindukan aku seperti aku merindukan kamu. Aku tahu kamu udah berusaha untuk perasaanku meski gak ada hasilnya dan mungkin memang gak akan ada hasilnya.” Ujar kak Dhani.

“Maafin aku ka…”

“Kamu gak perlu minta maaf Ar, ini semua bukan salah kamu.” Lanjut kak Dhani seakan tak ingin memberiku kesempatan untuk bicara. “Waktu itu aku benar-benar menginginkan kamu, aku takut kamu jadi milik orang lain makanya aku nyatain perasaanku karena gak mau menyesal. Beruntungnya kamu gak nolak. Terima kasih kamu udah mau ngasih kesempatan untuk aku.” Ucap kak Dhani yang membut aku tak mengerti. “Aku sadar diri kalau kamu gak akan mencintai aku karena cinta kamu udah untuk orang lain. Aku tahu kalau kamu orang yang sangat setia. Sayangnya kesetian itu bukan untuk aku, dan aku gak ingin menyakiti kamu.”

“Nyakitin aku?”

“Seharusnya kamu bisa bebas mencintai orang yang kamu suka, tapi aku ngebebanin kamu kan?” Aku mulai tahu kemana arah pembicaraan kak Dhani, tapi aku benar-benar tak tahu harus apa.

“Sekarang aku tahu cinta tak harus memiliki. Aku akan terus mencintai kamu meski aku gak milikin kamu.”

“Maksudnya?”

“Kamu gak usah khawatir, walaupun kita putus, aku akan tetap cinta sama kamu.”

“Gombal deh kakak, gak enaknya pacaran gitu ya kak, ada putusnya. Mendingan kita sahaban kan? Gak bisa putus.”

“Aku gak tahu Ar, apa aku bisa dapetin lagi gadis sebaik kamu.” Sendu kak Dhani itu seakan meyakinkan bahwa dia benar menyukaiku.

Laki-laki itu amatlah baik, aku senang bisa mengenalnya meski tak bisa mencintainya. Kak Dhani, meski aku bukan lagi pacarnya, aku akan menyayanginya seperti sahabatku yang lain terkecuali Erka. Aku memang menyayangi Erka, tapi ada rasa lain yang terselip selain persahabatan.

Makanya aku nyatain perasaan aku karena gak mau menyesal. Apa aku harus menyatakan perasaanku juga pada Erka? Jika aku terus menyumbunyikan perasaan ini apa aku akan menyesal? Apa jadinya kalau aku mengungkapkan perasaanku pada Erka? Tidak mungkin! Tapi siapa tahu Erka juga punya perasaan yang sama denganku, aku kan belum pernah mencobanya.


“Hai Ar!”tegur Erka di depan kelasku saat kami pulang sekolah.

Aku tersenyum dan membalas tegurannya. Aku dan Erka melangkah berdampingan untuk pergi dari sekolah. Tangan Erka mengenggam tanganku, tubuhku yang hanya setinggi dagunya yang siku-siku tanpa sudut membuat aku sedikit mengankat kepalaku untuk melihat wajahnya, tatapanku penuh harap. Erka menoleh dan memandangku dengan menebar sejuta senyum, dari bibirnya keluar beberapa kata.

“Kita pacaran ya!” Aku mengangguk tanda setuju, Erka mengeratkan genngamannya.

Cahaya menyilaukan masuk dan membuka mataku. Aku ada di atas kasur, di kamar. Hanya mimpi. Jadi hanya mimpi, padahal aku merasakannya begitu nyata. Tak apalah, meskipun mimpi aku cukup senang. Aku singkirkan selimutku lalu beranjak kekamar mandi untuk bergegas berangkat sekolah.

Aku berpikir ulang, semuanya akan tetap jadi mimpi jika aku tak memcoba untuk mengungkapkan perasaanku. Aku putuskan untuk menyatakan perasaanku sepulang sekolah nanti. Apapun jawabanya akan aku terima, aku hanya tak ingin menyasal dan terus terbebani dengan rasa yang aku pendam selama ini.

Jam demi jam berlalu, pelajaran demi pelajaran berganti. Aku seakan menggebu-gebu takut kehilangan kesempat untuk mengungkapkan perasaanku. Akhirnya bel berdering di ujung waktu pelajaran tanda saatnya pulang. Selepas sang guru meninggalkan kelas, kami para murid berhamburan keluar kelas. Aku cari sosok atlit basket itu dengan menengok kelasnya, sanyangnya kelasnya sudah kosong. Aku turuni anak tangga satu persatu lebih cepat dari rombongan murid lainnya. Di lorong aku temukan sosok yang aku cari itu.

“Erka… Erka… Erka…” lantang suaraku berulang-ulang kali namun orang yang aku panggil itu tak juga membalikkan badannya seakan tak mendengar. “Erkaaaaa…” gemaku lagi dengan terus mengejarnya. Rumunan siswa-siswi yang berjalan seolah menjadi jarak yang amat jauh hingga membuat aku sangat sulit mendekatinya.

Erka telah melewati gerbang. Aku masih mengejarnya namun ia sudah menyebrangi jalan. Langkahku terhenti seakan begitu lelah batin ini, aku tak ingin lagi mengejarnya, rasanya semua tak mungkin. Aku berbalik arah dari tujuanku. Perasaanku pecah menjadi butiran-butiaran air yang mengalir dari ujung mata.

“Erka, aku cuma mau bilang aku cinta kamu, tapi kenapa kamu gak menoleh saat aku panggil? Semua terasa begitu sulit. Kenapa aku harus seperti ini? kenapa?” kalimat itu terulang sendu dari lidahku.

Tanganku sibuk menyingkirkan air mata di pipiku. Makhluk-mahkluk di jalan menyaksikan betapa bodohnya aku. Benar-benar bodoh, bahkan aku tak mampu menyudahi air mata yang seolah tak akan berhenti. Terjawab sudah pilihan yang harus aku ambil. Menyenbunyikan perasaanku entah sampai kapan aku pikir adalah pilihan terbaik.

Menyatakan perasaan:

“Tetap menjaga diri, menjauhi fitnah lebih mulia dari pada menunjukkan hasrat, sekalipun itu fitrah

By: Prinsip Cowok Maco Saat Jatuh Cinta


Episode Lengkap Novel Ungkapan Dalam Hati

Malu menyatakan cinta? Baca

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here