novel teenlit cinta ungkapan dalam hati

Aku mengenal motor gede dan pengendaranya yang parkir di seberang depan sekolahku. Laki-laki itu tak lain adalah kak Yogi. Aku sedikit merasa aneh. Semalam memelukku, kali ini ia menjemputku sekolah. Tak pernah seperti ini biasanya, mungkin ini akibat patah hati.

“Arly mana?” tanyanya saat aku menghampirinya.

“Arly?’ heranku tak mengerti.

“Aku mau nganter dia pulang.” Jawabnya dengan wajah berseri.

“Adik kamu itu aku, bukan Arly. Kenapa malah mau jemput Arly?”

“Kamu itu emang adikku. Arly, calon pacar aku.” Jawaban kak Yogi kali ini sangat mencengangkan. “Eh, itu dia.” Kakakku menunjuk gadis yang baru melewati gerbang sekolah. “Udah dulu ya adikku tercinta.” Pamit kak Yogi. Ia berlalu dari hadapankudan mendatangi Arly. Entah rayuan maut apa yang ia gunakan pada Arly sampai gadis polos itu terbuai olehnya.

Di otakku masih berpikir kalau aku harus saingan dengan sahabatku. Tambah lagi kakakku sendiri mulai jadi sainganku. Oh Tuhan, apa ini? gadis itu kenapa harus ada laki-laki yang menyukainya selain aku?

Pikiran tak tenang, sepulang sekolah aku ingin belajar tapi kakakku belum pulang. Rumah Arly tak terlalu jauh dari sekolah, jika Yogi belum pulang. Itu artinya ia tak sekedar mengantar Arly pulang ke rumah. Aku pergi ke rumah Erka kemudian minta ditemani ke rumah Arly untuk memastikan apakah gadis itu sudah di rumah atau belum.

Dengan alasan meminjam bola basket ke rumah Arly. Kami hanya menemui ibunya Arly saja karena anaknya belum pulang entah kemana. Di lapangan basket dekat rumahnya, aku dan Erka memainkan bola milik Arly cukup lama sampai kami benar-benar berkeringat. Saat kami selesai bermain dan mengembalikan bola itu, Arly belum juga pulang.

“Ngapain sih Yogi sama Arly? Perginya lama banget!” gumamku kesal.

“Kak Yogi kan masih patah hati, mungkin Arly lagi ngehibur dia.” jawab Erka menanggapiku.

Angin menyapu awan hingga menggumpal menyelubungi matahari. Warna senja mulai memenuhi langit. Aku kembali ke rumah dan kakakku belum juga pulang. Hingga matahari kembali ke peraduannya bahkan langit mulai di hiasi bintang, kakakku itu belum juga sampai. Setelah jarum jam menunjuk angka 8, barulah ia tiba.

Aku menyambut kedatangan kakak dengan tampang jutek. Tapi kak Yogi tak menghiraukaunnya dan malah menimpaliku dengan wajah bahagianya yang dipenuhi seribu senyuman.

“Gila, hari ini aku benar-benar ngerasa beruntung.” Ujarnya. Aku masih berwajah masam. “Tahu gak Ram, tadi Arly ngajak aku ke toko kue dan minta di beliin kue tart yang lumayan besar, habis itu, kamu tahu dia bawa aku kemana?” kak Yogi seru sendiri. “ke panti asuhan Ram.” Aku mulai menoleh dan memasang pendengaranku baik-baik. “Ramm… kita tuh beruntung banget. Di situ aku merasa benar-benar beruntung.”

“Panti asuhan? Ngapain?” tanyaku penasaran.
“Kita ngerayain ulang tahun anak-anak panti asuhan. Mereka di sana, jarang ada yang ingat tanggal lahir mereka, jadi ulang tahunnya dirayain bareng tadi.”

“Arly gak pernah cerita tentang panti asuhan.”

“Ya.” Kak Yogi menaik-turunkan bahunya. “tapi semuanya yang di sana kenal Arly dan sangat akrab. Kayakknya Arly emang sering ke sana. Kata Arly sih, dulu ayahnya yang pertama kali ajak Arly ke panti itu.” Ujar kak Yogi sedikit membahas Arly. “Kita tuh beruntung banget Ram, dilahirin dari keluarga yang utuh. Walau sekarang orang tua kita gak sama kita, tapi yang semua mereka lakuin demi kita. Ibu sama ayah ngajarin kita mandiri bukan menelantarkan kita. Sementara anak di panti asuahan, mereka gak ada yang tahu siapa orng tuanya, tapi mereka gak kelihatan sedih, mereka ceria semua. Aku gak akan meratapi nasibku cuma karena patah hati, malu sama semua anak di panti asuhan. Gak seharusnya aku bersedih karena di khianatin perempuan yang gak bisa setia. Aku harus lebih pandai menghargai hidup, bukan sekedar meratapi.”

Semula aku memang dongkol. Mendapati kakakku yang datang dengan semangat baru, rasa jengkel itu perlahan sirna setelah mendengar ceritanya. Semua tak lepas dari gadis itu. Arly memang gadis yang hebat, tak salah kan kalau aku menyukainya. “Tapi kamu gak serius mau jadiin dia pacar kamu kan?”

Yogi memandangku dengan tatapan berpikir. “Sebenarnya sih, kalau kamu gak sakit hati dan Arly mau. Aku gak akan sia-siain kesempatan itu.” Jawabnya dengan senyum yang tak aku mengerti. “Tapi di luar sana banyak gadis lain, jadi kita gak perlu rebutan satu orang kan.” Kak Yogi mengacak-ngacak rambutku lantas pergi. Pernyataan kakak itu sungguh membuat lega. Jadi saingan terberatku hanyalah Erka, sahabatku sendiri.


Aku duduk berhadapan dengan Arly, Bumi duduk di sebelah kiriku. Kebetulan kami berpapasan saat hendak ke kantin, jadi kami bertiga makan bakso bersama di kantin.

“Kamu kok gak pernah cerita kalau sering ke panti asuhan?” tanyaku sebelum menyuruput kuah baksoku.

“Apa aku juga harus cerita ke kamu setiap kali aku buang air?” tanyanya balik setelah melahap bola dagingnya.

“Emang setiap kebaikan yang kita lakuin harus di publikasiin Ram?” tanya Bumi menimpali.

Benar juga perkataan mereka, memang setiap kebaikan yang di lakukan tidak perlu diceritakan. Toh, kalau buang air saja gak pernah di umumin, apa hebatnya sering ke panti asuhan? Arly pasti berpikir seperti itu. Gadis di hadapanku ini memang hebat, rasa kepedulian sangat tinggi, aku jadi makin menyukainya.

“Baksoku udah habis, aku duluan ya, mau ngapalin vocab.”

Arly bangkit mengangkat mangkuk baksonya dan buru-buru pergi dari hadapanku dan Bumi dengan menjadikan pelajaran bahasa inggris sebagai alasan. Sesaat kemudian Erka datang membawa sepiring batagor dan duduk di sebelah kananku.

“Arly kenapa sih? Kok kayaknya dia mau ngehindarin aku?” heran Erka pada suapan pertamanya.

“Perasaan aja kali Er, kayaknya dia biasa aja.” tanggapku

“Kenapa dia pergi waktu lihat aku ke sini?” tanyanya lagi menguatkan pertanyaan awalnya.

“Dia mau ngapalin vocab, kayak kamu gak tahu aja kalau banyak kosakata bahasa inggris yang harus kita kuasain.” Jawab Bumi.

Jawaban Bumi memang tepat, tapi aku juga merasa kalau Erka ada benarnya. Untuk apa Arly buru-buru seperti itu. Erka mulai khawatir kalau Arly akan menjauhinya. Aku yakin sekarang kalau Erka juga menyukai Arly.


Aku keluar sekolah bersama murid lainnya karena waktu bubar sekolah tiba. Saat di gerbang aku melihat Kak Dhani duduk di atas motornya dan ia melambaikan tangan padaku. Aku menyebrangi jalan untuk menghampirinya.

“Hai Ar.” Sapanya menyambutku.

“Hai, kakak kok ada di sini?”

“Kakak mau antar kamu pulang.” Jawabnya cukup mengherankan bagiku. “Yuk!” ajaknya.

Aku duduk di belakang kak Dhani, mau bagaimana lagi, ia sudah repot-repot untuk mengantarku pulang jadi harus menghargainya. Sebelum mengantarku kerumah kak Dhani minta di temani makan, ia mentraktirku ayam bakar di sebuah rumah makan.

“Kakak tahu jawaban kamu, tapi kakak pengen banget nanyain ini ke kamu.” Ujar kak Dhani di sela waktu makan kami. “Kamu mau gak, jadi pacar kakak lagi?” pertanyaan yang mengejutkanku.

“Kakak tau jawabannya kan?” tanyaku balik dengan perasaan tak enak hati.

“Ya.” Kak Dhani mengangguk yakin. “Kakak cuma lagi kangen berat sama kamu. Ngelepas kamu gak semudah yang kakak bayangin.”

“Kakak boleh nemuin aku kapan aja, selama aku sempat aku gak akan ngeras keberatan.” Kataku mencoba menghiburnya.


Aku, Bumi, dan Erka berencana belajar bersama sepulang sekolah. Sebelum kami keluar sekolah aku melihat Arly menghampiri Dhani dan pergi dengannya. Hampir aku lupa kalau Arly punya pacar.

Tentu bukan hanya aku yang melihat, sekelompok orang melewati kami. “Kemarin di jemput sama Kak Yogi, sekarang sama kak Dhani.” Celetuk seseorang di antara mereka.

“Cewek murahan kali, sama siapa aja mau.” Lepas seseorang lagi dalam kelompok itu.

Sigap, Bumi langsung menarik orang tersebut. “Heh, kalau ngomong jangan sembarang!” tandas Bumi nampak menahan emosi.

“Nyantai bro! Kalau gak ngerasa gak usah kesinggung.” Jawab laki-laki berambut ikal itu nyolot sambil menyingkirkan tangan Bumi. “lagian cewek model gitu banyak kali.”

“Maksudnya apaan tuh mulut???.” Kali ini Bumi mengenggam kerah baju orang di hadapan kami dengan geram.

“Cewek yang murahan kayak Arly tuh banyak!” tegas orang itu menantang sambil berusaha melepaskan genggaman Bumi yang makin mengeras di kerah bajunya. Mendengar hal itu aku tak tahan, kepalan tanganku siap meluncur pada orang itu.

“Bugg.” Sebuah bogem mentah mendarat di wajah orang itu, tapi bukan dariku, malainkan Erka yang melayangkannya. “Pukulan itu belum seberapa dari pukulan Arly. Tapi karena dia gak akan ngotorin tangannya, aku yang kasih kamu pelajaran!” Tandas Erka.

Peristiwa yang terjadi di lingkup sekolah itu menyebabkan aku dan kedua sahabatku harus menghadap guru BP pagi-pagi. Di ruangan guru Bimbingan Pelajar itu sudah ada si rambut ikal yang Erka pukul dan beberapa orang saksi yang tak lain kelompok si ikal. Sebagai tersangka kami di wajibkan meminta maaf pada si korban songong itu.

Penuh keterpaksaan kami menyampaikan maaf di depan guru BP pada laki-laki yang satu angkatan juga dengan kami. Dengan tertunduk tanpa melihat mata kami si korban menerima maaf tidak iklas kami. Berani ia mengangkat kepalanya di hadapanku. Aku akan buat perhitungannya di luar sekolah.

“Rama, sekali lagi kamu terlibat hal seperti ini. Ibu gak segan manggil orang tua kamu.” Aku diberi peringatan khusus karena untuk kedua kalinya aku menghadap guru BP dengan kasus yang sama dimana sebelumnya aku terlibat perkelahian dengan Dhani saat aku kelas XI.


Aku dan Seshi segera berlari menuju ruang BP saat tahu Bumi, Rama dan Erka dipanggil guru karena terlibat kasus perkelahian sepulang sekolah kemarin. Sebelum kami sampai, ketiga sahabat cowokku telah keluar dengan siswa lain yang mungkin terlibat kasus juga.

“Mereka bertiga keliatan keren ya.” Puji Seshi melihat Bumi, Erka dan Rama yang berjalan sejajar. Ya, tidak bisa di pungkiri sekarang mereka nampak seperti jagoan di film. “Cool…” tambah Seshi.

“Kalian dihukum gak?” tanya Seshi menyerbu.

“Gak dong.” Jawab ketiga cowok itu kompak. “Cuma masalah sepele, jadi Bu Tia yang bijaksana gak akan ngasih hukuman.” Tambah Bumi.

Dari beberapa orang yang cerita padaku aku mengerti kalau ketiga cowok ini sangat baik padaku. Sanyangnya aku tak melihat secara langsung waktu Erka memukul orang itu, pasti keren.

“Maaf ya, karena belain aku kalian jadi dapat masalah.” Ucapku terharu.

Never mind Ar.” Jawab Rama santai.

Sebenarnya aku ingin berterima kasih khusus pada Erka, tapi tak tahu kenapa lidahku pelu. “Lain kali gak usah sebegininya, kita gak bisa maksain semua orang untuk suka sama kita kan?” kata-kata itu yang aku lontarkan saat Erka menatapku.

Aku rasa semakin hari aku semakin salah tingkah jika berhadapan dengan Erka. Aku harus bgaimana? Menghindarinya tak membuat keadaan lebih baik.


Aku harus lebih pandai menghargai hidup, bukan sekedar meratapi.

Baca selengkapnya: Ungkapan Dalam Kalbu, Novel Gadis Remaja

Baca juga: Manfaat Menikah di Usia Belia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here