SHARE
Ungkapan Dalam Hati Gadis

Kamu selalu menyimpan masalah rapat-rapat

agar tak ada yang tahu sama sekali setiap masalahmu.

itulah sebabnya kamu sering bingung sendiri.

Kamu pikir apa gunanya sahabat kalau gak bisa buat berbagi?

Hampir tengah malam di mana rembulan tak lagi nampak di atasku dan para bintang lebih memilih berselimut dengan awan. Aku baru saja keluar gedung sekolah seusai berbincang dengan teman-temanku sehabis latihan Silat. Sekelebat aku melihat sosok Bumi yang berlari dengan sangat cepat, mengingat temanku yang sudah dua hari tak masuk sekolah itu aku berusaha mengikutinya untuk meyakinkan bahwa itu temanku.

Setelah mengikutinya, bukan aku mengejarnya karena larinya sangat cepat bahkan aku tak merasa menapaki jalan yang aku lewati, aku yakin orang itu sahabatku karena kaki Bumi yang pajang dan kekar memang sangat berbakat menjadi atlet maraton. Tapi kenapa dia olahraga malam-malam begini.

“Bumi…” panggilku setelah mampu menyetarai langkahnya. “Kenapa kamu olahraga tengah malam begini?” tanyanku heran.

Bumi menoleh dan melihatku dengan tatapan terkejut. “Aku bukan lagi olahraga, tapi aku lagi lari dari mereka.” jawabnya dengan menunjuk kebelakang. “Mereka siapa? apa kamu lagi dikejar orang? tapi di belakang kita gak ada siapa-siapa.”

Bumi perlahan melambatkan langkahnya setelah menoleh lama kebelakang. “Aku harus sembunyi Ar, tapi kemana?” tanyanya bingung yang masih ngos-ngosah dalam perhentiannya.

“Kenapa kita harus sembunyi? apa kamu lagi main petak umpat?” tanyanku lagi sambil menghentikan langkahku. Bumi yang masih sangat lelah dan nampak ketakutan hanya bisa menggelengkan kepala untu menjawabku. “Dari pada bingung buat sembunyi, mendingan kita makan.” Aku menunjuk sebuah warung tenda di pinggir jalan. “aku yang teraktir deh” bujukku.

Kami berdua duduk di warung tenda dan memesan dua porsi pecel lele juga tiga gelas es teh. Sepertinya Bumi benar-benar kehausan hingga satu gelas air tidak akan cukup baginya.

“Aku masih bingung kenapa kamu ngibrit ketakutan kayak dikejar hantu gitu.” Heranku saat kami keluar warung setelah selesai makan.

Bumi menoleh kanan kiri masih penuh dengan rasa takut kemudian ia menghela nafas dan mulai menjelaskan padaku. “Jangan kaget ya Ar,” pintanya di awal, wanti-wanti seakan takut aku jantungan. Aku mengangguk mengerti. “Aku di kejar polis…”

“Polisi?” tebakku sebelum Bumi selesai bicara. “Kenapa? apa kamu melanggar lalu lintas?” Bumi menggelengkan kepala. “Kenapa?” desakku penasaran.

“Polisi ngejar aku karenaaaa… aku kepergok mau…” Aku bersabar mendengar Bumi sampai keningku mengkerut. “aku mau… ngedarin narkoba.” katanya pelan.

Pengakuannya membuatku geram, sungguh ini lelucon yang sangat tidak lucu. Aku mencengkram salah satu bahunya. langkahnya langsung terhenti. Bumi menutup mata dan nampak sangat ketakutan. “Aku pasti salah dengarkan?” Aku meminta penjelasan. “Kamu lagi bercandakan?” Aku mengencangkan cengkramanku.

“Ar, tenang dulu Ar, aku bisa jelasin semuanya.” katanya meminta waktu. Aku lepaskan pundaknya dan ia menarik nafas panjang kemudian perlahan menghembuskannya tanpa suara. “Kamu tau kan Ar, ayahku baru aja meninggal, beberapa hari ini aku gak masuk sekolah karena harus benar-benar nyari pekerjaan yang bayaranya besar tapi gak ganggu waktuku untuk sekolah.”

“Kamu milih hal bodoh ini sebagai jalan pintas?”

“Ar, ga ada cara lain buat aku dapat uang banyak dalam waktu singkat. sementara pihak sekolah udah ngasih aku surat peringatan kalau ternyata aku udah dua bulan nunggak bayaran karena uangnya terpakai buat pengobatan ayahku kemarin.”

“Plakk.” Aku benar-benar geram hingga tak bisa menahan tanganku sampai ke pipi Bumi.

“Aku gak kira kamu sedangkal ini, kemana akal sehat kamu?” lirihku penuh kecewa.

“Siapa yang bisa pakai akal sehat dalam kondisi aku yang kaya gini?” tanyanya dengan nada meninggi.

“Mungkin kamu lupa Bum, kalau ayah aku udah meninggal terlebih dulu, itu sebabnya abang aku harus jadi tki di luar negri.” Ungkapku sekedar mengingatkan. “Aku gak habis pikir kalau abang aku bertindak seperti kamu. aku gak akan pernah rela kalau aku sekeluarga dinafkahin dengan cara haram.”

“Apa aku harus jadi TKI di luar negri dan memutuskan pendidikanku yang belum lulus SMA?” tanyanya masih emosi dan penuh kegundahan.

“Apa kamu pernah berpikir sebelumnya, kalau kamu melakukan pekerjaan laknat ini kamu akan selalu aman? sekarang aja kamu dikejar, kalau kamu tertangkap dan masuk penjara, apa kamu masih bisa bersekolah? mungkin kali ini kamu bisa lolos, dan berkali-kali lagi kamu akan lolos. tapi apa kamu bisa tenang? coba pikir matang-matang. kamu akan membayar tunggakan dan semuanya dari pekerjaan yang haram ini. selulus sekolah kamu akan mencari pekerjaan yang lebih baik tapi kamu lupa, kamu lulus sekolah dari uang haram, ijasah yang kamu gunakan untuk mendapatkan pekerjaan baru adalah ijasah haram tentunya. dan keharaman ini gak akan selesai karena awalnya sudah haram, dan seterusnya kamu akan mengabaikan bahwa kamu menafkahi keluarga kamu dari hasil yang haram.”

Entah apa yang Bumi pikirkan saat mendengar pidato panjangku. Tapi setelah ia terdiam cukup lama akhirnya ia bersuara. “Ar, ak… aku… sekarang aku harus gimana?”

“Sebaiknya kamu nyerahin benda laknat itu ke polisi, mungkin kamu akan dapat keringanan karena niat baik kamu. mungkin kamu bisa ikut ujian kelulusan sekolah tahun depan.” jawabku sambil melangkah kembali.

“Maksudnya aku gak bisa ikut ujian tahun ini karena aku harus di penjara?” tanyanya yang langsung mengikuti langkahku. “jadi harus nyerahin benda laknat itu dan diriku untuk di penjara?” tanyanya lagi terdengar sangat ketakutan. Aku terus saja berjalan tanpa menjawabnya karena sejujurnya aku juga bingung dengan ini. “Tunngu…” langkahku langsung terhenti. “Benda laknat apa yang harus aku serahkan ke polisi?” tanyanya bingung.

“Narkoba yang sekarang ada di kamu.” jawabku sambil membalikkan badan

“Narkoba? ini pertama kalinya aku nemuin bandar narkoba itu dan sebelum aku nerima barang itu, tiba-tiba polisi datang makanya aku lari ketakutan dan ingin sembunyi.” Bumi mejelaskan hal ini sebelumnya.

Aku mendekatinya dan menatapnya dalam. “Apa kamu yakin kalau kamu gak menyimpan narkotika sedikitpun?” Bumi menganggukkan kepala tanpa ragu. Aku tahu kadar kejujuran sahabat ku ini. Aku mengeramkan gigi di dalam mulutku yang rapat. “Bumiiiiii…” teriakku di wajahnya sambil menjitak kepalaku. Kali ini dia nampak lebih bodoh dariku. “Aku kira aku orang paling bodoh, tapi ternyata kamu lebih bodoh dari aku, kalau kamu gak nyimpan barang itu, gak ada yang bisa buktiin bahwa kamu sekarang pengedar narkoba. jadi kenapa kamu harus ketakutan????”

Bumi tertegun seakan memaknai kata-kataku. Mungkin ia sedang berpikir ‘Rasanya aku memang benar-benar bodoh. bahkan sampai sekarang aku masih merasa buronan padahal aku belum mengedarkan narkotika sedikitpun. aku tak menyimpan barang nista itu sama sekali, tapi kenapa aku harus bersembunyi?’

“Kamu selalu menyimpan masalah kamu rapat-rapat agar tak ada yang tahu sama sekali setiap masalahmu. itulah sebabnya kamu sering bingung sendiri.” Petuahku padanya, Bumi masih terdiam hingga aku tak tahan dan menarik kerah bajunya. “Kamu pikir apa gunanya ada sahabat kalau gak bisa buat berbagi?” aku menyeretnya. “Besok kamu harus masuk sekolah, dan kita cari jalan keluar bersama yang lain.”

“Tapi aku belum punya uang untuk bayar tunggakkan.” tanggapnya sambil berusaha melepaskan tanganku dari kerah bajunya.

“Apa kamu dilarang sekolah hanya karena belum bayaran sekolah selama dua bulan?” aku menoleh padanya, Bumi menggelengkan kepala. Aku langsung melepaskan tanganku dari kerah bajunya. “Tunggakan kamu juga gak akan terbayar kalau kamu gak kesekolah. Kamu akan banyak ketinggalan pelajar kalau terus gak masuk, sementara ujian sekolah semakin dekat.” Kecamku.


Kelas Bumi masih cukup sepi karena penghuni yang lain belum datang dan hanya ada kami berlima yang sedang rapat. Seshi, Erka dan aku membelalakan mata setelah mendengar Bumi dan Arly menjelaskan perihal Bumi menjadi buronan konyol. Kami sebagai pendengar belum berkomentar atau bahkan tak mampu memberi tanggapan terhadap apa yang Bumi alami.

“Jadi ada yang punya saran supaya Bumi punya pekerjaan yang halal?” tanya Arly memecah keheningan.

Seshi memejamkan matanya di susul Erka yang berkedip-kedip seakan berpikir, dan aku menatapnya dalam. Bumi balik mendekatkan wajahnya padaku hingga aku bisa lebih jelas melihat bola matanya.

“Sebenarnya sih aku punya tetangga yang bekerja di agen koran, mungkin kamu bisa jadi loper korannya.” Erka bersuara. Mata kami semua langsung tertuju pada si pemilik ide. Erka hanya nyengir kuda.


Aku, Yogi, dan Erka berdiskusi sambil makan malam di rumahku. Seusai menghabiskan hidangan sementara aku mencuci piring, Erka dan Yogi masih membincarakan Bumi yang akan bekerja menjadi loper koran mulai besok pagi.

“Kasian juga kalau dia harus nyebarin koran pakai sepeda, pasti bakal capek banget.” Yogi bersimpati. “Aku gak keberatan kalau dia mau pinjem motor aku.” Ujarnya seakan sangat berempati.

“Aku keberatan!” tiba-tiba suara Arly bergema.

Aku buru-buru menyelesaikan tugasku dan meluncur ke ruang tengah dimana Erka dan Yogi berbincang. Ada Arly yang baru tiba tentunya karena kami memang memintanya datang.

“Motor itu pakai bensin ka, kakak yang bakal beliin bensiannya tiap dia kerja? Gak mungkin juga kan? Kalau dia beli bensin pakai uang kerjanya. Penghasilannya berkurang donk? Lagian pakai sepedakan lebih sehat, bebas polusi dan gak ribet. Kalau dia merasa capek, itulah resiko dari bekerja.”

“Setuju.” Ujarku bersemangat. Saat Arly berpidato aku sudah duduk di samping Erka dengan hikmat. Kak Yogi menggaruk-garuk belakang telinganya seusai mendengarkan gadis di hadapannya.

“Jadi?” Erka meminta solusi.

“Kalau kak Yogi mau bantu dia, lebih baik kakak berpikir lebih bijak. Pinjamin dia uang buat bayar tunggakan misalnya.” Ceplos Arly.

Kakakku nampak sedikit terkejut tapi ia tersenyum. “Kamu tuh…” Yogi menegaskan tatapan pada Arly. “Aku udah mikirin ini sebenernya. Okeh, tapi aku rasa Bumi gak perlu tahu hal ini. karena aku takut dia malah merasa gak enak sendiri.” Pinta Yogi.

Arly langsung memberikan hormat pada Yogi dan tersenyum riang.


Selangkah keluar dari rumah Rama membuat hatiku lega. Aku harus segera keluar dari area dimana ada aku dan Erka. Sebenarnya aku lelah separti ini, tapi aku sendiripun heran kenapa aku ingin selalu menghindari Erka. Ini bukan hal mudah bagiku, kali pertamanya aku seperti ini dan aku tak tahu harus bagaimana.

Sang rembulan memancarkan sinar lembutnya, dan bintang-bintang bertebaran berkelip bagai berlian. Langkanku perlahan melambat meresapi nikmatnya langit malam. Aku benar-benar letih karena menyadari sebenarnya aku bukan berlari menjauhi Erka, melainkan lari dari perasaanku sendiri.

“bugg” saking asyiknya melihat langit aku menubruk mobil yang terparkir di pinggir jalan.

“Ar, kamu gak apa-apa?” sosok Erka tiba-tiba ada di belakangku.

“Gak, gak apa-apa.” Jawabku sedikit tak percaya.

“Makanya kalau jalan jangan lihat keatas, tapi lihat kedepan.” Ujarnya bernasihat.

“Kamu ngikutin aku? Rumah kita kan beda arah, pulang sana!” bentakku. ‘Arly, kenapa kamu sekasar ini?’ batinku bertanya.

“Iya, aku ngikutin kamu.” Jawab Erka mengakui. “Kamu kenapa sih Ar? Kok berubah gini ke aku?” tanyanya balik. ‘degg’ pertanyaan yang sangat menyudutkanku. “Aku salah apa?”

“Berubah? Aku biasa aja.” Aku mengelak.

“Aku tahu kamu juga pasti nyadar kalau kamu berubah ke aku, aku gak tahu apa penyebabnya. Aku minta maaf kalau aku punya salah, tapi aku mohon jangan kayak gini. Aku gak bisa diam aja kamu terus hindari aku, gak bicara sama aku bahkan seakan kamu gak anggap aku ada. Aku mohon jangan perlakuin aku seperti itu.” Pintanya membuat aku termenung.

Aku sadar ini bukan mimpi, tapi aku harus berkata apa. Barusan aku mendengar permintaan yang membuat aku menyadari sesuatu. ‘Aku menghindarinya tanpa sebab’. Ini permintaan seorang sahabat, aku mengerti. Tapi persaanku tak mau mengerti hingga akhirnya tumpah menjadi air mata.

“Maafin aku kalau udah buat kamu gak nyaman.” Ujarku membuka suara sambil menyingkirkan air mataku yang sempat meleleh.

“Ar…”

“Aku terlalu egois sampai gak bisa nempati perasaanku. Kamu gak salah, aku yang terlau egois.” Aku menegapkan tubuhku dan menghela nafas.


Selengkapnya di Ungkapan Dalam Hati

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here