SHARE
Novel Teenlit Ungkapan Dalam Hati

Tak peduli denganku apalagi perhatian,

jelas artinya dia gak punya perasaan apapun.

Lalu kenapa  masih mengharapkanya bahkan ingin mengungkapkan.

Tapi aku pendam pikiran konyol itu atau semua keseriusanku akan dia anggap lelucon.

Erka mem-pushing bola basket kepadaku dengan tidak semangat. Aku dan teman-teman lain menyadari mood Erka yang memburuk sejak tadi tapi kami berusaha fokus tetap melanjutkan latihan sampai akhir meski permainan Erka kali ini sangat buruk.

“Lesu amat sih Ka!” cetus Ipul seusai kami latihan.

“Lagi patah hati ya?” tanya Chesar sambil memberinya sebotol air mineral.

Erka tak memberi tanggapan apapun selain senyum yang terpaksa. Aku sendiri heran dengan sikapnya akhir-akhir ini. Aku tanya apa dia ada masalah, dia dengan mantap tak mau mengaku. Mungkinkah ini ada hubungannya dengan Arly? Terakhir kali aku ingat, Erka menanyakan sikap Arly yang terkesan menjauhinya. Apa dia benar sedang patah hati?

“Kamu lagi mikirin Arly Ka?” tebakku sambil mendampinginya di pinggir lapangan.

“Enggak kok Ram.” Jawabnya setelah menenggak air. “Kayaknya sebentar lagi dia ulang tahun ya Ram?” tanyanya tak lama kemudian.

Tadi jawabnya enggak mikirin, tapi tahu-tahu ingat ulang tahunnya. Aku pikir cuma aku yang akan ingat hari penting itu. Ternyata Erka juga ingat dan mungkin banyak orang lain lagi yang ingat. Kira-kira aku mau masih kado apa ya yang spesial untuknya agar lebih berkesan.


Aku menaiki tangga dengan ceria mengingat besok hari yang spesial untukku. Aku telah menyampaikan niatku pada Seshi dan Bumi kalau ingin mentraktir mereka hari ini sepulang sekolah. Bukan hanya keduanya, Rama dan Erka tentu diajak, tapi Rama tidak bisa  ikut karena dia sudah ada acara dan Erka, aku belum bilang ke dia tentang ajakanku ini.

Seseorang melangkah menuruni tangga dan itu adalah Erka, momen yang tepat. Kami berpapasan di tangga tapi seolah dia tak acuh padaku. Ada perasaan getir mencabik batinku.

“Erka.” Panggilku setelah ia melewatiku beberapa langkah.

Erka menoleh dan berdiri menunggu. Sepi, hening, hanya denting jarum jam pada dinding koridor yang berbunyi. Aku mendekati dan berdiri di hadapannya. Kini denting jarum jam itu tak terdengar bagiku. Terasa tubuhku disiram air es. Dingin, membeku. Erka menatapku, menunggu aku mengeluarkan kata-kata.

“Ha.. Hari ini…” aku merasa gugup.

“Kamu ngajak makan?” tebaknya.

Aku menganggkuk. Erka cuek melanjutkan perjalanannya menuruni anak tangga. “Dia tidak peduli.”


“Mana sih Erka?” Keluh Bumi menunggu sobatnya yang tak kunjung datang.

Aku dan Seshi terdiam duduk di depan meja kantin. Bumi sibuk mondar-mandir keluar kantin. Aku dan Shesi saling menatap dan melempar senyum.

“Aku cari Erka dulu.” Bumi pamit meninggalkan kami sejenak.

“Ah Bumi, padahal gak sama Erka juga gak masalahkan?” desahku.

“Jangan gitu Ar, Erka jugakan sohib kita.” Seshi berpetuah.

“Iya, tapi kayaknya dia gak peduli sama Arly.”

“Perasaan Arly aja. Malah kadang Seshi iri sama kedekatan kalian. Kalian dulu tuh kayak pasangan. Tapi kadang Seshi ngerasa juga sih, Erka perhatian sama Seshi. Dia selalu bisa bikin Seshi nyaman kalau ada di dekat dia.”

Aku menyimak ucapan Seshi ada benarnya juga. Dia memang dulu perhatian, kita bahkan sangat dekat dan dia memang selalu membuat aku nyaman meski bercampur degupan di jantungku. Tapi lihat sekarang, sikap tak acuhnya menyentak perasaanku.

“Erka katanya udah pulang.” Bumi datang kembali dengan terengah-engah. “Oya Ar, bukannya ultah kamu tuh besok ya tanggal dua, bukan tanggal satu kan?” Bumi mengingat.

“Iya sih, tapi aku maunya sekarang.” Jawabku.

“Ya terserah, yang penting kan ditraktir. He…” tambah Seshi.


Bumi ingat tanggal ulang tahunku, apa Erka benar-benar lupa? Atau dia benar-benar tak peduli. Seharusnya aku sadar diri, Erka tak peduli denganku apalagi perhatian, jelas artinya dia gak punya perasaan apapun kepadaku. Lalu kenapa masih mengharapkanya bahkan ingin mengungkapkan perasaanku. Tapi aku pendam pikiran konyol itu atau semua keseriusanku akan dia anggap lelucon.

Aku buka jendela kamar. Langit masih berwarna biru pekat dengan diterangi gemerlap bintang-bintang dan burung-burung kecil pun belum ada yang terbangun untuk berkicau seakan pagi ini berjalan dengan sangat lambat. Merasa bosan, keluar rumah akan menyenangkan.

Aku membuka pintu dan cukup terheran karena melihat sosok seseorang yang aku kenal membelakangi rumah, namun hampir tak percaya, jangan-jangan ini hanya mimpi.

“Erka.” Sebutku ragu. Tubuh itu berbalik gugup dan benar tebakanku. Dia Erka.

“Ar,” Erka nampak terkejut sama sepertiku. “E, selamat ulang tahun ya!” ucapnya.

Sepagi ini dia di depan rumahku untuk mengucapkan “selamat ulang tahun”? aku sudah mandi dan merasa sangat segar, jadi gak mungkin ini mimpi.

“Kamu bukan hantu yang lagi nyamar kan?” tanyaku masih kurang yakin.

Erka tersenyum lebar, senyum manis khas miliknya. “Bukan!” tukasnya. Tanganya keluar dari saku jaket abu-abu yang ia kenakan dan mengulurkan benda di tangannya padaku. “Sebenarnya aku cuma mau ngasih ini.”

Aku terdiam beberapa saat karena masih tak percaya dengan pagi ini. Aku yakin ini bukan mimpi. Tapi kok bisa ya? Aku pikir dia gak peduli jadi gak mungkin banget kan dia di sini. Tapi…

“Mau jalan pagi gak Ar?” ajaknya sambil menggaruk kepala.

“Iya.” Jawabku. Aku segera pamit pada ibu untuk keluar rumah bersama Erka.

Pagi ini aku merasakan hal yang berbeda. Gak pernah disangka tapi aku mengalaminya. Cowok yang berjalan di sampingku ini benar-benar manis.

“Maaf ya kemarin aku gak gabung sama kalian.” Ujarnya merasa bersalah. “Kado mungilnya diterima dong.” Erka mengajukan benda di genggamannya.

“Iya, Terima kasih Erka.” Aku menerima kado mungil itu dengan riang. “Aku buka ya!” pamitku.

Erka mengangguk sambil tersenyum. Aku menarik ujung pita biru yang mengikat plastik kado bermotif bunga-bunga itu. “Bear!” mataku takjub dan bibirku rapat menyunggingkan senyum. “Erka tahu aku suka beruang?” Batinku bertanya.

“Sebenarnya aku cari yang warna biru, tapi gak ketemu sampai kemarin. Maaf ya kalau kurang bagus atau…”

“Bagus kok Ka, aku suka banget.” Aku buru-buru memotong penjelasan Erka. “Terima kasih Erka. Tapi kamu tahu dari mana aku suka Bear?”

“Ya taulah, aku kan perhatian sama kamu.” Ujarnya.

Erka, perhatian padaku. Seharusnya aku sadar itu. Aku memandangi boneka imut berwarna cokelat yang seukuran genggaman tangan. Benda mungil bukti perhatian Erka ini akan selalu aku jaga.

“Aku pilih yang kecil, supaya gampang kamu bawa. Jadi kalau kamu kangen aku. Kamu bisa lihat boneka itu. Kalau kamu gak keberatan bawa-bawanya.” Pesannya.

“Kalau aku gak kangen sama kamu gimana?” tanyaku bercanda. Erka hanya menanggapinya dengan senyum.


Hampir tiga puluh menit aku menunggu Arly kembali ke rumahnya, aku pikir  akan jadi orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun untuknya. Ternyata saat aku datang sepagi ini, pukul 5.30 kata ibunya dia pergi sama temannya. Siapa pula orang rajin yang datang lebih pagi dariku.

“Rama, ibu beliin nasi uduk ya?” tawar ibunya Arly.

“Gak usah bu, aku ini mau pulang kok.” Tolakku pelan. “Aku ada latihan basket. Jadi gak bisa nunggu lagi. Maaf ya bu.” Ucapku sungkan.

“Oh, maaf juga ya. Nunggu Arly lama-lama, tapi gak ketemu juga.”

“Gak apa-apa bu. Aku titip kadonya Bu buat dia.” Pesanku.

“Iya, iya.”

“Pulang dulu ya Bu.” Pamitku meninggalkan rumah Arly bersama sekotak harapan yang aku buhkus rapi. Semoga Arly senang menerima kado pemberian dariku.

Padahal aku ingin sekali menemuinya pagi ini. Mungkin memang bukan takdirku. Rasanya aku kurang puas, tapi Arly tak kunjung pulang. Ya sudahlah, mau gimana lagi.


Aku melihat sebuah kotak yang dibungkus kertas kado warna biru dengan cukup besar terletak anggun di atas meja ruang tamu. Merasa penasaran aku segera mendekati kotak itu.

“Itu kado dari Rama.” Seru mama yang tiba-tiba muncul. “ Tadi dia datang dan nunggu kamu cukup lama. Tapi kamu gak pulang-pulang, jadi dia yang pulang.” jelas mama yang sedang memegang teplon.

“Hemp.” Tanggapku. “Itu mama mau masak apa?”

“Oya, mama kan mau bikin nasi goreng spesial buat anak mama yang ulang tahun.” Ungkap mama menuju dapur dan memulai kesibukkannya.

Aku duduk tenang di hadapan kado dari sahabatku. Perlahan aku meraih dan membuka bungkus kado itu dengan berhati-hati agar tidak ada yang lecet sedikit pun. Aku menarik nafas panjang di tahap akhir pelepasan solasi pada kardusnya dan membuka kardus yang isinya kado untukku.

“Whowww…” aku gak nyangka isi kotaknya adalah komik Detective Conan dari seri pertama sampai seri terbaru dan gak ada satu seri pun yang terlongkap.

Rama, aku gak nyangka akan nerima kado sekeren ini. Aku Benar-benar senang dan gak tahu harus gimana.

“Arly..” seru Seshi yang memasuki rumahku. “Happy birtday…” ujarnya yang langsung memelukku. “Aku bawa kado buat kamu.” Gadis imut itu mengeluarkan kadonya untukku. “Ini kado dari siapa?” tanyanya melihat bungkus kado yang terkelupas.

Oo, kalau Seshi sampai tahu itu kado dari Rama, gimana perasaan dia? Aku takut dia cemburu.

“Kring-kring.” Bunyi lonceng sepeda dan bisa di tebak itu sepeda Bumi.

“Bumi!” Seshi histeris menyambut sahabatnya itu. Syukurlah kehadiran Bumi memberi waktu untukku menyingkirkan kado Rama dari hadapan Seshi.

“Arly.” Bumi datang dengan membentangkan poster Shinichi Kudo dan Ran Mouri di dadanya. Aku meraih poster itu dengan senyum terkembang. “Selamat Ulang Tahun.” Ucap Bumi sambil memberiku gantungan kunci berbentuk si detektif kecil Conan Edogawa.

“Terima kasih Bumi.” Ucapku menerima pemberian sahabatku. “Eh kado dari Seshi belum dibuka.” Aku meraih kado Seshi di meja dan membuka bungkusnya. “Lucu…” Seshi memberiku dompet berwarna biru dengan bordiran Bear warna putih. “Terima kasih Seshi.”


Selengkapnya: Daftar Episode Novel Ungkapan Dalam Hati

Jangan ketinggalan:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here