SHARE
Novel Anak SMP ungkapan dalam kalbu

Waktu lalu, saat melihat Bumi dihukum karena telat, aku berjanji pada diri sendiri untuk membantunya semampuku. Maka sebelum matahari terbit aku berangkat ke rumah Bumi untuk membantunya mengantar koran.

“Mending kamu pulang deh!” perintah Bumi seakan tidak senang dengan kehadiranku. “Kalau kamu bantuin aku, bisa-bisa kamu malah telat.”

“Kalau gitu kenapa kita buang waktu di sini? Ayo antar korannya atau kita bakal telat ke sekolah!” aku bergegas mengambil sebagian koran dari keranjang sepeda Bumi. “Kamu yang pimpin jalannya.” Pintaku karena tak tahu harus membagikan koran-koran ini ke mana.

Bumi hanya bisa pasrah menerima kehadiranku sambil menuntun jalan. Beberapa kali aku memergoki Bumi melihatku sambil tersenyum, aku cuma bisa ikut tersenyum sambil menggoes pedal sepeda.

Kamu tuh benar-benar sahabat aku Ar. Terima kasih banyak udah mau bantuin aku.” Ucapnya setelah semua koran kami habis.

“Jangan banyak-banyak terima kasihnya, nanti habis. Hhe…” jawabku dengan bercanda. “Okey, sekarang waktunya kita pulang dan ketemu lagi nanti di sekolah.”

Kami saling berpamitan dan kembali ke rumah masing-masing untuk berangkat sekolah. Senangnya bisa membantu.


Pagi ini Bumi tidak datang terlambat dan apa penyebabnya, Bumi baru saja menceritakannya padaku dan Erka dengan sangat sumringah.

“Pokoknya dia the best banget dah.” Puji Bumi untuk Arly.

Arly, dia memang selalu punya cara sendiri untuk membantu orang lain. Arly ada di dekatku, tapi entah kenapa aku semakin merindukannya. Selalu merindukan gadis itu, yang sekarang sedang menuju ke arahku dengan berlari.

“Hai, senang deh bisa ngeliat kalian lengkap di pagi ini.” Ujarnya ceria,

“Ar, kemarin pagi aku ke rumah kamu, tapi kamu udah gak ada. Ke mana sih?” sewotku.

“Ada deh.. tapi aku senang banget sama kado yang kamu kasih, kalau aku jenuh, tinggal baca komik itu. Walaupun aku udah hapal ceritanya, aku gak akan Bosen deh.” Jawab Arly.

“Kado dari siapa yang paling kamu suka Ar?” tanya Bumi.

“Dari…” satu kata yang membuatku penasaran. “Mau tau aja..” jawabnya sok misterius. Tapi mata Arly sangat berbinar memandang Erka yang juga sedang melihatnya. Arly, apa maksudnya dia sangat menyukai kado dari Erka? Kado apa yang Erka berikan untuk Arly?

Aku tanyakan pada Erka sepulang sekolah mengenai kado yang ia berikan pada Arly. Erka tidak menjawab dan malah mengalihkan pembicaraan dengan membahas latihan basket. Cukup bagiku menyadari semuanya. Erka menyukai Arly dan sebaliknya. Aku harus bagaimana?


Aku mencubit-cubit pipi si mungil bear yang Erka hadiahkan untukku. Sejenak aku teringat perkataan Erka saat kami di perpustakaan tadi waktu jam istirahat.

“Ar, tolong jangan tunjukin perasaan kamu ke aku di depan Rama.” Katanya.

“Maksudnya?”

“Kita sahabatan, dan selamanya akan seperti itu.” Ucapnya sebelum meninggalkanku.

Aku masih tidak bisa mencerna kata-katanya, semua tahu kita bersahabat, lalu kenapa? Apa ada yang salah? Bear di genggamanku tersenyum dengan indah dan senyuman itu mengingtkanku pada pemberinya. Ada apa sih dengannya?

“Emang ada yang salah ya dengan sikapku ke Erka?” tanyaku pada Bumi saat mendampinginya membagikan koran.

Bumi mengayuh sepedanya sambil mengerutkan kening seolah ia berpikir jauh entah ke mana. Tak lama kemudian ia menjawab. “Gak ada Ar. Tapi kayaknya Erka pernah nanyain hal yang sama deh.” Aku menatap tak mengerti. “eh bukan deh.” Sergah Bumi cepat-cepat. “Dia pernah ngerasa kamu ngehindarin dia.”

Menghindar dari Erka? Ya, aku gak bisa mempungkiri hal itu. Aku menengok pada bear yang selalu aku bawa kemanapun. Untuk beberapa saat aku memang menghindari Erka, meski itu bukan maksudku. Di saat-saat lainnya, aku tak pernah bisa lepas dari Erka. Aku merasakan sesuatu yang tak akan bisa dijelaskan padanya. Ada pula perasaan yang mendesak agar menjelaskan rasa abstrak itu.

“Ar, kamu mau tiap hari nemenin aku nganterin koran?” Tanya Bumi setelah pekerjaan kami selesai.

“Selama aku bisa, kenapa enggak?” kataku mantap.

Bumi tersenyum lepas. “Gimana kalau mulai besok, kita berangkat sekolah bareng. Jadi habis kita nganter koran, kita gak usah pulang. langsung ke sekolah.” Cetus Bumi.

“Wah, ide bagus tuh Bum, jadi kita bisa ngehemat waktu juga.” Sambutku menanggapi.


“Dia itu lebih dari sekedar sahabat buat aku.” Bumi memuji Arly lagi saat kita keluar dari kantin.

“Dari kemarin ngomongin Arly terus, kamu gak bosen Mi?” tanya Erka.

“Gak akan ada kata bosen untuk Arly.” Jawab Bumi.

“Kamu suka sama dia?” tanyaku. Bumi memandangku naif. “semua orang aja sekalian suka sama dia.” Ketusku sebelum Bumi jawab.

“Kamu kenapa Ram, kok mikir gitu?” tanya Bumi balik.

“Dia itu lebih dari sekedar sahabat buat kamu, apa maksudnya?” tanyaku lagi bernada agak tinggi.

“Ya, lebih dari sahabat.. bisa adek, kakak atau..”

“Terserahlah, asal jangan nusuk dari belakang.” tandasku sambil meninggalkan kedua sahabatku itu.

Aku memasuki kelas dengan sedikit emosi. Lebih dari sekedar sahabat, bisa adik, kakak, atau orang yang kita sukai. Seperti itu Arly bagi Bumi, lebih dari sekedar sahabat. Mungkin juga Arly menganggap Erka seperti itu dan sebaliknya. Sementara aku hanya sekedar sahabat bagi Arly. Sekedar sahabat.

“Rama!” tiba- tiba Arly sudah ada di kelasku. “lho kamu kenapa Ram? Kok tampangnya jutek gitu?” heran Arly.

“Karena kamu. Puas?”

“Lho? Aku ke sini cuma mau ngajak kamu ke makam Kinari. Kalau aku ganggu, maaf!” ujarnya seraya pergi dariku.

Bahkan sekarang dia meninggalkanku. Aku ini kenapa sih? Kenapa bersikap seperti itu? Tapi benarkan, semua karena Arly. Gadis itu selalu negaduk-ngaduk perasaan. Aku harus mengejarnya, setidaknya minta maaf karena sikapku yang tidak jelas barusan.

Aku mencari Arly di kelasnya tidak ditemukan. Aku menuju tempat favoritnya, yaitu perpustakaan. Langkahku langsung terhenti ketika melihat Erka memasuki perpustakaan. Entah kenapa aku jadi merasa agak jenuh dengan kehadiran Erka. Di mana ada aku, akan ada Erka, dan jika Arly di dekatku, dia juga akan di dekat Erka.


Langkahku gontai kembali menuju kelas membayangkan Arly dan Erka sedang bersama di perpustakaan. Sebaiknya aku ke kelas Bumi terlebih dahulu untuk meminta maaf atas sikap yang berlebihan tadi. Tapi sebelum memasuki kelas Bumi, aku mendengar suaranya yang sedang menceritakan aku.

“Ya bisa aja kan, adik, kakak, atau ibu. Itu lebih dari sahabatkan? Tapi dia udah ke bawa emosi duluan dan mikirnya aku suka sama kamu dan aku bakal jadi saingan dia. Sampai bilang ‘asal jangan nusuk dari belakang’. Padahal selama ini, yang jadi saingan terberatku siapa? Dia.”

“Tapi kan Rama belum tentu suka sama Seshi.” Suara Arly menanggapi. Aku mendegarkan mereka di balik jendela.

“Ya, Rama kan suka sama kamu, tapi tetap aja, Seshi sukanya sama dia.”

“Terus?”

“Dia cemburuan banget, mendingan kamu jangan sama dia deh.” Saran Bumi membuatku hampir emosi lagi. “Kasihan.”

“Lho, kenapa?”

“Karena, nanti ya kalau udah berumah tangga, saat dia cemburu, dia akan nyekek leher kamu, tapi sayangnya sebelum dia bisa nyekek leher kamu. Dia udah kamu banting duluan sampai tulangnya patah-patah. Kasihan kan dia?” cetus Bumi.

“Hhahahaha… jadi kamu kasihan sama dia? Bukan sama aku..” Arly terbahak.

Aku jadi senyum-senyum sendiri membayangkannya. Ada sedikit rasa lega karena aku tahu Arly di kelas Bumi, bukan bersama Erka di perpustakaan. Perkataan Bumi sangat menyudutkanku. Aku cemburuan dan Bumi memang benar. Aku memasuki kelas Bumi dan menghadap ke kedua sahabatku.

“Aku minta maaf kalau tadi aku bersikap salah.” Ucapku penuh sesal. Sejenak mereka terdiam memandangku, kemudian tersenyum lebar.

“Gak apa-apa sob, kita juga tadi habis ngomongin kamu kok.” Lepas Bumi sambil merangkulku.

“Iya, tadi aku dengar kok.”

“Ups, Maaf..” Arly minta maaf balik.

“Udah maafin aja, dari pada dibanting.” Canda Bumi.

Kami tertawa bersama.


Untuk beberapa saat aku memang menghindarinya,

meski itu bukan maksudku.

Di saat-saat lain, aku tak pernah bisa lepas darinya.

Aku merasakan sesuatu yang tak akan bisa dijelaskan.

Ada pula perasaan yang mendesakagar menjelaskan

rasa abstrak itu.

Selengkapnya: Daftar Isi Episode Novel Online UDQ

Tertarik baca:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here