novel teenlit cinta ungkapan dalam hati

Agar seimbang, atom-atom membentuk ikatan kimia untuk mempertahankan keadaan. Begitu pun kita seharusnya.

Sejak kepergian Nai, keluarga Nai pindah keluar negeri. Aku mengerti, mungkin mereka merasakan luka yang mendalam lebih dari yang kurasakan. Untuk beberapa saat aku terpaku di pusara Kinari. Banyak hal yang membuatku ingin berbagi padanya, tapi kadang merasa seperti orang bodoh yang berpikir Nai masih ada. Nai akan selalu ada bagiku, di hatiku.

“Ar, kalau aku meninggal, kamu juga harus sering ke makam aku ya!” pinta Rama.

“Kalau aku juga masih hidup ya.” Tanggapku. “Oya Ram, kamu bisa ngajarin aku Matematika gak?” aku ingat pelajaranku yang  cukup sulit. “kamu kan IPA, pasti lebih ngerti.”

“Boleh, nanti malam aku ke rumah kamu.” Janji Rama.

Sesuai janjinya, Rama datang untuk mengajarkanku matematika dan berselang satu jam kemudian ia hendak pulang.

“Terima kasih ya Ram, udah mau repot-repot ngajarin aku.” Ucapku mengirinya ke luar rumah.

“Sama-sama Ar.” Sejenak kami terhenti di pagar rumah. “Ar, sehabis lulus nanti aku akan keluar kota nyusul orang tuaku dan melanjutkan kuliah di sana.”

Deg, kata-kata Rama seakan sedang mengucapkan salam perpisahan. Aku merasa ada segores perasaan yang membuat sedikit tak nyaman.

“Wah, kamu pasti senang, bisa kumpul sama orang tua kamu.” Kataku sambil menyembunyikan rasa yang cukup sesak di dadaku.

“Iya.”

Bahkan aku merasa Rama pun tak nyaman dengan wacana yang baru saja ia sampaikan.

“Aku pulang Ar.” Pamitnya sambil membuka pintu pagar.

Aku kembali ke dalam rumah. Mendekap di kamar dan berpikir sejenak. Rama akan ke luar kota dan melanjutkan kuliahnya di sana. Itu artinya dia akan pergi dalam jangka waktu yang lama. Aku pasti akan sangat merindukannya, sering merindukannya.


Waktu ujian semakin dekat, kami semakin sibuk dengan pelajaran kami dan belajar dengan cara masing-masing. Aku dan yang lain jadi jarang berkumpul kalau di luar sekolah. Di sekolah juga kita hanya kumpul di kantin atau di perpustakaan dan itu pun kita sibuk dengan buku pelajaran masing-masing.

Sebenarnya aku mulai jenuh dengan keadaan ini. Kenapa kita harus fokus sama buku sih? Kalau di perpustakaan sih wajar. Ini di kantin, yang seharusnya kita pegang sendok atau makanan. Aku melihat ke murid lain, mereka tidak seserius ini.

“Ram, kenapa atom-atom membentuk ikatan kimia?” tanya Bumi yang iseng buka-buka buku catatan kimia Rama.

Erka baru datang bergabung dengan kami setelah membeli sebungkus roti.

“Untuk mempertahankan suatu keadaan.” Jawab Rama yang tetap fokus sama buku biologi yang ia baca.

Bumi memandang Erka dengan tatapan tak mengerti. Mungkin di otak Bumi sekarang sedang banyak tanda tanya yang heran dengan jawaban Rama. Erka malah menyodorkan rotinya yang ditolak halus oleh Bumi. “Kenyang.” Bisik Bumi.

“Berarti, kayak kita yang membentuk ikatan persahabatan.” Cetusku.

“Maksudnya kimia itu persahabatan?” tanya Seshi Polos.

Suasana hening sejenak dan tak lama kami terbahak karena pertanyaan Seshi. Kecuali Rama, kita tak bisa menahan tawa karena tampang Seshi yang kali ini benar-benar innocence.

“Sob, ayolah serius. Ujian udah di depan mata.” Pinta Rama.

“Gak usah di bawa tegang juga kali Ram.” Jawab Erka.

Seakan tidak mau menghiraukan kami, Rama kembali membuka bukunya hingga wajahnya tertutupi. Suasana menjadi benar-benar hening dan kami hanya bisa saling memandang satu sama lain. Bumi melepas buku kimia Rama yang sempat di tangannya dan tak lama ia membca buku geografinya. Seshi pun kembali membaca buku sosiologinya. Erka menawarkan roti pada ku tanpa suara, aku menggelengkan kepala dan mulai membuka kamus bahasa Inggris.

Atom-atom membentuk ikatan kimia untuk mempertahankan keadaan, agar seimbang bukan? Begitu pun kita seharusnya.


Ujian tinggal menghitung hari, tapi aku merasa belum siap dengan ujian itu. Bukan soal-soal ujian yang aku khawatirkan, perpisahanku dengan sahabatku yang selama ini belum pernah terpikirkan.

Membayangkan jauh dari para sahabatku saja itu sulit. Apalagi menjalaninya? Seharusnya aku senang, aku bisa bersama kedua orang tuaku seperti yang Arly bilang. Aku mulai memutar otak untuk mendewasakan pikiranku. Ini sebenarnya bukan hal yang sulit, aku bukan akan meningggalkan mereka. Hanya pergi untuk sementara waktu dan kalau liburan, aku tentu akan bisa kembali pada mereka.

“Ram, boleh pinjam catatan fisika?” tanya Dean di depan meja ku. Aku mengangguk dan memberikan buku catatanku pada gadis di hadapanku.

“Dean, Rama, kalian gak ikut ngambil bocoran?” tanya Calvin dengan suara pelan.

“Bocoran?” heran Dean.

“Ussst, ini rahasia. Anak IPA dapat bocoran ujian. Kalian bisa minta ke Gio.” Jelas Calvin sambil berlalu.

Aku dan Dean menatap heran. Dapat ‘bocoran ujian’ dari mana? Kenapa bisa ada ‘bocoran ujian’ di sekolah?

“Lebih baik jangan deh Ram, belum tentu kan benar.” Saran Dean sambil membawa buku catatanku.

Terlepas dari salah ataupun benar, aku tidak akan sudi mengkonsumsi bocoran itu. Aku bukan tipe laki-laki pesimis yang tidak percaya pada diriku sendiri. Aku bangkit dari tempat dudukku dan melihat kelas sobatku dari depan kelas. Jika di kelasku dapat bocoran, apa mereka juga mendapatkannya dan bagaimana tanggapan mereka dengan hal ini?


Daftar Isi: Episode Lengkap Novel Online Remaja SMA UDQ

Baca juga: Faktor Majunya Pendidikan Pondok Modern Gontor yang Harus Dicontoh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here