Novel: UDQ #3 Comblang

SHARE
Novel Teenlit Ungkapan Dalam Qalbu

“Please Ar.” Pinta Raia ketika kami berpapasan didepan kelasku.

Gadis cantik yang pernah menjadi teman sebangkuku waktu di kelas X ini mendesak agar aku mau menjadi mak comblang untuknya dan Erka. Padahal kalau boleh jujur, sebenarnya aku juga suka dengan Erka. Tapi gak benar-benar suka sih.

Ya, mungkin cuma ketertarikan sesaat. Nyomblangin Erka dengan Raia kayaknya bukan hal yang sulit. Raia cantik, siapa yang bisa menolaknya.

“Aku usahain ya.” Jawabku semampunya.

“Oke, makasih Arlyiiiii. Sekarang aku ke kelas yaaa.” Pamitnya setelah mencubit kedua pipiku dengan gemas.

Sejenak aku tertegun di balkon depan kelas. Bukan hanya Raia yang menyukai Erka, teman-teman yang lain pun minta dicomblangin dengan Erka dan aku menolaknya, tapi karna Raia termasuk teman dekatku, aku jadi tak bisa menolak permintaan itu.

Lalu bagaimana caranya ya? Sementara tadi Raia sendiri yang cerita kalau Erka sempat menolak ajakannya.

“Kayaknya ada yang nikmat banget nih bengongnya!” sapa Erka yang tiba-tiba ada di sampingku.

“Aku bukannya bengong, cuma lagi mikir aja. Kok kamu bisa ya nolak ajakan Raia. Biasanya cowok lain takut menyesal lho, nolak ajakan cewek secantik Raia.” Jawabku mengeluarkan isi pikiran.

“Masa sih? Tapi aku biasa aja tuh, gak ngerasa nyesal gitu ya? Lagi pula kesannya kok aku hebat banget? Sampai aku nolak jalan sama Raia aja hampir semua orang tahu?”

Aku terdiam.

Aku kira soal ini hanya aku saja yang tahu, tapi ternyata banyak ya? Memang cukup mengejutkan sih kalau ada orang yang bisa menolak Raia.

Erka memang berbeda, sepertinya dia bukan laki-laki dangkal yang suka perempuan karena fisiknya dan dia laki-laki pertama yang membuat jantungku merasa berdebar.

Ya, jantungku selalu merasa berdebar saat bersamanya, tapi akupun merasa begitu nyaman. Perasaan apa ini?

“Bengong bukan hobi kamu kan?” Erka menjentikan jarinya di depan wajahku. “Oya, kamu gak lupa kan kalau hari ini kita ulangan?”

“Enggak donk, aku emang orang yang agak pelupa, tapi soal pelajaran aku jarang lupanya.” Jawabku sambil kami memasuki kelas

“Bagus kayak gitu, jangan kayak Bumi. Padahal dia tahu ada ulangan, bukannya belajar tapi malah sibuk bikin contekan.” Ungkap Erka menceritakan teman sebangkunya.

“Eh. Jangan salah paham dulu.” Bumi yang merasa namanya disebut langsung menyambung. “Itu salah satu metodeku. Namanya ‘belajar dari contekan’. Jadi, waktu kita bikin contekan, sebenarnya kita buka buku juga, baca pelajar juga, di tulis ulang pula, itu belajar kan? Nah saat ulangan tiba, kita gak perlu lagi nyontek, karna apa? Karena kita udah belajar!”

Hebat sekali pikiran Bumi, bahkan Erka sampai lupa menutup mulutnya saat mendengarkan penjelasan Bumi barusan, ataupun Seshi yang tak berkedip saat Bumi menjelaskan metodenya itu. Dan aku hanya bisa berdecak kagum untuk Bumi.

“Aku kira kamu bikin contekan buat dilihat waktu ujian lho Bum.” Pikir Seshi.

“Ya kalau lupa baru lihat contekannya.” Jawab Bumi.

“Itu sama aja bohong dong!” Erka menoyor pelan kepala Bumi.

“Aku aja yang pelupa gak kepikiran nyontek!” tambahku.

“Namanya juga usaha.” Dalih Bumi.

“Kalau menyontek kamu anggap usaha, kamu letakkan dimana ‘harga diri’ kamu sebagai pelajar?” kataku penuh senyum, semoga Bumi tidak merasa tersinggung dan marah padaku.


Semua tugas rumah telah aku kerjakan tadi siang. Jika belajar sudah, maka saatnya aku membaca novel sambil berharap mendapat ide agar bisa menjodohkan Raia dengan Erka.

Setiap gadis pasti ingin memenangkan perasaan laki-laki yang dicintainya, tapi jika Raia tidak serius dengan perasaannya kepada Erka, bukankah itu akan menyakitkan Erka nanti. Hah, mungkin ini karena terbawa novel-novel yang aku baca.

“Kalau kamu mikirin cara nyomblangin Raia dengan Erka, aku peringati, biasanya orang yang mau dicomblangin itu bakal jatuh cinta ke mak comblangnya.”

“Nai!” aku melihat sahabatku itu di ambang pintu kamar.

“Mamaku bikin kue, terus aku disuruh anterin ke sini.” Nai memasuki kamar. “Kamu serius mau nyomblangin mereka?”

“Aku cuma bisa usaha, meski gak tahu hasilnya gimana.”

“Raia pasti akan kecewa berat kalau kamu gagal nyomblangin dia. Kamu tahu kan gimana sifat Raia. Dia akan berpikir macam-macam dan nyalahin kamu.”

“Kalau ada rasa percaya, kenapa harus ada kecewa?”

“Karena dia berpikir tidak akan dikecewakan sebab itu dia percaya.”

Kata-kata Kinari benar, Raia akan marah jika penjodohan ini gagal karena percaya aku tidak akan mengecewakannya. Jadi harus bagaimana? Seakan aku gak punya pilihan selain berhasil.

“Udah jangan di pikirin, niat kamu kan tulus mau bantu Raia, kalau gagal dan dia marah, biarin aja. Aku akan selalu ada buat kamu Ar.”

Kinari, dia sangat menghargaiku. Aku juga sangat menyayanginya, semoga ia tak pernah bosan menjadi sahabatku dan juga my souldmate fight.


Klik daftar isi: Novel Ungkapan Dalam Qalbu

Silakan baca:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here