novel teenlit cinta ungkapan dalam hati

Sesaat aku mau milikin kamu seutuhnya, tapi aku gak akan bisa.
Sekalipun wajah kamu selalu di pandanganku aku akan gambar wajah lain supaya perasaanku tetap tersembunyi dengan aman.

“Dingin deh.” Keluh Seshi sambil bangun dari rebahannya.

“Yaudah yuk masuk.” Ajak Bumi.

“Kalian duluan aja, kita masih mau di sini. Iya kan Ar?” Erka meminta persetujuan.

“Eh,” aku sedikit bingung. “iya.” Jawabku akhirnya.

Sebenarnya sih aku gak masalah mau masuk atau tetap di sini, tapi Erka seakan memintaku dan aku seolah tak bisa menolaknya.

Bumi dan Seshi meninggalkan kami berdua. Aku bangun Erka pun bangun. Kami duduk berdua masih melihat bintang. Tiba-tiba jantungku berdegup cepat, cepat secepat-cepatnya.

“Ar..” Erka memanggilku.

Aku menoleh ke arahnya dan dia masih melihat bintang. Wajahnya, bahkan cahaya malam tak mampu membias kemanisan mahluk ini.

“Kayaknya baru kemaren aku sama kamu makan permen karet bareng di depan kelas.” Erka membuka tangannya dan ada dua buah permen karet. Aku mengambilnya satu. Erka, tidak sedikitpun aku melupakan saat saat kami bersama.

“iya, aku juga inget waktu kita berempat ngobrol di kelas, terus ditegur guru.” Ujarku menambahkan. Bahkan aku ingat saat aku nunggu dia karena aku ingin mentraktir di hari ulang tahunku namun keesokannya ternyata dia orang pertama yang mengucapka selamat ulang tahun padaku. “bisa gak ya kita kumpul lagi terus main basket bareng.” Tambahku.

“Bisa gak ya kali ini kita bahas tentang aku dan kamu aja?” Erka mengarahkan pandangannya padaku.

Oh makhluk ini, dia membuat jantungku berdegup kecang lebih cepat berkali-kali lipat dari sebelumnya. Apa aku sedang kena serangan jantung?

“Aku senang Ar waktu kenal kamu, apa lagi kita bisa dekat.” Erka tak sedang meminta pendapatku. “Sebelumnya aku cuma tahu kamu dari cerita Rama, dia selalu cerita tentang kamu. Gak aku sangka ternyata kita sekelas di kelas sebelas kamu ingat waktu aku salah ngasih buku ke kamu? Sejujurnya itu sengaja supaya kamu bisa sedikit menyadari keberadaanku. Aku ngerasa ada sesuatu yang beda waktu sama kamu. Dan itu terasa banget waktu kamu jadian sama kak Dhani.”

Erka, kemanakah arah pembicaraanya?

“Waktu kamu berusaha nyomblangin aku sama Raia, itu benar-benar buat aku begah. Untuk pertama kalinya aku datang lihat kamu latihan tapi aku sadar, sekalipun aku ada cuma nemenin Rama, waktu kamu ketiduran di jam Seni Budaya sampai pulang, sebenarnya aku mau nunggu kamu tapi Rama datang dan aku sadar yang seharusnya nunggu di situ bukannya aku tapi Rama, makanya aku pergi. Melihat kamu sama Rama, aku tersenyum puas tapi juga merasa sesak. Waktu kamu sedih karena kepergian Kinari, aku ngerasain lebih sedih karena kesedihan kamu. Entah aku harus bilang apa untuk perasaan ini. Aku cuma mau jujur kalau aku gak ingin kehilangan kamu.”

Apa yang Erka katakan itu? Aku harus bicara apa?

“Waktu di kelas itu, sebenarnya aku gak bermaksud nyakitin perasaan kamu. Tapi bahkan sampai sekarang aku gak ngerti apa yang harus aku lakukan.”

“Erka..”

“Apa ini cinta Ar? Apa cinta selalu rumit kayak gini?”

Aku menatap dalam cowok ini, aku lihat mata itu di balik kacamatanya. Tatapannya menjelaskan lebih dari yang ia bicarakan. Seakan aku mengerti semua yang ia rasakan namun aku jadi bingung dengan yang aku rasakan kini. Bicaralah terus Erka agar aku mampu memahami semuanya.

“Harusnya aku gak kayak gini ke kamu. Ini cuma akan jadi beban buat kamu. Maafin aku Ar.” Erka tiba-tiba bangkit dan berpaling dariku.

“Erka, tolong jangan tinggalin aku dulu.” Cegahku sambil bangkit. “Tolong jangan kayak gini! Semua yang akan jadi tambah rumit kalau kamu pergi.”

Kami tertegun. Cukup lama sampai ia berbalik padaku.

“aku benar-benar gak tahu apa yang harus aku lakuin. Sesaat aku mau milikin kamu seutuhnya. tapi aku gak akan bisa. Sekalipun wajah kamu selalu di pandanganku aku akan gambar wajah lain supaya perasaanku tetap tersembunyi dengan aman. Aku gak boleh egois kan? Aku gak ingin ngehancurin semuanya, persahabatan penting banget buat aku. Semula aku pikir nyembunyiin perasaan ini mudah. Tapi nyatanya sulit, sulit, sulit.”

“Erka..”

“Ar, tolong. Kamu pasti ngerti yang sebenarnya. Tolong maafin aku. Tolong lupain aja apa yang aku bilang tadi, tolong lupain aja semuanya, tolong anggap aja gak terjadi apapun antara kita, tolong Ar, tolong maafin aku.” Kata-kata Erka itu lansung menohok jantungku. Apa maksudnya?

Aku ingin minta penjelasan lebih tapi Erka meninggalkanku sebelum aku mengucapkan satu kata padanya. Air mataku lumer membiarkan ia menjauh. Bagaimana bisa aku lupain yang dia bilang tadi, bagaimana cara lupain semua, bagai mana anggap gak terjadi apapun? Tapi dia malah minta maaf sementara dia obat dari luka ini.


Seharusnya aku gak kembali, tapi aku malah sengaja sembunyi dan dengar semuanya. Semua yang Erka rasakan sebenarnya. Akulah saksi apa yang terjadi pada Arly dan Erka malam ini, saksi bahwa mereka memiliki rasa yang sama tapi aku merasa jadi penghalang diantara mereka. Dimana posisiku yang sebenarnya sekarang.

Aku lihat pilu di mata Erka tapi aku malah terdiam di sini sementara Arly mulai menangis disana. haruskah aku melihat air matanya mengalir? Tapi aku rasa mendatanginya tidak akan mengurangi kesedihannya. Membiarkan ia sendiri itu lebih baik, karena dia pasti ingin sendiri.

Erka tidak aku temukan di kamarnya, aku cari ke toilet pun kosong. Bingung sendiri sampai aku pikir percuma mencari dia. Aku menjadi kesal dan geram entah pada siapa aku hanya bisa melampiaskannya dengan menendang-nendang debu.

“Rama.” Suara Erka memanggilku.

Aku menoleh mencari sumber suara, aku menemukan sosok itu tengah bersandar pada dinding. Aku mendatangi sahabatku yang lesu itu.

“Apa kamu mau nangis?” tanyaku. Ia meggeleng. “nangis aja lagi. Ngeluarin air mata bukan berati cengeng. Gak perlu gengsi.”

“Bukan gengsi, air mata rasanya beku waktu sadar dia lagi terluka.”

“Terus gimana dengan luka kamu sendiri?”

“Aku gak terluka, tapi aku yang melukai.”

“Maafin ak..”

“Ram,” Erka tiba-tiba memotong ucapanku. “kita bakal terus sahabatan kan?”

Aku tanpa ragu mengangguk. Lebih pentingkah persahabatan dari pada perasaannya? Apa yang yang ada di otaknya? Ia benar-benar menyindirku, aku membiarkan perasaanku dalam ke-egoisan sementara ia memendam persaannya untuk menjaga persahabatan ini.

Dia sangat menyukai Arly sampai wajah gadis itu tak lepas dari pandangnya, tapi dia gak akan pernah melukis wajah Arly meski ia tahu persis setiap gores raut wajah itu. Aku baru benar-benar mengerti kenapa ia menggambar sosok ran mouri, dan kenapa gambar itu sangat banyak di lemarinya. Dia terlalu takut untuk mengakui perasaannya.

Seharusnya aku tidak pernah mengusik rahasianya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here