Novel: UDQ #35 Dalam Perasaan

Kenapa masih enggan aku merelakanmu?
Egoku teramat besar sebab rasaku pun sangat luas.
Aku tak bisa bahagia melihatmu terluka
dan aku tak yakin akan bahagia jika kau bahagia dengan yang lain.

Rama

Mentari rasanya cepat sekali terbit, namun rasa pedih ini tak juga ikut bergulir bersama rembulan yang tenggelam. Aku berusaha menyembunyikan pilu ini dari semuanya, lihatlah aku terus tersenyum, kukobarkan semangat seterik mentari di atmosfer yang masih berkabut, bahkan aku dapat bersikap biasa pada Erka seolah tidak terjadi apapun semalam. Sesuai permintaannya tapi aku tak akan pernah bisa menyembunyikan ini dari qalbuku sendiri, karena inilah yang kurasa.

“Semalam dia antar aku sampai depan kamar.” Ungkap Seshi saat kami berjalan menuju halaman hotel untuk berkumpul dengan yang lain. “Sejujurnya aku lagi takut kehilangan dia, tapi dia gak pernah ungkapin persaannya ke aku, semua cuma sebatas klise.”

“Bumi?” aku mencoba memastikan. Seshi mengangguk namun lesu. “Apa setiap perasaan itu harus diungkapin?” tanyaku.

“Iyalah, kalau engga gimana kita tahu perasaannya yang sebenarnya?”

            Teg, seolah ada yang melempar batu tepat ke jantungku. Kenaifan Seshi haruskah aku benarkan?

            “Aku benar-benar takut kehilangan dia, tapi aku juga takut kalau yang aku rasaain ini cuma rasaku sendiri.” Akhirnya Seshi mulai mengakui perasaannya pada Bumi, beruntungnya gadis di sampingku ini karena cintanya tidak sepihak. “Aku pikir Bumi suka sama aku, bukan sekedar sebagai sehabat. Tapi kenapa dia gak pernah bilang itu.”

            “Sebenarnya dia udah pernah ungkapin semuanya, tapi saat itu hati kamu masih tertutup dan seakan gak ada celah buat dia jadi kamu gak dengar ungkapan itu.”

            Seshi tiba-tiba tertegun kemudian menatapku serius.

            “Apa aku udah kehilangan dia? Apa perasaannya udah pergi saat aku gak mau dengar dia?” tanya Seshi. Kali ini dia nampak panik, tangannya menggengamku erat.  “Gak Ses, karena dia selalu nunggu kamu.” Jawabku.


Pukul 7 pagi kami, warga sekolah berkumpul di halaman belakang hotel untuk berolahraga sejenak dan dewan guru memberikan intruksi yang harus kami taati karena pukul 9 nanti kita akan meninggalkan hotel ini untuk pulang.

            Sebelumnya aku merasa khawatir dengan keadaan Arly tapi tadi aku menemukannya sangat ceria saat aku dan Erka menyapanya.

“Pagiii.. kalian udah mau ngumpul ya? Aku cari Seshi dulu, nanti ketemuan di sana ya.”

Mungkin sebernanya ia sedang menyembunyikan luka, selain menghargai profesional – nya aku hanya bisa berdoa agar ia tetap tegar.

Sebaliknya Erka malah terliahat kagok saat meliahat Arly. Namun perlahan sikap itu sirna saat kami ber5 kumpul setelah senam.

“Kayaknya kita gak punya sisa waktu yang banyak deh sebelum kita akan pulang.” Ujar Arly sambil membagikan sebotol air mineral pada aku, Erka, Seshi dan Bumi.

“lima belas menit lagi kita upacara pelepasan. Ya cukuplah untuk istirahat.” Tanggapku saat liat jam tangan.

“Bumi, jadi tolong jangan buang waktu.” Arly melirik Bumi seakan memberi isyarat.

Sayangnya Bumi tidak tanggap dengan maksud Arly. Loper Koran yang lagi cuti ini malah melongo.

“Seshi, apa kami harus pergi?” tanya Erka seakan mendukung Arly.

Sepertinya Seshi geram dengan ketidak pekaan Bumi, jadi sebelum kami pergi, Seshi justru meninggalkan kami dengan tampang jengkel.

“Kejar Bum..” Titah Erka.

“kejar!” ujarku

Bumi masih melongo polos tak mengerti.

“Kejar atau kamu kehilangan dia!” kali ini Arly berseru.

Bumi langsung bangkit mengejar gadis pujaannya. Tinggalah aku bersama Arly dan Erka.

“Sarapan yuuuk, laper nih!” Arly mengusap-usap perutnya.

“Eh aku punya roti.” Erka merogoh kantong celana basket yang ia kenakan.

“Makasih.” Arly buru-buru membuka bungkus roti dan membagi roti menjadi tiga bagian, dan dibagi rata pada aku dan Erka.

Gadis ini tak menunjukkan sedikitpun kesedihannya, aku benar-benar kagum pada ketangguhanya. “Ram, Erka kan udah ngasih roti. Kamu dong traktir bubur ayam. Nanti aku kasih kalian permen deh.”


Ini benar-benar menyakitkan, bodoh, konyol. Bagaimana aku bisa melupakan semuanya. Aku ingat saat ia salah memberi buku, saat ia kaget di bawah meja, saat ia tiba-tiba datang di latihan silatku, saat kami becanda, saat ia mengikutiku dari rumah Rama dan mengajakku ke lapangan. Saat kita makan permen karet bersama, saat ia memberiku gambar conan edogawa, saat dia mengikutiku mengejar pencopet, saat sampai kemarin dan saat dia bilang Bencilah aku, jika dengan itu kamu akan selalu mengingatku.” Dia mudah saja bicara, selalu cuma berkata dan kata-katanya malah semakin jelas terniang di telingaku.

            “Maaf kalau aku membuatmu mencintaiku, segeralah lupakan rasa itu kalau aku hanya akan menyakitimu.”

  Aaarrrrgh, aku benar-benar muak dengan ini tapi tak bisa berbuat apapun selain menangis sendirian. Aku benar-benar ringkih sementara harus tetap tangguh dihadapan semua orang. Aku tidak sekuat itu Erka, bisa kau dengar ini? Tidak sekuat yang kamu pinta. Aku cuma gadis biasa yang akan menangis kalau merasa terluka. Apa kamu paham?

Arly, kamu di dalam?” suara Seshi terdengar dari luar. “lima belas menit lagi busnya berangkat. Kamu masih lama?”

            “masih mules Ses,” aku menyalakan keran air di toilet. “sebentar lagi aku nyusul, kamu duluan aja.” Pintaku. Aku menarik nafas panjang kemudian mencuci muka. Berharap tidak ada yang menyadari kalau aku habis menangis.

            Saat membuka pintu toilet tiba-tiba Seshi langsung mendekapku. Gadis ini membuatku sangat terkejut karena aku pikir ia sudah pergi.

            “maafin aku ar, aku malah sibuk sendiri dengan persaanku padahal kamu lagi sedih dan aku benar-benar gak sadar itu.”

            “Hei, aku baik-baik aja.” Aku melepas dekapan Seshi.

            “bohong, aku tadi dengar kamu nangis di dalam, dan mata kamu ini, walaupun kamu cuci muka. Tapi keliatan Ar, kamu habis nangis. Tolong jangan bohong ke aku. Kamu kenapa?”

            Aku menghela nafas.

            “tolong jangan tanya itu, jangan bahas ini atau aku akan tambah nangis. Tolong ses, bantu aku nyembunyiin kesedihan ini.” Gadis di hadapanku menatap dalam seolah ia menelisik qalbu sahabatnya. “Ok.” Seshi menarik nafas kemudian mencubit pipiku.


Dari dalam bus, lewat jendela bus aku melihat ia yang tertegun duduk di dalam busnya. Seakan ia tak peduli dengan orang-orang yang wara wiri sebelum bus kami beranjak dari hotel. Dia tak berhasil menyembunyikan luka itu. Ingin sekali menarik ujung bibirnya agar tersungging. Jarak menjadi jeda, sekalipun aku ada di hadapannya, sekalipun ia akan tersenyum aku mampu merasakan perih batinnya.

            Di sini akulah yang bersalah, jika aku tidak ada diantara mereka, tak akan serumit ini. Kenapa masih enggan aku merelakanmu? Egoku teramat besar sebab rasaku pun sangat luas. Aku tak bisa bahagia melihatmu terluka dan aku tak yakin akan bahagia jika kau bahagia dengan yang lain.

Bus satu persatu mulai melaju meninggalkan hotel wajahnya terbawa bus yang mendahului busku. Tapi di benakku wajahnya tak bias sedikitpun. Melepas kepala di sandaran bangku kemudian menutup mata malah memperjelas raut wajahnya. Ia tersenyum padaku tatapannya menghantar keteduhan senyumnya lebih tersungging tatapannya penuh harapan dan aku tahu itu karena Erka. “Ram, aku gak pernah bermaksud mengusik kalian. Aku juga bisa menempatkan diri kok, kamu gak perlu khawatir Ram.”

Kata-kata Erka menyentakku sampai pejamanku terbelalak. Aku bermimpi atau terbayang semuanya? Mereka tak bisa membuatku tenang. Apalagi sejak semalam aku mendengar perbincangan mereka.

“aku benar-benar gak tahu apa yang harus aku lakuin. Sesaat aku mau milikin kamu seutuhnya. Tapi aku gak akan bisa. Sekalipun wajah kamu selalu di pandanganku aku akan gambar wajah lain supaya perasaanku tetap tersembunyi dengan aman. Aku gak boleh egois kan? Aku gak ingin ngehancurin semuanya, persahabatan penting banget buat aku. Semula aku pikir nyembunyiin perasaan ini mudah. Tapi nyatanya sulit, sulit, sulit.”

            Bus berhenti di pasar besar khusus buah tangan parawisata. Kami berhamburan keluar bus dan aku mencari sahabatku, ternyata Erka sudah ada di belakangku.

            “Ram, aku udah benar-benar nyakitin dia. Seharusnya semalam.” Kata-kata erka terhenti. “Ram, aku harus gimana?” lanjutnya.

            “harusnya kamu berhenti sembunyiin perasaan kamu.”

            “itu malah akan nyakitin kamu.”

            “nyatanya sekarang kita malah merasa sakit. Kamu sadar kan ini bukan persaingan untuk menangin hati Arly makanya kamu nyembunyiin perasaan kamu. Tapi kamu sadar ga, sebenarnya kamu lagi buat aku merasa kalah.”

            “Ram.”

            “karena bagaimana pun Arly, gak akan bisa berbuat apa-apa meski kelak dia tahu perasaanku ke dia, karena dalam perasaannya cuma ada kamu dan gimanapun juga nantinya cuma kamu yang akan..”

            “Ekhem!” tiba-tiba Arly ada diantara kami. “cukup bahas ini. Aku jengah.”

            “Ar..” panggilku saat ia hampir melewati kami.

            “Maaf kalau udah buat kalian merasa bersalah. Tapi hal ini cepat atau lambat, sekarang atau besok juga akan aku rasain meski bukan karena kalian. Kalian sahabatku yang terbaik, tapi ini perasaanku dan aku bisa selesaikan ini sendirian.” Ujarnya. “Hey..” Seshi datang kearah kami. “Kalian gak mau beli oleh-oleh?”

Leave a Reply