Novel: UDQ #36 Qalbu

Bagikan:

Aku hanya ingin perasaan dalam qalbuku terjaga,

meski tak pernah menyatakan perasaan ini,

tapi aku selalu mengungkapkannya walau hanya dalam qalbu.

Terjaga dalam qalbu.

“Maaf kalau udah buat kalian merasa bersalah. Tapi hal ini cepat atau lambat, sekarang atau besok juga akan aku rasain meski bukan karena kalian. Kalian sahabatku yang terbaik, tapi ini perasaanku dan aku bisa selesaikan ini sendirian.”

Entah mereka mengerti kata-kataku atau tidak tapi sejujurnya aku sendiri masih belajar memaknai kata-kataku itu. Akupun masih belajar untuk mengendalikan perasaanku, aku masih berusaha menganggap semua baik-baik saja. Meski itu sulit. Seperti kata-katanya “sulit, sulit, sulit.”

Aku harus mampu mengabaikan perasaan ini, karena jika aku membiarkan rasa ini tumbuh, hanya akan terasa sakit dan jika sakit itu aku nikmati maka tidak akan pernah berujung.

“Arly, tolong maafin aku.” Tiba-tiba kepala Erka nongol diluar jendela bus.

            “Erka?” Aku memiringkan badanku ke jendela dengan cukup terkejut mendapatinya ada di luar bus.

“Tolong jangan benci aku dan jangan hapus aku sebagai sahabat kamu.” Ujarnya sambil menyodorkan boneka beruang putih seukuran sedang. “simpan boneka ini, kamu boleh pukulin dia kalau kamu lagi sebel sama aku.”

Dengan ragu aku menerima boneka itu. “nanti bonekanya rusak.”

“lebih baik bonekanya yang rusak dari pada qalbu kamu yang rusak. Karena qalbuku juga bakal rusak kalau liat kamu..”

“Ka,, aku baik-baik aja.” Potongku agar Erka tak kuatir.

“Gerimis, aku balik ke bus ku ya.” Pamitnya kemudian berlari dan memasuki busnya. Sebelum gerimis semakin banyak dan berubah jadi hujan

Ini benar-benar sulit, aku ingin melupakan rasa itu tapi ia terus muncul. “Bodoh” kataku memukul bonekanya beberapa kali sampai akhirnya aku memeluk erat boneka itu.


Aku perhatikan toples kosong di kamarku yang kini tak lagi disembunyikan dalam lemari namun tersusun apik di atas meja samping kasurku. 7 toples kosong, sebab permen yang dulu mengisi telah dibuang karena diduga sudah kedaluarsa.

Meski dulu kuanggap toples-toples itu mewakili perasaanku. Nyatanya qalbuku tak pernah kosong masih ada perasaan utuh pada Arly tak prnah kedaluarsa.

Aku tak ingin menjadi orang egois yang mementingkan diriku sendiri, bukan hanya aku mencintai Arly, tapi ada sahabatku Erka. Aku tak akan melarangnya memiliki rasa itu.

Nanti jika aku menemukan kamar Erka tak lagi terpasang gambar Ran Mouri, dan itu mungkin berarti Erka sudah punya rasa lagi pada Arly, saat itu aku akan berusaha agar toplesku tak kosong lagi.

Aku akan meminta Arly mengisinya dengan cinta sampai ketujuh toples itu penuh dan bahkan toplesnya bertambah. Tapi sebenarnya toples tidaklah penting.

Aku hanya ingin perasaan dalam qalbuku terjaga, meski tak pernah menyatakan perasaan ini, tapi aku selalu mengungkapkannya walau hanya dalam qalbu. Terjaga dalam qalbu.


“Cinta tak harus memiliki tapi kita akan tetap saling memiliki meski sebagai sahabat.”


Ini bukanlah kisah cintaku, tapi kisah persahabatan mereka.

TAMAT

Leave a Comment