Novel Anak SMP ungkapan dalam kalbu

Latihan silat kali ini terasa lebih berat dari latihan-latihan sebelumnya. Sampai-sampai baju dalam dan seragam kami basah karena keringat.

Sebelum pulang ke rumah aku dan Nai menyempatkan diri untuk melihat langit malam di taman sekolah menikmati teduhnya gemerlap bintang-bintang dan sang bulan.

Ini menjadi kebiasaan yang sering kami lakukukan dikala sebelum atau sesudah latihan.

“Ar, apa alasan kamu berteman sama aku?” tanya Nai tiba-tiba.

Sejenak aku terdiam dan berpikir. “Emp, kenapa ya?” tanyaku balik karena tak menemukan jawaban.

“Karna aku cantik?” tanyanya mencoba membantuku.

“Aku rasa bukan, ya emang kamu cantik, semua tahu. Tapi bukan alasan yang logis dalam pertemanan.”

“Karna aku pintar?” Nai mulai berbaring diatas rumput.

“Apa untungnya bagiku kamu pintar atau bodoh? Apa aku butuh kamu buat ngerjain peer? Gak kan? Aku bisa ngerjain tugas sendiri.” Aku berbaring di rumput meniru Nai.

“Atau karna ak..”

“Tunggu!” aku menyela ucapan Nai. “Apa dalam persahabatan ini kita harus punya alasan? Untuk apa ada alasan dalam sebuah hubungan?” tanyaku karena tak mengerti dari pertanyaan Nai. “Kalau boleh jujur, aku gak punya alasan untuk berteman dengan kamu Nai.” Jawabku apa adanya.

Nai bangkit dari baringanya dan menatapku dalam.

“Kenapa Nai? Kamu marah ya sama jawaban aku?” tanyaku gugup. aku ikut bangkit menyertainya

Nai menggelengkan kepalanya kemudian ia memelukku. “Selama ini belum ada orang tulus ke aku. Kebanyakan dari meraka bertaman denganku karena aku cantik atau karena pintar.” Ungkapnya dengan memelukku erat.

“Nai.” Aku hanya bisa memeluknya. Kenapa ia tiba-tiba seperti ini.

“Terima kasih Ar.” Katanya sebelum melepas pelukannya.


Aku menatap Seshi sejenak berpikir apakah alasan gadis ini menjadi sahabatku? Aku pun tak punya alasan kenapa aku masih jadi teman sebangkunya tapi aku merasa beruntung bisa kenal gadis imut yang penuh keceriaan ini.

“Ar, mau belajar bareng ga?” tanya Seshi saat kami meninggalkan kelas usai bel pulang berdering.

Aku ingat-ingat sudah lama juga kami tidak belajar bersama di luar jam sekolah.“Yuk, kapan?”

“Sekarang aja di rumahku gimana?”

“Ar, pulang bareng yuk!” tiba-tiba Rama muncul dengan ajakannya sebelum aku menjawab Seshi.

“Aku mau ke rumah Seshi. Eh kamu ikut aja, sekalian ajarin kita.” Usulku. “Iya kan Ses?” tanyaku meminta persetujuan pada yang punya hajat.

“Iya, Kamu kan lebih pintar dari kita, kehadiran kamu pasti sangat membantu.” Jawab Seshi menyetujuiku.

“Oke. Aku ikut.” Rama setuju.

Kami melewati koridor pinggir lapangan basket. Di tengah lapangan Raia yang sedang berkumpul dengan teman ekskulnya melambaikan tangan yang tertuju padaku seolah memintaku untuk menghampirinya.

“Aku ke Raia dulu.” Pamitku sejenak pada Rama dan Seshi.

Mengetahui aku mendatanginya, Raia pun mendatangiku dengan menggandeng kakak kelas kami.

“Ar, ini Kak Dhani, yang suka minta disalamin ke kamu itu.” Ungkap Raia ketika kami berpapasan.

“Hai Ar.” Sapa kakak kelasku yang tinggi putih itu. “Aku sering nitip salam buat kamu lewat Raia, tapi katanya kamu cuek-cuek aja.” Ujarnya Ramah.

“Oh, aku kira Raia bercanda kak.” Jawabku terus terang diiringi perasaan sungkan.

“Jelasin kak, biar dia percaya!” titah Raia.

“Raia gak bercanda kok. Kakak emang minta disalamin ke kamu.” Katanya menegaskan. “Kamu mau pulang? Kakak anterin ya!” tawarnya.

“Makasih, tapi aku udah ditunggu mau belajar di rumah Seshi.” Jawabku sambil melihat ke arah Rama dan Seshi.

“Oh, tapi lain kali jangan nolak ya!”

Aku hanya menjawabnya dengan senyuman sebelum meninggalkan mereka dan kembali pada kedua teman yang sedang menungguku.

“Kenapa Ar?” tanya Rama.

“Gak apa-apa, gak penting kok.” Jawabku.

“Kok lama banget?” Seshi menarik tanganku. “Lain kali jangan ninggalin aku berdua sama Rama, grogi tahu.” Bisik Seshi sambil meremas tanganku.

“Eiht.” keluhku seolah kesakitan dengan cengkraman gemas Seshi. Padahal tidak, hanya agar ia melepaskan cengkramannya. “Harusnya kamu terima kasih, udah dikasih sedikit kesempatan bareng Rama.” Jawabku pelan ditelinga Seshi.

“Ekhem. Bagus ya, kalian bisik-bisik di belakangku.” Sindir Rama untuk kami.

“Urusan cewek Ram.” Jawabku.


Daftar Isi: Novel Remaja SMP Ungkapan Dalam Kalbu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here