SHARE
novel teenlit cinta ungkapan dalam hati

Tapi perasaan, siapa yang bisa duga? Kita juga gak bisa menentukan kita harus jatuh cinta pada siapa.

Satu jam hampir aku dan Rama berada di rumah Seshi, dengan cermat dan teliti Rama menuntun kami mengerjakan soal-soal Matematika yang kurang kami pahami.

Sering aku berpikir, dari apa Rama mengasah otaknya sampai begitu menguasai pelajaran rumit ini? Kadang malu sendiri, aku dikelilingi banyak orang pintar. Mungkin diantara teman-temanku yang pintar, aku yang paling malas belajar, makanya nilaiku cukup standar. Hhe.

“Udah Ar?” tanya Rama melihatku tak mencoret-coret buku.

“Udah, nih.” Aku menyerahkan hasil jawaban soal pada Rama.

Rama memeriksa jawabanku dengan khusyu. “Sebenarnya sih ada cara yang lebih singkat Ar, tapi jawaban kamu udah tepat kok.” Ujar Rama menyerahkan kembali bukuku.

Sementara Seshi masih asyik mencoret-coret bukunya, mencari jawaban yang tepat. Terlihat tampangnya yang mulai suntuk, bahwa dia bingung kemana harus mencari jawaban untuk soalnya.

“Kayaknya udah mulai pusing nih!” ujar Rama pada Seshi sambil mendekatkan matanya ke tugas yang Seshi kerjakan. “Kok jadi ngaco gitu Ses?” heran Rama melihat pekerjaan Seshi. “Seharusnya tuh begini…..” Rama mencoret-coret buku Seshi.

Aku tebak, pasti pusing Seshi sudah lenyap. Terlihat jelas dari wajahnya yang tersipu bercampur ceria dan gugup. Aku tahu bagaimana rasanya, ketika orang yang kita suka berada di samping kita dan memberikan perhatian. Walau sekedar menjelaskan rumus Matematika.

Aku ingat sewaktu kelas X dulu, betapa senangnya Seshi saat Rama menegurnya agar tidak berisik di perpustakaan. Padahal sih, memang kita tidak boleh berisik kan di perpustakaan?

Jika menurut Rama ia berkata seperti itu karena kurang nyaman. Menurut Seshi, kata-kata Rama adalah Syair dari sang pujangga, ya begitulah perasaan suka. Merubah rasa pahit menjadi manis.

“Udah sore, pulang yuk!” Ajak Rama sambil melihat jam tangannya. Seshi sedikit menekuk wajahnya. begitulah waktu tidak ada yang bisa menghentikan. Maka aku dan Rama harus pulang dari rumah Seshi.

“Besok juga ketemu lagi.” Ucapku pelan pada Seshi sebelum aku dan Rama meninggalkannya.

Aku dan Rama pulang dengan menaiki angkutan umum sampai sekolah karena angkot tersebut tak melewati jalan ke rumah kami. Rama sebernanya cukup manis, walau kadang ia sedikit galak, terbukti kali ini ia mau menemaniku berjalan kaki sampai rumah.

Ya memang sih jarak antara sekolah dan rumahku tidak terlalu jauh. Sebenarnya Rama bisa saja langsung pulang karena rumahnya lebih dekat dengan sekolah. Tapi ia sahabat yang baik, dan penuh rasa tanggung jawab sampai ia bersedia mengantarku pulang.


“Ar, aku temenin sampai rumah kamu ya?” kataku bersiap seturunnya kami dari metromini yang berhenti di depan sekolah.

“Hah? Gak usahlah Ram, rumah kamu kan udah dekat. Masa mau jalan jauh lagi ke rumah aku.” Tolak Arly dengan halus.

“Justru karna rumah aku dekat. Rumah kamu kan masih jauh, takut kamu kenapa-kenapa di jalan, mending aku temenin.” Jelasku berdalih. Arly terdiam seakan berpikir.

“Kamu kan perginya sama aku, kalau kamu kenapa-kenapa gimana? Aku juga yang kebawa-bawa.” tambahku untuk menyakikannya.

“Ya terserah sih.” Arly pasrah.

“Aku jadi gak enak deh. Padahalkan yang ngajak kamu ke rumah Seshi aku. Eh, sekarang malah kamu nganterin aku pulang. Maaf ya, jadi ngerepotin kamu.” Ucapnya sungkan.

“Arly apaan sih? Berlebihan banget deh!” tanggapku santai. Sebenarnya aku merasa sangat senang karena bisa menghabiskan waktu bersamanya. Andai gadis lugu ini menyadari perasaanku.

“Ram, tipe gadis yang kamu suka kayak gimana?”

Deg. Pertanyaanya membuat aku gugup. “E, aku gak pernah mikirin tipe sih Ar. Kenapa emang?”

“Hemp, sejujurnya aku mau tanya apa Shesi termasuk tipe gadis yang kamu suka?”

“Sejauh ini aku anggap Shesi teman dan gak tahu apa aku bisa suka sama dia atau ga.”

“Yapz, aku ngerti. Sebatas teman, sahabat dan gak lebih.”

Oo, sepertinya aku salah bicara. Jangan-jangan Arly merasa itu juga berlaku padanya. Padahalkan aku bicara itu supaya Arly mengerti kalau aku tak menyukai Shesi bukan masalah karena hubungan sahabat dan tak akan jadi lebih.

“Tapi perasaan, siapa yang bisa duga? Kita juga gak bisa menentukan kita harus jatuh cinta pada siapa. Bisa jadikan besok kamu suka sama Shesi.” Ucapnya sedikit melegakan pikiranku.

“Ya, kita gak pernah bisa nentuin. Mungkin satu menit yang akan datang bisa jadi kamu suka sama aku atau sebaliknya.” Semoga Arly sadar dengan sinyal yang aku berikan.

Arly menatapku dan tersenyum lebar. Teruslah tatap mataku, lihatlah lebih dalam dan baca hatiku. Temukan namamu di situ dan sadarlah kamu gadis yang aku cintai.

“Kamu sahabat yang baik dan aku bahagia kamu ada di sisiku.”
Kata-katanya sering terdengar ambigu. Aku bahkan tak yakin sebenarnya dia mengerti persaannya sediri atau tidak.


Klik: Daftar Isi Novel UDQ

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here