Novel: UDQ #1 Awal

Novel Remaja

SHARE
Novel Remaja Ungkapan Dalam Qalbu

Mencontek bukanlah caraku.
Hal curang seperti itu mana mungkin aku lakukan, mau dikemanakan sportivitas yang selama ini aku banggakan sebagai pelajar.

“Selamat pagi.” Sapaku pada teman-teman yang sudah hadir di kelas. “Ses, kita ada peer gak?” tanyaku pada teman sebangku.

“Gak ada.” Jawab gadis imut yang telah bersahabat denganku sejak 2 tahun lalu saat kami di bangku kelas IX. “Tapi kita ada ulangan kamu gak lupakan?”

Oo, aku perhatikan Seshi dan teman-teman yang lainnya. Ternyata mereka sibuk membolak-balik buku catatan Matematika mereka, pantas saja tidak ada yang menjawab sapaanku. Bagaimana ini? Aku benar-benar lupa kalau hari ini ada ulangan. Mempelajari semua materi dalam waktu 5 menit apakah mungkin aku langsung bisa menjawab soal-soal itu. Atau.., tidak! Mencontek bukanlah caraku. Hal curang seperti itu mana mungkin aku lakukan, mau dikemanakan sportivitas yang selama ini aku banggakan sebagai pelajar. Tapi aku harus bagaimana?

“Itu muka pucet amat, belum sarapan Ly?” sapa Bumi santai sambil duduk di bangkunya yang tepat ada di belakangku.

“Aku lupa hari ini ada ulangan, aku belum belajar Bum.” Ungkapku pasrah.

“O…” tanggapnya santai. “Kamu juga lupa ya, kalau hari ini Bu Putri operasi?”

“Emang hari ini?”

“Iya, mendingan kamu berdoa  supaya operasinya berhasil, jadi kita bisa ulangan pekan depan.”

Bel sekolah berdering mengawali jam pelajaran dan mungkin juga mengawali kisah asmaraku. Cowok berkacamata yang menjabat sebagai ketua kelas dan juga teman sebangku Bumi bernama Erka datang dengan membawa tumpukan buku tulis  latihan Matematika kami yang ia ambil dari ruang guru.

“Teman-teman hari ini kita gak jadi ulangan karna Bu Putri harus menjalani  operasi tumornya mohon sekalian doa untuk beliau semoga operasinya berjalan lancar dan beliau bisa mengajar kita kembali, sehubungan dengan itu jadi kita diminta untuk ngerjain LKS halaman 27 sampai halaman 33. Tolong tulis cara kalian menemukan jawabannya di kertas yang nanti kertasnya tolong tempelkan di halaman 27. Ini buku latihan kalian sudah diperiksa, untuk sekalian belajar tolong diperbaiki lagi jika ada jawaban kalian yang salah…..”

“Erka, pidatonya masih lama ya? Kita ngantuk nih!” keluh Itha salah satu teman kami yang memotong ucapan sang ketua kelas.

“Iya Ka…” seru teman-teman yang lain mendukung keluhan Itha.

Saat aku lihat teman-teman yang lain banyak yang telah menekuk wajah ke dalam lipatan tangan di atas meja, termasuk Bumi  teman sebangkunya. Tanpa berkata apapun, dengan wajah ‘maklum’ Erka membagikan buku-buku tersebut.

“Kasih…” ucap si pemimpin kelas membaca nama belakangku. “Arlyka, ini buku kamu..” ujarnya mengantarkan buku ke mejaku. Jika diperhatikan, laki-laki berkacamata ini, manis juga.

“Nilai kamu berapa Ar? Arly, Nilai kamu berapa?” mungkin karena saking asyiknya memperhatikan Erka, aku jadi tidak sadar bahwa Seshi sedang bertanya padaku sampai-sampai ia mencubit pipi tembemku.

“Erka manis juga ya Ses?”

“Jangan bilang kamu baru nyadar kalau Erka itu ganteng! Buku kamu mana sih? Ko ini buku Erka!” Seshi melihat buku yang ada di hadapanku.

“Oh iya ya.” Aku membenarkan peryataan Seshi setelah membaca nama yang tertera pada buku tersebut. “Erka Faiza!” Panggilku.

“Yup.” Sang pemilik nama menoleh padaku.

“Ini buku Kamu, bukan buku aku.” Ungkapku.

Erka mengambil bukunya dan memperhatikan buku itu. “Oh iya, hhe.” Dia tersenyum. Senyuman apa itu? Manis sekali, apa ia tersenyum khusus untukku? “Buku kamu yang ini, maaf ya.” Ungkapya penuh rasa bersalah, dan ia melapas senyuman lagi sebelum meninggalkanku.

Jangankan kali ini, setiap saat salah juga gak apa-apa, asal dikasih senyum manis terus kaya gitu. Kayaknya aku di kelas ini sudah lebih dari sebulan, kenapa baru sadar, kalau ada makhluk super manis kayak Erka. Dia udah punya pacar belum ya?


Bel akhir pelajaran berdering. Aku baru mulai berkemas, sementara yang lain berhamburan setelah pak guru meninggalkan kelas. Ternyata yang lain memang telah siap untuk pulang dan seperti biasanya, aku yang paling terakhir meninggalkan kelas. Tapi tunggu, sepertinya kali ini berbeda dengan biasanya.

Aku mendengar ada suara sesuatu di belakang ku. Perlahan aku menoleh, tidak ada apa-apa.

“Ngriiitttt” Suara bangku yang tergeser, benar bangku Erka tergeser.

“Srrekk, srekk, sreekk,sreekk…” seperti ada sesuatu di bawah meja Erka. Tapi tidak mungkin hantu kan? Mungkin saja, jika benar hantu bagaimana? Ini kesempatan langka jika aku bisa melihat hantu, apa lagi jika aku yang mengejutkannya. ‘Aku mengejutkan hantu?’ bukankah itu keren sekali? Akan ku gunakan kesempatan ini dengan baik.

“Huawhhh…” Seruku tiba-tiba langsung jongkok ke bawah meja Erka.

“Hhaaa.. Arly, bikin kaget aja!” Ternyata sosok Erka, itu Erka yang terkejut hingga mundur dan terpentok bangkunya.

“Erka? kirain hantu.” Jawabku sama terkejutnya.

“Kamu yang hantu! Tiba-tiba nongol ngagetin orang!”

“Maaf, tadinya aku kira hantu, mau aku kagetin, eh ternyata kamu, bukannya hantu.”

Erka menatapku tak percaya, ia memegang keningku sejenak. Ia tersenyum, kemudian tertawa, tertawa geli dengan melihatku.

“Apa yang lucu?” tanyaku penuh heran.

“Kamu yang lucu. Dimana-mana hantu yang ngagetin manusia, tapi ini, manusia yang mau ngagetin hantu. Hhahahahaha,,,” Erka terbahak lepas.

Apa aku begitu nampak lucu ya? Hhe. Aku hanya bisa tersenyum melihat Erka begitu geli mentertawaiku.

“Maaf ya, tapi emang kamu lucu banget. Baru kali ini aku ketemu cewek gila kayak kamu.” Ungkapanya seperti dari hati terdalam. Maksudnya aku ‘cewek gila’? “Oya, Kamu lihat buku Matematika latihanku ga?” Erka mulai menghentikan tawanya. “Yang tadi aku salah kasih ke Kamu.” Tambahnya.

Aku menggelengkan kepala. “Aku bantu cari deh.” Usahaku untuk menghiburnya.

Kira-kira tiga puluh menit kami mencari keseluruh penjuru kelas, tapi tidak juga kami temukan. Ku lihat tampang Erka begitu murung.

“Mungkin kebawa Bumi kali Ka.”

“Bisa jadi, ko aku gak kepikiran ya?” Erka seolah berpikir sejenak. “Thanks ya Ly, udah mau nemenin aku.”

“Yapz.” Jawabku dengan penuh senyum.

Mungkin ini awal dari pertemanan kami, awal dimana aku merasakan kenyamanan yang berbeda. Kalau boleh jujur sebenarnya jantungku merasa berdebar, entah kenapa. Tapi di sisi lain aku merasa begitu nyaman ada di dekatnya, hingga rasa debaran yang harusnya menjadi ‘grogi’ tertutupi dengan keceriaan.


Setiap selasa malam adalah jadwalku untuk berlatih silat, kira-kira satu setengah jam tiap pekannya aku berlatih dengan yang lain. Dalam pencak silat terkadang kita membutuhkan pasangan untuk berlatih, dari berlatih itulah kita menemukan kecocokan dengan pasangan kita, hingga dapat disebut ‘soulmate fighting’.

Kinari, atau yang biasa aku panggil ‘Nai’, gadis ‘cantik’ seusiaku, kata cantik di sini bukanlah pujianku tapi pendeskripsian tentang gadis ini. Ya, wajahya cantik, kulitnya putih mulus, perawakanya yang tinggi dan ramping membuat semua orang tak bisa mengabaikan keberadaannya, tak heran sangat banyak laki-laki yang menyukainya. Itulah sebab ia menyadari betapa penting belajar bela diri, agar bisa mengatasi orang-orang yang menggodanya.

Ya, meski aku sadar tidak ada yang sempurna di dunia ini, tapi aku harus mengakui bahwa Nai memanglah gadis sempurna baik luar maupun dalam karna selain cantik, dia sangat pintar dan baik hati. Kinari Mahesa dan aku adalah soulmate fighting.

“Dua Bulan lagi, kita akan mengikuti pertandingan antar SMA, jadi saya mau kalian latihan dengan giat dan sungguh-sungguh, terutama untuk Arly dan Kinari, karena di sini siswi yang ikut silat cuma kalian. Mulai pekan ini , jadwal latihan kita tambah menjadi dua kali. Setiap selasa dan jum’at malam.” Ujar pelatih seusai latihan.

Oya, ada yang belum aku ceritakan, tapi semua pasti sudah tahu. Di sini hanya aku dan Nai, perempuan yang mengikuti ekskul bela diri. Jadi, kesempatan mengikuti pertandingan bela diri putri sepenuhnya milik kami.

“Akhirnya kita bakal turun juga buat bertanding.” Ujar Nai girang.

“Yapz, aku tahu banget kalau itu obsesi kamu kan?” kataku ikut girang.

“Ya mau gimana lagi? Di sini aku gak bisa ngalahin siapapun. Otomatis aku harus ikut pertandingan buat ngalahin lawan aku. Oya Ar, kalau aku aja gak bisa ngalahin kamu, maka gak boleh ada orang lain yang ngalahin kamu. Please, kalau gak aku bakal ngerasa benar-benar payah.” Ujar Nai seakan menyemangatiku.

“Kamu tahu Nai? Kadang aku ngerasa, obsesi kamu adalah ngalahin aku.”

“Ya mungkin! Tapi sayangnya kamu masih terlalu tangguh, bukan! Maksudku kamu makin tangguh. Jadi aku selalu kalah dari kamu.”


“Maaf, tapi kan sebelumnya  aku udah bilang.” Ujar Bumi merasa bersalah.

“Tapi aku gak dengar.” Erka bernada tinggi.

“Kamu sih tuli!” ejek Bumi.

“Hahahahaha… Arly liat deh, Bumi sama Erka berantemnya lucu banget.” Seshi terbahak-bahak menyaksikan pertengkaran kedua lelaki di belakang kami. Aku yang sedang tak konsen membaca jadi ingin tahu apa permasalahan mereka.

“Kenapa sih kalian?” Tanyaku.

“Tahu gak Ar? Buku yang kemarin kita cari-cari ternyata dibawa dia!” Erka menunjuk Bumi dengan geram.

“Kan aku udah bilang! Tanya aja Seshi.” Bumi membela diri

“Lho? Kamu bilangnya ke Seshi?” heranku.

“Bumiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii…” Erka menunjukan gairahnya untuk mencekik Bumi. “Itu kan buku aku, kenapa kamu bilangnya ke Seshi!!!”

“Hhahahaha…” Seshi terbahak lepas.

“Aku takut lupa Ka, jadi aku bilang ke Seshi, biar dia ingetin kalau aku lupaaaaa!” Bumi berusaha melepaskan cengkraman Erka dari leher jenjangnya.

“Jadi salah siapa?” tanya Seshi yang masih kegelian.

“Pikir aja sendiri…” jawab kami bertiga kompak.

Sejak saat itu kami semakin akrab, semakin sering tertawa, semakin merasakan kebersamaan,  kebersamaan sebagai sahabat. Ya, persahabatan antara aku, Erka, Bumi dan Seshi.

Disela pergantian pelajaran, kami menyempatkan waktu untuk mengobrol. Aku membalikkan badan agar nyaman bicara pada Erka, Bumi dan Seshi tentunya. Seshi pun mengikuti gayaku

“Kalian.” Aku bermaksud pada Erka dan Bumi. “Misalnya Bumi, aku dan Seshi lagi pergi bareng, terus tiba-tiba ada kecelakaan sampai aku dan Seshi hampir masuk ke jurang. Di situ, cuma satu yang bisa diselamatkan. Siapa yang akan kamu selamatkan duluan? Aku atau Seshi?” tanyaku iseng.

“Gak, penting siapa yang duluan. Yang pasti dua-duanya aku selamatkan.” Jawab Bumi tak mau pikir panjang.

“Ya, tapi siapa yang duluan?” Seshi penasaran.

“Arly lah, kalau kamu duluan, yang ada kamu malah nendang aku kejurang.” Jawab Bumi dengan bercanda.

Aku dan Erka terkekeh melihat Seshi manyun.

“Kalau kamu Ka? Siapa yang kamu selamatkan duluan?” tanyaku pada Erka.

Erka mengembangkan senyum manisnya dengan tampang sambil berpikir. “Siapa ya?” tanyanya. “Sebenarnya ini pertanyaan sepele. Tapi bermakna juga.” Ujarnya.

“Iya, tapi itu bukan jawaban yang tepat.” Keluhku tak sabaran ingin mengetahui pilihannya.

“Bingung kan?” tanya Bumi.

“Selametin aku dong, masa gak ada yang mau nyelametin aku.” Rengek Seshi.

“Kamu kaya udah mau jatuh ke jurang aja.” Tanggap Erka.

“Iya nanti aku selametin. Kalau kamu udah wafat. Hhehehe.” Jawab Bumi ngebanyol.

Seshi bertampang masam lagi, dan kami tak bisa menahan tawa. Lalu guru datang mengisi kelas dan pertanyaan itu belum Erka jawab. Jadi makin penasaran. Akan aku tanya ulang lain kali.


Klik daftar isi: Novel Ungkapan Dalam Qalbu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here