SHARE
Ungkapan Dalam Hati Gadis

Aku gak akan nuntut balik apa yang selama ini aku kasih untuk dia.

Aku cuma akan sedikit membiarkan dia berpikir apa yang sebenarnya aku berikan.

Sesegukan sendiri di kamar dan menjadi orang paling bodoh di dunia, itulah aku sekarang. Menangis hanya karena menyukai Erka, mungkin ini bukan sekedar suka. Tapi cinta.

Oh benar-benar bodoh aku mencintai orang bodoh seperti dia. Ya Erka bodoh. Jika dia tahu aku mencintainya kenapa dia membiarkan aku membencinya. Jika ia ingin aku berhenti mencintainya mengapa ia ingin aku terus mengingatnya? Bodoh! Kenapa semua jadi seperti ini?

Pengap bukan karena aku menutupi wajahku dengan bantal, melainkan karena perasaanku terjebak pada kesesakan yang aku tak mengerti apa itu.

Sakit, di bagian jantungku. Kenapa terasa sakit? Bukankah aku tak punya riwayat penyakit jantung? Tapi rasanya begitu nyeri. Bagai ditindih batu yang amat runcing, memang tidak berat, tapi ujungnya yang tajam menyusup dalam ke jantung. Dan rasa sakit ini juga terasa bodoh. Adakah yang bisa jelaskan ini secara logika.

Lebih dari sekedar ngilu jika dihajar orang. Terluka karena dihajar orang mungkin bisa sembuh jika dioles antiseptik. Lalu jika perasaan yang terluka, adakah antiseptiknya?

Bodoh! Seharusnya aku tak membiarkan diriku terjebak pada hal yang tak masuk akal. Ya, ini memang tak masuk akal, tapi kenapa begitu terasa perihnya.

Perih tetap saja perih, tidak akan menghentikan waktu. Jika terus memaknai perih ini, aku hanya membuang waktu. Sudahlah, masih ada banyak hal yang harus aku lakukan dari sekedar meratapi kesedihan ini. Semoga perih ini terabaikan jika menyibukkan diri.


Ia habis menangis, itu tertera dari matanya yang lebam, namun senyumnya mengembang tiada henti. Yang lain juga merasa kejanggalan dirinya namun tak satupun dari kami yang berani bertanya kenapa matanya lebam? Kenapa dia menangis atau apapun itu. Kami bungkam bukan karena celotehannya, melainkan karena kebingungungan dengan keadaanya.

“Setuju?” tanyanya setelah berkata panjang lebar.

“Setuju.” Jawab Seshi dan Bumi.

Arly menatapku dan Erka menunggu jawaban. “Apa?” tanyaku kompak bersama Erka.

“Apa?” herannya. “Kalian gak dengerin aku ya?” Arly menyipitkan mata jelinya. “Jelasin Ses.” Perintah Arly.

Dengan tampang tak bersalah yang dipinta malah nyengir kuda. “Hhe..”

“Kamu juga gak dengerin aku?” Arly bernada tinggi dan kami yang melihatnya juga keheranan. Kenapa tadi dia bilang setuju?

“Aku aja yang jelasin ulang. Tadi aku dengengerin kamu kok.” Bumi ambil alih sebelum emosi Arly meledak. “Besok, habis aku dan Arly ngantar koran, kita semua main basket. Setelah itu kita pergi ke kebun binatang. Kalian semua setuju kan?”

Seshi, Erka dan aku mengangguk. Sepertinya tadi Arly bicara banyak hal, kenapa singkat saat Bumi jelaskan. Apa karena aku terlalu memikirkan keadaan Arly, sampai semua terasa panjang. Dan aku yakin Erka dan Seshi juga memikirkan hal sama.

“Ram, semuanya udah siap?” suara Yogi menyelinap keluar dari kamarnya. Entah, seketika aku langsung kehilangan gairah.

“Belum.” Jawabku untuk Yogi. “Aku gak bisa ikut. Aku mau siap-siap buat keberangkatanku keluar kota.

“Oke.” Tanggap Arly. Tapi tiba-tiba dia bangkit dan meninggalkan kami.

Seshi buru-buru menyusul Arly. Bumi dan Erka menatapku entah apa maksud mereka. akhir-akhir ini, suasana memang mudah berubah. Mungkin karena perasaanku kacau balau atau karena perasaan mereka juga kacau balau. Masalahnya cukup jelas namun rumit. Aku akan pergi sementara ada perasaan yang terjebak.


Matahari mulai beranjak menggantung dengan perkasa di langit. Keringat mulai menjalar menuruni tubuh. Bahkan nafasku masih tersegal karena berusaha merebut bola basket dari Erka. Tapi memang kemahiran laki-laki tinggi itu tak bisa di sepelekan. Aku dan Bumi mati-matian berusaha mengalahkannya namun gak tak ada hasil.

“Tiga kosong, tiga kosong..” sorak Seshi girang karena merasa unggul. Padahalkan dia sama sekali tidak ikut andil dalam point yang dicetak Erka, selain berlari-lari kecil dan bersorak sorai kalau Erka berhasil men-shoot Bola ke keranjang.

Andai ada Rama dan dia di pihakku, pasti Erka keok dibuatnya. Tapi si egois itu tak bisa diandalkan. Dia lebih milih mempersiapkan kepergiannya untuk keluar kota keteimbang sahabatnya. Padahalkan aku sedang butuh hiburan, lagi pula itu bisa dipersiapkan nanti dan kami pun tidak keberatan jika harus membantunya. Tapi Rama memang keras kepala. Dia mana peduli dengan perasaan yang lain.

“Cape ah, istirahat dulu.” Pinta Bumi. Kami menghentikan permainan dan berjajar di pinggir lapangan.

“Payah Deh.” Seshi seakan mengejek Aku dan Bumi.

“Kalau ada Rama, kalian juga belum tentu menang.” Ujarku sambil meraih sebotol air dan menegak mineral tersebut.

“Kalau ada Rama, aku bakal pilih sama Rama.” Lepas Seshi.

Erka menatap Seshi sambil menaikkan alisnya. Seshi menyeringai malu ke Erka.

“Kita jadi ke kebun binatang?” tanya Bumi.

“Jadi donk, aku udah lama gak ke sana.”

“Berati kita double date ya?”

Kami semua melirik ke Seshi.

“Iya kan? Dua cewek dan dua cowok, dua pasang jalan bareng, artinya double date. Aku sama Erka, Arly sama Bumi.” ungkap Seshi semuanya.

“Kenapa gak Arly sama Erka dan kamu sama aku?” protes Bumi.

“Karena aku gak mau sama kamu.” Jawab Seshi.

“Udah sama aja.” Tambah Erka.

Dan mungkin Erka gak mau sama aku. Tapi itu gak penting lagi, aku harus membiasakan perasaanku yang diabaikannya.


Kami berangkat ke kebun binatang dengan angkutan umum. Sebenarnya cukup menyayangkan tanpa Rama ikut bersama kami. Kapan lagi kita berdiri desak-desakan di angkutan umum. Biarlah Rama sibuk dengan rencananya.

“Maaf pak.” Bumi menyapa seorang bapak yang sedang duduk. “Boleh mengalah buat teman saya?” tanyanya cukup mencengangkan.

“Oh, iya.” Si bapak berdiri dan Bumi memintaku duduk.

“Ah, gak usah pak, terima kasih.” Aku menolak pelan.

“Gak apa dek, saya sebentar lagi turun.” Ujar si bapak.

“Tuh Ar, gak apa-apa. Udah duduk, kebun binatang kan masih jauh banget. nanti kamu capek lagi.” Ujar Bumi.

Aku duduk dengan merasa tidak enak. Seharusnya Bumi tidak perlu serepot itu. Aku kan jadi serba salah.

Setelah lebih dari tiga puluh menit di angkutan umum yang cukup sumpek, akhirnya kami berempat besertai penumpang yang punya tujuan sama turun dari metromini tersebut tepat di depan kebun binatang.

“Akhirnya…” sorak aku dan Seshi kompak.

“Wah, udah lama banget gak kesini.” Lepas Bumi.

“Banyak yang berubah ya?” lanjut Erka.

Kami mulai berjalan mengelilingi kebun binatang dengan perlahan. Ke satu kandang besar, seperti kandang anoa, berhenti sejenak untuk melihat si empunya kandang kemudian jalan lagi ke kandang binatang lain. Kami hanya sekedar melihat dan menyaksikan tingkah hewan yang terkadang lucu. Misalnya jerapa yang mengambil topi orang. Gajah yang mengusap mata dengan belailainya. Sipanse yang bergelayutan di ranting pohon. Dan yang lainnya.

“Kamu suka beruang kan? Ayo kita liat beruang.” Ajak Bumi.

“Apa semua tahu aku suka beruang?”

“Iyalah, kamu selau bawa gantungan itu.” Bumi menunjuk sebuah boneka beruang kecil yang menggantung di tasku. Boneka hadiah ulang tahun dari Erka.

Aku tertegun menatap dua beruang madu berwarna hitam yang sedang asik bermain dengan akur. Rasanya ingin menjadi salah satu diantara mereka. Menjalin keakraban dengan yang lain, menjalani hukum alam tanpa ada selisih dengan yang lain. Rukun dan menyenangkan. Tapi sebenarnya itukan hanya di pandangan manusia, kita mana tahu yang sebenarnya terjadi di kalangan mereka.

Setelah berjalan mengelilingin kebun binatang, kami beristirahat karena merasa cukup pegal. Aku dan Seshi duduk di atas tikar yang menghampar di rumput menghadap danau buatan yang digunakan untuk arena perahu juga. Bumi dan Erka meminta kami menunggu karena mereka mau membeli makanan. Tak lama Bumi datang duluan dan menyodorkan es krim untukku.

“Ko cuma Arly? Buat aku mana?” tanya Seshi saat Bumi tidak menyambanginya.

“Ya kamu minta sama pasangan ngedate kamu lah. Masa minta ke aku.” Jawab Bumi.

“Kamu mau?” tawarku pada Seshi. Seshi menngeleng sambil cemberut.

“Ayo makan.” Ajak Bumi. “Seshi tunggu Erka. Dia masih anteri tadi.” Ujar Bumi.

Seshi yang masih cemberut menyilang kaki dan menyangga dagunya.

“Udah barengan aja.” Ujarku.

“Kalau Seshi makan bareng kita, Erka nanti makan sama siapa? Pasangan Seshi kan Erka. Kasian dong Erka nanti sendirian.”

Tiba-tiba Seshi bangkit dan meninggalkan kami.

“Dia marah deh.” Kataku kuatir.

“Mungkin juga cemburu.” Aku menatap Bumi minta penjelasan. “Untuk menyadari perasaannya mungkin dia harus dikenalkan dengan cemburu.” Jelas Bumi sambil membuka bungkus makanan. “Aku gak akan nuntut balik apa yang selama ini aku kasih untuk dia. Aku cuma akan sedikit membiarkan dia berpikir apa yang sebenarnya aku berikan.” Tambah Bumi dengan bijak. “Cinta itu sederhana Ar, yang kamu perlu hanya bersabar. Kalau dia gak ngerti juga, dia akan menyesal. Tapi rasaku ke dia gak akan berubah. Karena ini perasaan yg sederhana.”

Bumi, caranya sangat sederhana dalam mencintai Seshi. Sesederhana perasaan yang ia mengerti. Beruntungnya gadis yang dicintanya.


Lambat tapi pasti matahari berangsur ke barat. Langit tak lagi terik seakan mengingatkan kami untuk pulang ke rumah. Kami berempat menaiki angkutan umum kembali untuk pulang dan tak jauh beda seperti berangkat tadi, angkutan umumnya juga dipadati penumpang.

“Gak usah mikirin tempat duduk buat aku.” Bisikku pada Bumi untuk mengingatkan. Berselang itu aku melihat suatu hal ganggal terjadi. Seseorang berlaku mencurigakan seperti – habis mencopet. Orang yang aku perhatikan itu terburu-buru turun dari angkot. Tak bisa membiarkan itu, maka aku membututinya turun dari angkot dan mengejarnya.

“Arly..” Panggil seseorang yang ternyata adalah Erka.

“Kamu ngapain turun Ka?” Heranku.

“Itu yang mau aku tanyain ke kamu.”

“Aku ngejar copet.” Jawabku yang lansung memfokuskan pandangan pada si pelaku. “Hei, berhenti.” Panggilku.

Orang yang aku maksud menoleh dan malah berlari makin cepat. Aku pun mengejarnya makin cepat disusul Erka. Sampai di temapat agak sepi ia berhenti. Sebelum aku menduga, ternyata dua orang lain muncul. Aku mengerti, mereka sekawanan.

“Tolong kembalikan dompet itu.” pintaku.

“Percuma, dompet ini udah jauh dari pemiliknya dan gak mungkin kembali.” Katanya.

“Aku bersedia ngembaliinnya.” Ucapku.

Orang itu malah tersenyum sinis dan bertolak pinggang. Dua orang yang lain maju menghadang.

“Ar, aku kan gak bisa silat.” Bisik Erka.

“Tapi kamu gak akan pasrahkan kalau dihajar orang?”

Sebuah pukulan melesat namun meleset dari wajahku karena aku berhasil menghindar. Maka aku langsung membalas serangan dan terjadilah baku hantam antara kami. Tiba-tiba Rama muncul dan membantuku. Aku langsung lepas dua orang lainnya dan menghadapi si copet itu. Tanpa buang waktu aku lansung menebaskan bogeman ke bawah ketiaknya dan menendang betisnya hingga ia lemas terlutut. Aku memelintir tangannya dan meminta dompet yang ia ambil dengan licik.

“Jangan mengambil sesuatu yang bukan hak kamu.” Ujarku saat menerima dompet itu. “Ini yang terakhir atau lain kali kamu bisa langsung di seret ke kantor polisi.” Ultimatumku sebelum melepaskannya.

Saat berbalik aku melihat kedua sahabatku yang sedang nyengir dengan gaya mirip. Erka memar di bagian pelipis dan Rama lecet dengan sedikit darah di ujung bibirnya. Tunggu bagaimana Rama bisa di sini?

“Kamu kok di sini?” tanyaku pada Rama.

“Gak penting, yang penting kita balikin dompet ini dulu.” Jawab Rama sambil melihat identitas si pemilik dompet dan ditunjukkan ke Erka.

“Kayanya aku tahu alamatnya.” Ucap Erka saat melihat kartu tanda pengenalnya.


Aku berbaring di kasur setelah memberi antiseptik diujung bibirku yang luka. Yogi kakakku yang paling perhatian memasuki kamarku dengan membawakan segelas susu. Aku bangun menyambutnya dan menerima segelas susu itu kemudian menenggaknya.

“Ssst.” Perih saat benda lain menyapa lukaku.

“Sebenarnya konyol Ram. Kamu ngebuntuti mereka secara sembunyi-sembunyi dari pagi dan semua harus terkuak karena Arly dan Erka ngebuntuti copet. Tapi seenggaknya Arly akan tahu, kalau kamu melakukan hal gak penting.”

“Ya, mungkin dia berpikir, kenapa aku gak ikut gabung sama mereka sejak awal, ini malah ngebuntutin mereka.”

“Nah, itu kamu ngerti.” Yogi kali ini memijat kakiku.

“Tapi aku jadi semakin yakin Erka suka sam Arly. Buktinya dia ikut turun saat Arly turun dari angkot.”

“Kalau Bumi tahu Arly turun, Bumi juga pasti nyusul Ram.”

“Nah itu dia, Bumi gak tahu, tapi Erka tahu, itu kan artinya dia selalu merhatiin Arly.”

“Kebetulan.”

“Apa Erka menggambar Ran Mouri itu sekedar kebetulan? Kalau iya, kenapa gambarnya gak lebih dari satu, tapi banyak.”

“Maksudnya?” Yogi tak paham.

“Ran Mouri dan Arly itu sama-sama bisa bela diri. Mungkin karena dia gak bisa gambar wajah Arly atau takut ketahuan, jadi dia gambar Ran Mouri.”

“Kalau Arly Ran Mouri, kamu Shinichi Kudo-nya gitu yang pintar menganalisa? Tapi sayangnya analisa kamu cukup ngaur. Udah istirahat.” Yogi melepas kakiku dan pergi.

Ini bukan sekedar analisa, mungkin yang lain tak akan mengerti, tapi aku sahabatnya. Aku mengerti perasaanya tapi entah keegoisanku ini mau mengerti atau tidak.


Selengkapnya daftar isi novel teenlit UDQ klik di sini.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here