SHARE
Ibu Hamil Menyusui

Setiap ibu hamil tentu berharap bisa menjalani kehamilannya dengan mudah dan persalinan yang lancar. Karenanya, perlu mengetahui hal-hal yang biasanya menyertai jalannya proses kehamilan. Selain itu wanita hamil juga harus mengenali beberapa tanda bahaya pada kehamilan supaya bisa segera mencari pertolongan medis.

1. Mual dan muntah berlebihan (hiperemesis gravidarum)

Hiperemesis gravidarum adalah mual dan muntah berlebihan pada saat hamil sehingga mengganggu pekerjaan sehari-hari dan menyebabkan keadaan umum tubuh ibu hamil memburuk.

Sebenarnya, mual dan muntah merupakan hal yang biasa dialami oleh ibu hamil pada kehamilan trimester pertama (3 bulan pertama kehamilan), kurang lebih pada 6 pekan setelah haid terakhir dan umumnya terjadi selama 10 pekan.

Tetapi, mual dan muntah ini akan menjadi masalah yang sangat mengganggu jika terjadi secara berlebihan, yaitu ketika terlalu sering dan parah sehingga ibu hamil tidak bisa makan dan minum. Akibatnya, janin terkena imbasnya dehidrasi dan kekurangan gizi.

Di samping itu, mual dan muntah di masa kehamilan (hiperemesis) juga bisa mengakibatkan rusaknya organ hati dan robeknya selaput lendir kerongkongan dan lambung sehingga terjadi pendarahan di saluran cerna.

Jika tidak dirawat dan mendapat penanganan yang memadai, hiperemesis bisa menjurus pada kekurangan gizi dan dapat membahayakan ibu serta janin yang dikandungnya.

2. Kurang darah (anemia)

Anemia ditandai dengan lemah, letih, lesu, pucat, pusing (kadang berkunang-kunang) dan sering sakit-sakitan. Anemia atau kurang darah merupakan salah satu penyebab utama kematian ibu.

Ibu hamil yang anemia tidak dapat me­menuhi kebutuhan tubuh ibu dan janin akan nutrisi dan oksigen yang dibawa dalam darah, sehingga pertumbuhan janin terganggu.

Pada saat melahirkan, wanita yang menderita anemia dapat mengalami syok karena kehilangan banyak darah dan bahkan berisiko pada kematian.

3. Berat badan ibu hamil tidak naik

Selama kehamilan, ibu di­harapkan mengalami penambahan berat badan sedikitnya 6 kg. Ini seb­agai petunjuk adanya pertumbuhan janin. Tidak adanya kenaikan berat badan yang diharapkan menunjuk­kan kondisi gizi yang buruk pada ibu hamil dan menunjukkan adanya pertumbuhan janin yang terhambat.

4. Nyeri kepala, gangguan penglihatan, kejang dan atau koma, tekanan darah tinggi

Keluhan di atas merupakan sebagian pertanda adan­ya preeklamsia. Selain itu juga ada gejala lain, seperti pandangan kabur/ganda, muntah-muntah, nyeri pada perut bagian tengah/atas, tangan dan kaki bengkak, jarang buang air kecil, fungsi hati terganggu, kadar trombosit turun dan sesak napas.

Bi­asanya terjadi pada usia kehamilan 20 pekan (akhir trimester 2 atau pada trimester 3) walau juga dapat dijumpai lebih awal. preeklamsia dapat diikuti terjadinya preeklampsia yang bisa berakibat fatal jika tidak segera ditangani.

5. Gerakan janin berkurang atau tidak ada

Di usia 5 bulan kehamilan, ibu sebaiknya memantau gerakan janin, biasanya 3 kali setiap jamnya. jika pola pergerakannya berubah (berhenti atau melamban), ini berarti terjadi sesuatu dengan janin yang dikandung. Segera berkon­sultasi dengan bidan atau dokter.

6. Penyakit Ibu yang berpengaruh terhadap kehamilan

Beberapa ibu yang memiliki penyakit seperti kencing manis (diabetes mellitus), penyakit jantung, anemia, dan penyakit lain yang bisa berpengaruh pada kehamilan, hendaknya sering kontrol dan berkonsultasi dengan dokter.

Hal ini untuk meminimalisir akibat buruk yang bisa muncul dan membahayakan jiwa ibu maupun janin yang dikandung. Bahkan, dianjurkan untuk mempersiapkan diri ketika merencanakan untuk hamil.

7. Ketuban pecah dini (KPD)

Ketuban pecah dini adalah keluarnya cairan ketuban dari vagina setelah kehamilan berusia 22 pekan. Ketuban dinyatakan pecah lebih dini jika terjadi sebelum proses persalinan berlangsung.

Jika ibu hamil mengalami ketuban pecah dini, hendaknya segera memeriksakan diri ke bidan atau dokter, karena kondisi tersebut dapat mempermu­dah terjadinya infeksi pada kandun­gan yang dapat membahayakan ibu maupun janinnya.

Ada kemungkinan juga, cairan yang keluar tersebut bukan air ketuban, melainkan urine akibat adanya tekanan pada kandung kemih ketika rahim semakin besar. Untuk membedakan apakah cairan yang merembes tersebut adalah air ketuban atau urine, coba buang air kecil. Jika setelah itu cairan terus keluar, berarti air ketuban sudah pecah.

8. Pendarahan

Pendarahan dapat terjadi pada usia kehamilan berapapun, dan bisa menjadi pertanda adanya bahaya yang mengancam, baik pada ibu maupun janin yang dikandung. Perdarahan sangat ringan tanpa rasa sakit atau nyeri adalah hal yang biasa terjadi, tapi pendarahan pada awal kehamilan juga bisa menjadi tanda keguguran.

Pendarahan pada usia kehamilan 4-9 bulan dapat menunjukkan plasenta letak rendah dalam rahim dan dapat menutup jalan lahir. Perdarahan pada akhir kehami­lan dapat merupakan tanda plasenta terlepas dari rahim.

Pendarahan yang hebat dan terus menerus setelah melahirkan dapat menyebabkan ibu kekurangan darah dan merupakan tanda bahaya dimana ibu bersalin harus segera mendapat pertolongan yang tepat dari bidan atau dokter.

9. Demam tinggi

Demam tinggi dapat disebabkan karena infeksi atau penyakit lain. Di samping itu, ibu hamil lebih rentan terjangkit pilek dan flu. Meskipun demikian, suami harus tanggap hubungi dokter jika demam berlangsung lebih dari 24 jam dan suhu tubuh di atas 37,5°C walaupun tidak menunjukkan gejala flu atau pilek.

Hendaknya ibu hamil yang mengalami demam tinggi segera memeriksakan diri ke dokter supaya mendapat penanganan yang tepat terkait demam yang dialaminya.

Demam tinggi yang tidak ditangani dengan tepat dapat meningkatkan risiko terjadinya persalinan prematur.

10. Jatuh atau terbentur

Jika terjadi benturan pada perut ataupun terjatuh hingga terjadi kontraksi, adanya rembesan cairan, atau perdarahan, segera hubungi unit gawat darurat.

11. Pingsan

Jangan anggap remeh pingsan saat hamil. Bisa jadi, ini adalah awal masalah yang lebih serius seperti gangguan peredaran darah atau jantung. Pingsan dapat terjadi akibat otak ibu hamil tidak mendapatkan suolai oksigen cukup untuk metabolisme, hal ini juga berdampak pada janin.

Kontrol Kehamilan Secara Teratur!

Sudah semestinya suami dan ibu hamil memperhatikan kondisi kesehatan dan keselamatan sekaligus janin yang dikandung. Karenanya, sangat dianjurkan untuk rutin kontrol ke bidan atau dokter, supaya kehamilan bisa lancar dan selamat sampai dengan persalinan.

Ibu hamil hendaknya juga banyak berkonsultasi dan mencari tahu mengenai masalah yang mungkin muncul pada saat kehamilan. Dengan begitu, ibu hamil dapat mengambil langkah yang tepat untuk menghadapinya.

Sumber:

  • www.kesehatanmuslim.com/mengenal-9-tanda-bahaya-pada-kehamilan
  • www.alodokter.com/bunda-hati-hati-dengan-tanda-bahaya-kehamilan-ini
  • www.ibu-hamil.web.id/2015/02/10-tanda-bahaya-kehamilan-trimester-pertama-pdf.html

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here