SHARE

fitnah lebih kejam dari pembunuhan… (al-Baqarah: 191)

…الفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ القَتْلِ…

Itulah sepotong kalimat yang sering digunakan sebagai dalih melindungi diri dari tuduhan. Meskipun populer, bahkan banyak digunakan orang saat tampil di layar kaca, tapi masih banyak yang tidak tahu bahwa ungkapan tersebut adalah potongan dari surat dalam al-Quran.

Selain itu, dalil ini sering salah digunakan. Ternyata kata “fitnah” yang dimaksud al-Quran tidak sama seperti yang sering kita pakai.

Mari kita lihat perberbedaannya dari sudut pandang 2 bahasa yang tak sama, yakni Arab dan Indonesia.

Menurut KBBI, fit-nah (n) perkataan bohong atau tanpa berdasarkan kebenaran yang disebarkan dengan maksud menjelekkan orang (seperti menodai nama baik dan merugikan kehormatan orang): — adalah perbuatan yang tidak terpuji;

Contoh: Menuduh wanita baik telah berzina tanpa bukti, padahal tidak pernah bersentuhan dengan pria.

Lalu, bagimana dari sudut pandang bahasa Arab?

Untuk itu, silakan buka kamus Indonesia-Arab dan cari kata “fitnah“, di sana akan kita jumpai bahasa Arabnya fitnah adalah  (namimah) “نَمِيْمَة. Selanjutnya cari kata “namimah” dalam kamus Arab-Indonesia, Anda akan terkejut bahwa namimah dalam bahasa Arab merupakan padanan untuk kata “tuduhan” dalam bahasa Indonesia.

Uji coba selanjutnya cari kata “فتنة seperti yang tertulis dalam al-Quran. Pastinya makna yang Anda temui bukan “fitnah” seperti yang kita maksud selama ini.

Al-Raghib al-Ashfahani dalam kitab al-Mufrodat fi ghoribil Quran alias Mu’jam al-Mufradat li alfaz al-Quran, menjelaskan bahwa kata “fitnah” diambil dari akar “fatana” yang bermakna “membakar emas untuk mengetahui kadar kualitasnya.”

Bisa juga, membersihkannya dari kotoran debu atau unsur lain yang dapat terbakar,1 seperti digunakan al-Quran dalam surat al-Dzariyat: 14 yang  artinya “memasukkan ke neraka” sebagai proses pensucian.

(Dzuuquu fitnatakum…) “ذوقوا فِتْنَتكم

Makna Fitnah Dalam Al-Quran

Berdasarkan penggunaan asal kata di atas, makna “fitnah” juga digunakan untuk maksud “menguji”, baik ujian itu berupa nikmat (kebaikan) maupun kesulitan (keburukan), baca al-Quran surat al-Anbiya: 35

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ المَوت وَ نَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَ الخَيْر فِتْنَةً وَ إِلَيْنَا تُرْجَعُون

“Kullu nafsin dzaa iqotulmauut, wanab luukum bisyarri wal khoiyri fitnatan wa ilaynaa turja ‘uun”

Setiap jiwa akan merasakan mati dan Kami menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (fitnah), hanya kepada Kami kalian dikembalikan.

Perhatikan kata “FITNAH” pada ayat diatas.

Ada penekanan pada kata cobaan/ujian yang berupa keburukan dan kebaikan. Setelah dihitung ada lebih dari 30 kata فتن beserta derivasinya, dan ternyata tidak ada satupun yang maknanya seperti Kamus Besar Bahasa Indonesia cantumkan.

Syaikh Abdurrahman Nashir as-Sa’di berpendapat mengenai al-Baqarah ayat 191,

“Fitnah ini (menghalangi sesama dari jalan Allah, kufur, berada dalam kemusrikan, menghalangi orang lain masuk ke Masjid al-Haram dan mengusir penduduknya) dosanya lebih besar daripada pembunuhan atau berperangan di bulan haram.”

Al-Imam Baghowy dalam tafsirnya menyebutkan, “al-fitnatu dalam ayat ini adalah ‘asyirku alladzi antum alaihi.” artinya kesyirikan yang dilakukan oleh orang makkah.

Imam Ibnu Katsir menjelaskan, bahwa Imam Abul ‘Aliyah, Mujahid, Said bin Zubair, Ikrimah, al-Hasan, Qotadah, ad-Dohak, dan Rabi’ bin Anas memaknai “fitnah” ini dengan arti “syirik”.

Jadi, syirik itu lebih besar dosanya daripada membunuh.

Ayat di atas diturunkan berkaitan dengan haramnya berperang di al-Masjid al-Haram, namun hal tersebut diizinkan bagi Rasulullah manakala beliau memerangi kemusyrikan yang ada di dalamnya.

Telah kita ketahui bersama, saat Nabi Muhammad diutus terdapat banyak patung berhala yang disembah di Baitullah.

Puncaknya ketika Fathu Makkah, Nabi mengerahkan seluruh pasukan mu’minin untuk mengunjungi Mekah seperti yang telah Allah janjikan di tahun sebelumnya.

Sikap Terhadap Fenomena

Salah kaprah ini sudah sangat meluas di lingkungan umat Islam. Hal ini sangat berbahaya, karena mengindikasikan bahwa kaum muslimin tidak memahami kitab sucinya.

Mari kita mulai lagi membaca al-Quran, menghatamkan terjemahnya juga. Kemudian mulai membaca tafsir para ulama seperti al-Mujahid dan Ibnu Katsir. Perlu juga menegur orang lain, khususnya anak-anak tentang apa itu fitnah.

Di akhir tulisan ini, marilah kita berdoa agar tidak menjadi fitnah bagi orang kafir. Bagaimana bisa kita menjadi fitnah?

Perilaku, perangai dan sikap kita yang buruk, kemudian dilihat oleh nonmuslim, inilah yang disebut fitnah. Mereka akan mengira bahwa semua mulim buruk begitu juga agamanya.

رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِلَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَ اغْفِرْ لَنَا رَبَّنَا إِنَّكَ أَنْتَ العَزِيْزُ الحَكِيْمُ

Ya Rabb, janganlah Engkau jadikan kami fitnah bagi orang-orang kafir. Ampunilah kami. Sungguh Engkau Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (al-Mumtahanah: 5)

Catatan:

1Dengan dibakarnya emas, semua unsur yang bukan emas akan tersisihkan, seperti air akan menguap dan debu akan lenyap. Dengan demikian, kualitas emas akan semakin baik.

Sumber:

  • Al-Quran Al-Karim
  • iqbalsandira.blogspot.com/2009/02/salah-kaprah-penafsiran-ayat-fitnah.html
  • islampos.com/dari-mana-asalnya-fitnah-itu-lebih-kejam-daripada-pembunuhan-125739
  • KBBI
  • m-irsyad.blogspot.com/2010/04/benarkah-fitnah-lebih-kejam-dari.html

1 Diskusi Asyik

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here