Pondok Modern Darussalam adalah lembaga pendidikan Islam yang sudah berdiri sejak 90 tahun lalu. Letaknya yang jauh dari keramaian kota, tepatnya di desa Gontor, mengesankan lembaga ini asing dari sorotan.

Namun, hal itu tidak menghambatnya untuk maju. Bahkan, tanpa advertising apapun, kiprahnya sudah dikenang oleh banyak tokoh Indonesia, khususnya dalam dunia pendidikan.

Tentu, itu semua karena Allah memberikan pesantren ini kelebihan. Apa nilai plus yang membuatnya lebih maju dari Indonesia? Selamat membaca.

[vc_masonry_media_grid style=”load-more” items_per_page=”3″ item=”masonryMedia_ScaleWithRotationLight” btn_title=”Galeri” btn_style=”modern” btn_shape=”square” btn_color=”turquoise” btn_i_icon_fontawesome=”fa fa-camera” initial_loading_animation=”fadeIn” btn_add_icon=”true” grid_id=”vc_gid:1488388030610-f040f104-cff9-6″ include=”4646,4643,4648,4640,4644,4639,4645,4641,4642,4650,4649,4647″]

1. Muwajjah (Belajar Malam)

Sejak dahulu kala, Gontor sudah menerapkan wajib belajar malam bagi santri. Setiap hari efektif belajar, usai shalat Isya dan makan malam, pukul. 20.00–21.30 WIB seluruh santri diwajibkan berkumpul di kelas masing-masing.

Kehadiran mereka dipantau oleh wali kelas dan kegiatan ini dipantau direktur KMI.

Meskipun berkumpul dalam satu kelas, yang dipelajari siswa malam itu tidak sama, melainkan pelajaran apa saja yang ingin dipelajari para siswa.

Jika ada kesulitan, para wali kelas itu harus mampu menjawab atau memberikan jalan keluar. Malah terkadang, acara muwajjah juga diisi dengan tasyji‘, yakni semacam pemberian motivasi dari wali kelas tentang belajar di Pondok Pesantren Gontor; motivasi apa saja, bisa motivasi belajar, motivasi beribadah, atau motivasi mondok. Hasilnya, jelas efektif, jika para wali kelasnya aktif-kreatif.

Tidak jarang, belajar malam terbimbing ini diisi dengan ta’hil, yakni pendalaman materi dengan mendatangkan doktor dan asatidz senior yang pakar dibidangnya.

Muwajjah juga merupakan ajang persaingan antar wali kelas. Siapa yang terbaik, paling kreatif, paling tekun membimbing siswanya, akan terlihat dari meningkatnya prestasi belajar pada ujian pertengahan dan akhir tahun.

Lebih jelas lagi, hal itu akan terlihat dari berapa siswanya yang naik kelas. Program ini akan berakhir sebentar sebelum para santri itu memasuki masa ujian: pertengahan tahun maupun akhir tahun.

Ketika itu, para santri bebas belajar di luar kelas, namun intensitasnya justru meningkat. Dalam waktu sekitar 1 bulan, tidak ada seorang siswa pun yang tidak memegang buku. Ini yang kemudian oleh Ahmad Fuadi dalam novelnya “Negeri 5 Menara” disebut pesta belajar. Everywhere n’ Anywhere berada, para santri itu akan membawa buku: ke masjid, ke dapur, antre mandi dan wesel tidak lepas dari buku.

2. Majelis Tashih UN

Sejak awal berdirinya KMI, Gontor sudah memiliki mejelis tashih, yakni majelis yang mengkoreksi soal-soal yang akan diujikan dalam ujian pertengahan tahun, akhir tahun, ujian pelajaran sore dan UN (Ujian Nihai).

Anggota majelis itu tentu saja orang-orang pilihan, yang matang dalam hal ilmu pengetahuan dan memiliki kebijaksanaan. Master Teacher berbagai mata pelajaran yang diajarkan dalam Kulliyatu-l-Mu‘allimin al-Islamiyyah (KMI).

Tradisi tashih soal di Gontor ini, dianggap sangat penting, disunnahkan sejak awal KMI berdiri. Saat Kyai Imam Zarkasyi menjadi Direktur KMI dijadikan pejabat publik di Madiun oleh Jepang sekitar tahun 1940-an, tashih soal pun tetap dilakukan.

Ustadz Shoiman Luqmanul Hakim, salah satu guru KMI dan panitia ujian ketika itu membawa soal-soal Ujian KMI ke Madiun untuk di-tashih oleh Kyai Imam Zarkasyi. Yang luar biasa, perjalanan ke Madiun ditempuh dengan sepeda ban mati, tidak dapat dipompa. Beliau mengisahkan,

Berkali-kali kami harus istirahat. Ban mati itu, kalau kepanasan, akan memuai, dan akhirnya lepas dari velg-nya. Maka, harus berhenti sampai kembali dingin. Baru kami berangkat lagi.

Tashih soal harus cermat dan hati-hati. Tidak boleh ada pertanyaan yang membuat siswa sulit menjawab.1 Jadi, bukan hanya isi soal, melainkan juga cara bertanyanya di-tashih. Koreksi ini berlaku untuk soal ujian tulis maupun lisan.

Setidaknya, klasifikasi soal harus meliputi perintah menjawab, menyebutkan, dan menjelaskan. Soal juga harus to the point pada materinya. Misalnya Ilmu Nahwu, soal ujian harus fokus pada tujuan sejauh mana pemahaman santri pada materi. Tidak perlu panjang lebar menjelaskan definisi jumlah mufidah, contohnya. Karena hafal pengertian sesuatu, tidak membuktikan paham isinya.

Yang lain —ini yang penting—, soal tidak boleh menyebut nama guru pondok yang masih hidup. Misalnya, contoh kalimat bahasa Indonesia, “Ustadz Anu mengajar dengan penuh semangat.” Tidak boleh. Hal ini demi menjaga wibawa guru tersebut, betapapun isi kalimatnya baik.

Karenanya, penyebutan nama pejabat publik, misalnya dalam soal ujian Bahasa Indonesia, bagaimana pun bunyinya dan dengan tujuan apapun, agaknya tidak bijaksana.

Masih sangat banyak contoh soal/alinea yang lain. Setidaknya, nama lain yang tidak eksplisit. Penyebutan itu, tentu saja dapat ditafsirkan bermacam-macam, termasuk dinilai sangat konotatif atau dianggap tendensius, karena situasinya.

Pertanyaan besarnya, “Apakah Mendikbud tidak mempunyai Majelis Tashih?”

Terlepas dari 2 hal di atas, entah pemerintah Indonesia sudah menerapkannya atau tidak. Seandainya pun telah dilakukan pemerintah, tidak semata-mata meniru Gontor, bahkan tahu Gontor saja mungkin juga belum. Akan tetapi, yang pasti, sekali lagi, idenya itu sudah diterapkan di Gontor sejak beberapa dekade silam.

By:

  • Nasrullah Zarkasyi
  • Penyunting

╲╭━━━━╮╲╲╭━━━━━━━━━━━━━━━━━━━╮
╲┃╭╮╭╮┃╲╲ Tarjun Najata wa lam tasluk maslikaha
┗┫┏━━┓┣┛╲╰┳╮innas safinata laa tajri a’lal yabas!
╲┃╰━━╯┃━━━╯╰━━━━━━━━━━━━━━━━━╯
╲╰┳━━┳╯╲


1Tidak ada jawabannya, di luar materi ajar atau mengada-ngada.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here