SHARE
Jamaah islam liberal adalah

Setiap pemeluk agama “berhak” meyakini kepercayaannya masing-masing. Begitu juga seorang muslim harus beriman Islam adalah agama yang benar dan dibenarkan. Allah  berfirman dan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam:

إن الدين عند الله الإسلام

Sungguh hanya Islam agama yang diridhai Allah. (Ali Imran: 9)

ومن يبتغ غير الإسلام دينا فلن يقبل منه وهو في الآخرة من الخاسرين

Siapa saja yang memeluk agama selain Islam, pasti tidak akan diterima (agama itu), dan di akhirat kelak ia termasuk orang yang rugi. (Ali Imran: 85)

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

Demi Allah yang mengenggam jiwaku (Muhammad). Tidaklah seorang Yahudi maupun Nasrani yang mendengar tentang Aku, kemudian ia meninggal sedangkan ia tidak beriman terhadap risalahku (Islam), melainkan ia akan dijadikan penghuni neraka.(Muslim)

Meskipun sudah dijelaskan secara gamblang, ada saja orang yang mengaku muslim tapi membantah ayat dan hadits di atas dengan menyatakan, “semua agama sama”. Akibatnya, pemurtadan merajalela.

Bisa jadi, pernyataan ini benar adanya jika dibandingkan sesama agama penyembah patung. Tetapi tidak demikian halnya dengan agama Islam yang meng-Esakan Pencipta Alam. Tentu saja kita tidak bisa menyetarakan tauhid dengan dinamisme, animisme, politeisme dan henoteisme.

Pada dasarnya liberalisme bertentangan dan dimusuhi semua agama di dunia. Lihat saja bangsa Yahudi yang kokoh dengan pendapat, bahwa merekalah satu-satunya umat yang akan masuk surga. Allah berfirman:

قل يا أيها الذين هادوا إن زعمتم أنكم أولياء لله من دون الناس فتمنوا الموت إن كنتم صادقين

Katakanlah: “Hai orang-orang Yahudi, jika kamu mengaku bahwa hanya kamu kekasih Allah bukan golongan lain, maka harapkanlah kematianmu, jika kamu adalah orang-orang yang benar”.(al-Jumuah: 6)

قل إن كانت لكم الدار الآخرة عند الله خالصة من دون الناس فتمنوا الموت إن كنتم صادقين

Katakanlah: “Kalau kamu benar, bahwa surga diciptakan Allah khusus untukmu, bukan untuk orang lain, maka inginkanlah kematianmu.(al-Baqarah: 94)

Orang yahudi tidak setuju dengan liberal, buktinya mereka saja tidak mau dibilang muslim.

Begitu hina dan tidak punya jati diri kah umat Islam, hingga ingin disama-samakan dengan umat lain, sementara mereka sendiri menolak disamakan dengan kita?

Lihat juga orang Kristen, mereka berkata Nabi Isa adalah tuhan yang akan menjadi juru selamat. Siapa yang tidak meyakini mesias mereka, tidak akan masuk surga.

Bagi umat kristiani, orang Islam adalah domba tersesat yang akan masuk neraka karena tidak menyembah Isa al-Masih.

Untuk mengetahui liberalisme, kita perlu membaca sejarah awal munculnya. Gerakan ini bermula dari konflik menentang kungkungan doktrin tidak masuk akal dan kekuasaan yang semena-mena serta tidak manusiawi yang akhrinya disebarkan melalui penjajahan juga.

Potensi merusak ini akhirnya digunakan oleh orang-orang Yahudi dan Kristen yang tidak setuju dengan gerakan liberal itu sendiri untuk menyerang Islam dari dalam. Anehnya lagi orang-orang Islam belajar agama Islam dan liberal di negeri kafir (negara yang mayoritas non-muslim, negara yang mengekang bahkan tidak suka dengan Islam).

Namun, tidak demikian dengan Islam. Agama yang dibawa Nabi Muhammad ﷺ ini sangat menjunjung tinggi logika, berfikir dan kemanusiaan. Bahkan, agama bukan lagi sebagai doktrin tapi ilmu.

Karena perbedaan inilah kita harus mewaspadai paham-paham liberal yang berbahaya serta membantah argumen sesat mereka dengan memahami apa itu jaringan Islam liberal dan bagaimana pola pikir mereka.

1. Pencitraan

Orang-orang liberal sering menyuarakan moral, keadilan dan toleransi untuk menarik perhatian manusia dan pencitraan, tetapi dibalik itu semua mereka menyembunyikan niat busuk.

Ketahuilah Islam telah mengajarkan toleransi sejak dulu. Islam telah mengatur bagaimana hidup di beragama di negara Pancasila. Islam telah mengatur cara bernegara di wilayah yang memiliki banyak keragaman.

Mengajarkan toleransi kepada umat Islam, sama saja mengajarkan ikan cara berenang.

Bacalah sejarah hijrah Nabi ke Madinah, di sana shallallu alaihi wa sallam bertemu banyak komunitas seperti Yahudi, Nasrani, majusi dll.

Rasulullah membuat peraturan-peraturan yang menjaga hubungan antar umat beragama. Beliau mengajarkan nilai toleransi tertinggi, sesuai dengan batasan yang pasti.

لكم دينكم ولي دين

Untukmu agamamu dan untukku agamaku.(al-Kafirun: 6)

Silakan beribadah dengan keyakinan kalian, kami tidak akan ganggu.

Ketika Khalifah Umar bin Khattab membebaskan Yerussalem, tidak satupun gereja yang dirampas menjadi gereja. Bahkan tidak membiarkan celah bagi orang Islam mengambil alih.

Saat Sultan Muhammad al-Fatih menaklukkan Byzantium, tidak ada satu bangunan gereja pun yang dibakar, bahkan lukisan di Hagia Sophia yang mengilustrasikan Nabi Isa dan Ibunda Maryam tidak sedikitpun dihapus.

2. Definisi Islam Liberal

Secara umum Islam Liberal adalah sebuah paham penafsiran tentang ajaran Islam yang berlandaskan pada nilai-nilai liberalisme di atas. Gerakan ini datang dengan interpretasi tentang “Islam Baru” yang seolah modern, dan ilmiah, namun brutal.

Sedangkan Jaringan Islam Liberal adalah forum terbuka untuk membahas dan menyebarluaskan konsep liberalisme Islam di Indonesia.

Secara bahasa liberal itu sendiri artinya bablas eh… ‘bebas’ maksudnya. Jika dikaitkan dengan Islam; “Islam Liberal” artinya Islam Bebas. Tuh, Namanya saja sudah keliru serta kontradiktif. Karena Islam adalah agama yang berlandaskan aqidah dan Aqidah (عقيدة) artinya mengikat.

Islam sebagaimana agama lain, datang untuk mengatur dan mengarahkan hidup manusia. Jika kebebasan adalah sesuatu yang harus dijunjung tinggi, untuk apa ada agama? Untuk apa para nabi dan rasul diutus? Biarkan saja manusia sebebas-bebasnya melakukan yang ia suka!

Kebebasan seseorang dibatasi oleh kebebasan orang lainnya.

3. Pernikahan Sejenis

Cinta suami istri

Fitrahnya manusia menyukai lawan jenis dan Islam pun melarang cinta sesama jenis. Baca kisah kaum Nabi Luth yang ditimpa hujan-batu api.

Menurut orang liberal, kaum sodom diadzab bukan karena penyimpangan seksual yang mereka lakukan (suka sejenis; lesbian dan gay). Melainkan karena mereka melakukan kekerasan (KDRT) ketika berhubungan intim. Bagi JIL, lesbi dan hombreng adalah pemberian Allah -subhanallah- yang harus mendapatkan kebebasan.

Pertanyaanya adalah jika benar adzab tersebut akibat cara berhubungan yang keliru, apakah pantas mereka diazab dengan hujan batu? Tanyakan, mana dalilnya? Karena al-Quran sendiri menyebutkan penyimpangan mereka adalah LGBT.

Tidak hanya itu, parahnya lagi JIL mengutip ayat suci al-Quran sebagai dalih pembenaran perbuatan keji:

والله جعل لكم من أنفسكم أزواجا …

Allah telah menjadikan untuk kalian pasangan dari jenis kalian…

Padahal, ayat tersebut belum habis dan ada lanjutannya:

…وجعل لكم من أزواجكم بنين وحفدة ورزقكم من الطيبات أفبالباطل يؤمنون وبنعمت الله هم يكفرون

…dan memberikan kalian anak-cucu dari istri-istri kalian dan memberi rezeki dari yang baik-baik. Apakah mereka beriman kepada yang batil dan mengingkari nikmat Allah? (an-Nahl: 72)

Perhatikan tulisan yang berwarna merah. Dari mana bisa punya keturunan, kalau lesbi dan gay? Apa gak mikir! Lagi pula, maksud “dari jenis kamu” itu adalah manusia nikah sama manusia, jin dengan jin.

| Baca juga: Nikmat dan idealnya menikah di usia muda

4. Standar Ganda

Tokoh liberal hari ini adalah orang yang tidak berpendirian tetap. Kritik mereka ditujukan hanya kepada Islam.

Contohnya, mereka mencemooh wanita bercadar, merendahkan syariat berhijab. Tapi, tidak pernah menyinggung wanita yang berpakaian minim. Tidak pernah kita mendengar mereka mengeluarkan pernyataan yang menyinggung pakaian minim, ketat dan setengah telanjang yang dikenakan wanita.

Bukankah mengenakan niqab, burqa, jilbab, kerudung syari adalah hak setiap wanita dan muslimah. Dengan pakaian tersebut mereka merasa aman karena menutup aurat. Biarkanlah para wanita beriman merasa nyaman dengan hijabnya.

Apakah karena kerudung adalah bagian dari syiar Islam, lantas mereka mengolok-ngoloknya?

Dunia ini besar, banyak permasalah yang harus diselesaikan. Terlalu bodoh menghabiskan waktu untuk menghina hijab syari, celana cingkrang dan jenggot.

Ketika ada pemerintah yang mau menggunakan hukum Islam, mereka protes dan teriak sekeras-kerasnya. Tapi, mengapa tidak pernah menyinggung negara lain yang menerapkan hukum agama lain? Apakah karena negara lain itu pernah memberinya beasiswa? atau, Apakah karena negara lain itu bukan Islam?

Hukum adalah upaya negara untuk melindungi rakyat dan menyejahterakan mereka. Setelah diteliti, hukum Islam adalah solusi terbaik mengentaskan kemiskinan dan kriminal. Lantas mengapa usaha baik untuk menerapkan hukum Allah ditentang dan ditolak mentah-mentah?

Toh, nyatanya ada negara yang katanya demokrasi dan maju, tapi keadaanya tidak lebih baik dari negara berkembang. Tingkat kemisikinan lebih tinggi, bahkan jumlah kejahatannya lebih menakutkan.

Kalau mau liberal, jadilah tokoh liberalisme sejati. Dukung kebebasan setinggi-tingginya dan biarkan muslimin mendirikan ibadah. Mengapa yang diusik hanya yang Islam-islam saja!

5. Agama Moral dan Karakter

Dalam pemahaman jaringan liberal, yang penting manusia itu bermoral, gak ada urusan sama agama. Agama gak perlu, selama orang itu baik dan berkarakter. Pernyataan ini seolah benar, tapi menyesatkan.

Sebenarnya, melihat perbandingan yang disediakan sangat tidak adil. Pasalnya moral dan akhlak adalah bagian dari agama, kenapa dipisahkan? Seharunya statement yang tepat adalah:

Orang beragama seharusnya bermoral. Kalau tidak berakhlak, keberagamaan Anda dipertanyakan.

Lihat kisah Nabi Sulaiman yang berdakwah sampai negeri Ratu Balqis. Bukan karena pemimpinnya bengis atau penduduknya pelaku dosa, tapi karena mereka menyembah matahari.

Kalau akhlak mulia saja cukup mengantarkan manusia ke surga, maka paman Nabi Muhammad , Abu Thalib berhak masuk surga. Kenyataannya…

ما كان للنبي والذين آمنوا أن يستغفروا للمشركين ولو كانوا أولي قربى من بعد ما تبين لهم أنهم أصحاب الجحيم

Tidak patut bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) untuk orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kerabat, sesudah jelas bagi mereka bahwa orang-orang musyrik itu, adalah penghuni neraka Jahanam.(at-Taubah: 113)

[vc_tta_tabs style=”modern” shape=”square” color=”vista-blue” active_section=”1″ no_fill_content_area=”true”][vc_tta_section title=”Baca:” tab_id=”1480577970750-32f87288-1ded”][/vc_tta_section][vc_tta_section i_icon_fontawesome=”fa fa-share-square-o” title=”Dialog agama moral” tab_id=”1480577971011-9c971c61-7917″ add_icon=”true”]

Seorang pemuda bertanya pada Kiyai.

Pemuda: Pak Kiyai, ada orang baik banget, akhlaknya mulia, anti korupsi, rajin beramal, sayang sama binatang, sampai hidupnya sendiri dikorbankan untuk menolong orang banyak, tapi dia kafir, kalau mati apakah dia akan masuk surga?

Kyai: Tidak, dia dicemplungin ke neraka.

Pemuda: Loh, kan dia orang baik. Kenapa masuk neraka?

Kyai: Karena dia bukan Muslim.

Pemuda: Tapi dia orang baik Kiyai. Banyak orang yang tertolong termasuk orang Islam. Dia  suka memberikan santunan yatim-piatu. Kayaknya Tuhan jahat banget, kalau sampe orang baik pun dimasukin ke neraka.

Kyai: Allah tidak jahat, hanya adil.

Pemuda: Adil dari mana?

Kyai: Kamu sekolahnya sampai tingkatan apa?

Pemuda: Saya Doctor of Philosophy, ada apa emangnya?

Kyai: Kenapa kamu bisa dapat titel doktor?

Pemuda: Yaa karena kuliah disana, sampai lulus wisuda.

Kyai: Dulu kamu daftar ke sana? Namamu tercatat di universitas?

Pemuda: Ya jelas dong.

Kyai: Kira-kira kalau kamu gak daftar, tapi kamu tetap hadir di perkuliahan, diam-diam ikut ujian, bahkan kamu dapat nilai sempurna, apakah kamu tetap akan dapat ijazah?

Pemuda: Jelas enggak donk, itu namanya mahasiswa ilegal, sekalipun dia pintar, dia nggak terdaftar sebagai mahasiswa, universitas saya sangat ketat mengenai administrasi.

Kyai: Berarti kampusmu jahat dong, ada orang sepintar itu gak dikasih ijazah hanya karena tidak mendaftar?

Pemuda: *….terdiam…..*

Kyai: Gimana?

Pemuda: Ya nggak jahat sih Pak Kiyai, itu kan aturan, salah si mahasiswa kenapa tidak daftar, konsekuensinya ya nggak dapat ijazah dan titel resmi dari universitas.

Kyai: Nah, kalau kampusmu saja ada aturan, apalagi dunia dan akhirat. Kalau surga diibaratkan ijazah; dunia adalah bangku kuliah; maka syahadat adalah pendaftaran awalnya; shalat, zakat dan puasa adalah proses belajar dan ujian. Tanpa pendaftaran, mustahil kita diakui dan dapat ijazah, sekalipun kita ikut kuliah dan mampu melaluinya dengan gemilang. Itu adalah aturan, menerapkannya bukanlah kejahatan, melainkan keadilan.

[/vc_tta_section][/vc_tta_tabs]

6. Kaidah Agama Liberal

Perlu diketahui, liberalisme adalah agama yang tidak memiliki kaidah dasar. Sedangkan Agama Islam sangat jelas panduan dan landasannya. Islam memiliki al-Quran, Hadits, Tafsir, Ushul Fiqh, bahkan ditingkat bahasa ada pedomannya seperti nahwu, shorof, balaghah dll.

Islam punya hukum Fiqh yang menerangkan rukun dan syarat ibadah. Zakat, puasa dan haji ada ketentuannya, tidak sebebas-bebasnya.

Namun tidak demikian dengan Jaringan Islam Liberal. Ketika mengkaji al-Quran mereka tidak menggunakan ilmu tafsir, bahkan alat memahami bahasa Arab seperti nahwu dan shorof pun masih belepotan.

Saat mempelajari hadits, mereka tidak lagi melihat asbabul wurud, musthalahul hadits, balaghah dan konteks. Ketika ulama A mengeluarkan fatwa ‘a’, mereka mengatakan “terlalu mengikat”. Ketika ulama B berfatwa ‘b’, mereka mengatakan “terlalu mengekang”. Lantas, mau mereka apa?

Namanya aturan ya mengikat. Karena tujuan awal dibentuknya adalah untuk mengontrol. Kalau tidak setuju, bentuk sendri dasar keilmuan seperti di atas; ushul fiqih versi liberal, musthalah versi liberal, nahwu versi liberal. Dapat dipastikan, tidak ada yang ilmiah.

| Khazanah dasar Islam: Kaidah dan Panduan Hukum Fiqih Pranikah, Terjemah Matan Goyah

Kitab suci al-Quran hidayah di turunkan ramadhan

7. Al-Quran Produk Budaya

Tokoh-tokoh liberal Indonesia kerap kali menyatakan bahwa al-Quran adalah produk budaya, hasil kerjasama Muhammad dan Allah sehingga tidak lagi relevan dan berfungsi di zaman modern terutama Indonesia.

Paham ini akibat dari mengambil pemikiran para filsuf yang mengatakan bahwa Tuhan tidak bisa berbicara. Oleh karena Allah tidak bisa bicara, tatkala menurunkan ayatnya, Tuhan terpaksa menggunakan bahasa Sang Nabi yang kebetulan orang Arab. Seandainya Muhammad orang priangan, Quran pun akan berbahasa sunda. Seandainya Muhammad orang Yogyakarta, Quran pun akan berbahasa jawa.

Kesimpulan jaringan Islam liberal; Quran bukan bahasa Allah. Karena kitab tersebut adalah gagasan Allah yang ditafsirkan Muhammad. Tidak murni perkataan Tuhan yang berarti bukan mukjizat, tidak suci, shalat boleh pakai bahasa Indonesia.

Untuk membantah pernyataan ini, kita harus membaca al-Kitab al-Quran yang menyatakan Allah benar-benar dapat berbicara:

وناديناه من جانب الطور الأيمن وقربناه نجيا

Kami telah memanggilnya (Musa) dari sebelah kanan gunung Thur dan Kami telah mendekatkannya kepada Kami di waktu dia munajat (kepada Kami).(Maryam: 52)

وأنا اخترتك فاستمع لما يوحى

Aku telah memilihmu (menjadi nabi), maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan.(Thaha: 13)

Perhatikan pilihan kata dan makna yang berwarna merah. Memanggil dan mendengar adalah 2 kegiatan yang melibatkan suara dan bunyi. Dengan kehendak-Nya, manusia seperti Nabi Musa pun dapat mendengar suara Allah.

Lagi pula, Allah yang menciptakan alam, apalah artinya bahasa bagi Ilah jagat raya, amatlah remeh bagi-Nya, lebih dari itu Dialah pencipta setiap bahasa.

Jadi, pernyataan kaum liberal di atas adalah penyesatan, sebagaimana buyut mereka Walid bin Mughiroh pernah berkata,

إن هذا إلا قول البشر

Tidak lain, kitab al-Quran ini hanyalah perkataan manusia.(al-Muddatsir: 25)

Kemudian dengan tegas Allah menjawab.

سأصليه سقر

Akan ku masukkan ia ke dalam neraka Saqar.(al-Muddatsir: 26)

Secara tidak langsung mereka ingin menyatakan, bahwa al-Quran adalah buatan manusia sehingga tidak pantas dijadikan pedoman. Karena itulah mereka berhak dijebloskan ke dalam neraka.

Sebenarnya, Allah telah menantang siapa saja yang meragukan kebenaran dan keotentikan al-Quran al-Hakim, kalau berani buatlah tandingan yang serupa dengan kitab suci al-Quran (al-Baqarah: 23, Yunus: 28 dan  Hud: 14).

Ternyata, sampai hari ini tidak ada yang mampu membuat yang serupa dengan al-Quran. Kalau al-Quran ciptaan Nabi Muhammad, seharusnya Abu Jahal dan komplotannya bisa membuat yang seperti al-Quran.

Selain itu, gaya bahasa Quran sebagai firman Allah dan Hadits sebagai sabda Nabi Muhammad sangatlah jauh berbeda. Hal ini memberikan indikasi bahwa al-Quran tidak mungkin dibuat Muhammad Rasulullah.

| Silakan baca: Sejarah Singkat Kodifikasi al-Quran di zaman Nabi Muhammad

8. Al-Quran Kitab Dongeng

Tidak hanya meragukan kebenaran Kitabullah, tokoh jaringan Islam liberal pun ada yang mengatakan bahwa kisah-kisah dalam al-Quran hanyalah cerita yang tidak faktual. Sama seperti cerita kancil dan film fiksi spiderman, yang penting adalah pesan yang terdapat di dalamnya.

Adanya dongeng-dongen dimaksudnya untuk menakut-nakuti manusia, yang penting baik. Pemikiran sesat ini berangkat dari pemahaman bahwa al-Quran adalah produk budaya Arab.

Pendapat ini juga secara terselubung mereka mengatakan “Allah pendongeng dan pendusta” sedangkan kita sendiri saja, tidak suka dikatakan ‘tukang dongeng’.

| Menarik dibaca: Kitab suci al-Quran jaminan hidup umat Islam

9. Serba Relatif

Di antara banyaknya kebodohan kaum liberal adalah polapikir “segala hal itu relatif”. Ketika diajak berdiskusi, kemudian argumen mereka terbantahkan, tidak segan kelompok ini mengatakan, “Itukan menurut kamu. Kebenaran tidak ada yang absolut”

Kenyataannya di dunia ini banyak sekali hal yang mutlak, seperti; 1+2=3, Api itu panas, langit itu di atas, ayah pasti lebih tua dari anaknya, lantai 4 lebih tinggi dari lantai 2. dsb.

Kalau penganut liberalisasi Islam mengatakan “tidak ada yang absolut, yang ada hanya relatif”, berarti pendapat mereka itu juga relatif, tidak benar, konyol.

Absolut dan mutlak adalah suatu keniscayaan yang tak terbantahkan. Tanpa kepastian, dunia ini akan tambah berantakan.

Misalnya, ketika polisi akan menangkap tersangka korupsi, kemudian koruptor itu menolak dengan dalih, “Menurut Anda korupsi itu kriminal dan terlarang, menurut saya tidak.” Akibatnya, tidak ada pelaku kejahatan yang dihukum dan kriminal merebak di mana-mana.

Sama seperti perkataan ngeyel di atas, biasanya tokoh liberal senang mengatakan,  “Jangan memonopoli kebenaran, kebenaran itu ada dimana-mana.” Kedengarannya indah, namun ini adalah racun.

| Al-Maidah: 51, Kasus Tafsir, Terjemah dan Penistaan Agama.

10. Dalil Sesat al-Quran

Tidak jarang orang jaringan Islam liberal mengutip ayat-ayat al-Quran. Sayangnya, sebagaimana kami sampaikan pada poin no. 6, mereka tidak punya landasan keilmuan, akhirnya pendalilan mereka ngaco. 

Contoh:

فويل للمصلين

Celakalah orang yang mengerjakan shalat. (al-Ma’un: 4)

“Lihat! al-Quran sendiri mengatakan “orang shalat juga celaka”. Jadi, untuk apa shalat.

 

Mereka buta, tidak meneliti gaya penuturan al-Quran yang berbahasa arab, asal bunyi, cuma baca terjemahan. Mereka tidak lihat di sana ada isim maful, selalu saja memotong ayat, tidak membaca ayat sesudah dan sebelumnya.

| Tambah wawasan keislaman Anda dengan membaca: Sejarah Awal Terbentuknya Mushaf al-Quran

Ø Penutup

Menurut mereka, “al-Quran bukan mukjizat, tidak otentik dan tidak berfungsi lagi. Syariat tidak berguna, terlebih di Indonesia zaman modern. Tidak perlu syariat Islam karena semua agama sama.”

Pertanyaanya, kalau semua agama sama, kenapa mereka nebeng nama Islam, bawa-bawa agama Islam “Jaringan Islam Liberal”? Buat saja agama tersendiri, atau cukup gunakan nama “Jaringan Liberal” saja.

Liberal ada untuk kebebasan brutal, sedangkan Islam hadir untuk mengontrol dan menjaga. Bagaimana bisa disatukan. Sementara itu kita tahu, Islam tidak bisa dilepaskan dari al-Quran yang berisi syariat Islam. Tanpa syariat, bukan Islam namanya.

Tahukah Anda?

Sumber:

  • al-Quran al-Huda
  • Shahih Muslim
  • Setiawan, E. (2013). KBBI v1.5.1. Indonesia.
  • http://bersyukurdanikhlas.com/aya-sofia-saksi-kejayaan-islam-2/
  • http://www.voa-islam.com/read/military/2014/10/17/33441/sultan-muhammad-alfatih-sang-penakluk-konstantinopel/
  • http://www.perpusku.com/2016/03/pengertian-liberalisme-sejarah-liberalisme-praktik-liberalisme.html
  • Abdalla, Ulil Absar. http://islamlib.com/kajian/quran/quran-dan-spider-man/ (situs islam liberal)
  • Boliviar, Simon. http://www.kompasiana.com/simonmanalu/teori-liberalisme_563f6036d47a616d05fd04a4
  • Hadi, Nurfitri. https://kisahmuslim.com/3825-pembebasan-jerusalem-di-masa-umar-bin-khattab.html
  • Martha, De Baron. http://www.kompasiana.com/dbmartha/liberalisme-dalam-islam_552add726ea8341f17552cfb
  • https://id.wikipedia.org/wiki/Jaringan_Islam_Liberal

3 COMMENTS

  1. MasyaAllah bagus sekali tulisannya, semoga yg masih ikut” jaringan liberal atau apa pun yg menyesatkan, tersadar dengan adanya tulisan ini, amiiin ☺☺☺

  2. Salut buat penulis
    . .menambah pemahaman saya terhadap kesesatan Jil. Semoga jadi ladang amal ibadah yang berkelimpahan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here