SHARE
Jatuh Cinta dalam Islam
Pendidikan Mencintai Lawan Jenis

Dewasa ini, Zina atau freesex sangat merajalela di mana-mana. Anak remaja zaman sekarang juga cepat sekali akil baligh. Sayangnya, tidak dibarengi kedewasaan dan ilmu yang mantab.

Itulah yang ditakutkan bepotensi terjadinya hubungan intim di luar penikahan akibat ketidakmampuan menyaring tontonan dan konten yang buruk.

Atas dasar kekhawatiran itu, kami ingin mencoba membantu orang tua untuk mengontrol putra-putri mereka dengan cara berkomunikasi.

Apa manfaatnya komunikasi?

Dengan komunikasi ini, bapak-ibu dapat mengetahui apakah anak-anak mereka sudah menjadi korban dari pergaulan bebas yang semakin brutal atau tidak.

Kalau sudah tahu, apa gunanya?

Setelah mengetahui apakah buah hati Anda korban, tersangka atau bukan, ortu dapat mengambil tindakan tepat sehingga tidak berlaku dzalim.

Contoh Komunikasi Dengan Anak

Perlu diketahui, teks komunikasi ini hanya contoh. Dapat digunakan untuk masalah pelik lainnya, yang biasanya mengundang kebingungan atau keseganan ketika diutarakan, tentunya dengan modifikasi beberapa kata.

Pertama, sebelum melakukan perbincangan sebaiknya orang tua memperhatikan psikologi dan kondisi anak. Dengan siapa lebih dekat, ayah kah atau mamah. Bicarakan ketika anak tidak sedang lelah.

Ciptakan suasana kondusif, misalnya setelah semua kegiatan selesai, contohnya ba’da shalat Isya. Bisa juga setelah makan malam, ada pepatah berbahasa Arab mengatakan:

الأكل اللذيذ في الجسم سليم

Makanan lezat di badan pun nikmat.

Kedua, setelah semua keadaan mendukung, panggil anak satu persatu ke kamar. Tutup pintu. Cukup 1 anak dengan 1 orang tua, supaya nyaman. Kita ambil contoh dari sosok ibu:

  • Ibu: Nak, pengang tangan mamah nak.
  • Anak: Ada apa mah?
  • Ibu: Jujur demi Allah. Kalau kamu mau, kamu bisa bohong sama mamah nak. Tapi, Allah menyaksikan di mana pun kamu.
  • Anak: Ada apa sih mah?
  • Ibu: Jujur ya nak. Kamu sudah pernah melakukan hubungan sex? Mamah tidak marah.

Ketiga, pastikan jawabannya antara 2. “Ya Sudah” atau “Tidak”.

  • Kalau dijawab “tidak/belum”:
  • Anak: Belum
  • Ibu: Alhamdulillah. Jaga ya nak. Ada waktunya setelah pernikahan, in sya Allah. Mamah bangga dengan kamu.
  • Kemungkinan ke-2 “Ya” Ibu/Bapak jangan panik. Tarik tangannya, peluk dia, luapkan emosi, puaskan nangis kalau bisa. Bisikan di telinganya kalimat yang memotivasi.
  • Ibu: Mamah masih bangga dengan kamu, nak. Kamu sudah jujur dengan mamah malam ini. Demi Allah, jangan lakukan kembali ya… 9 bulan 10 hari, kamu dalam rahim mamah. Susah payah mamah melahirkan kamu, jangan dikhianati dengan bermaksiat pada Allah ya nak. Taubat ya nak, hari ini mamah maafkan.

Keempat, jangan bikin panik, jangan perumit masalahnya. Jadikan diri ibu/bapak sebagai sahabat terbaik anak.

Kelima, setelah selesai semua itu diajukan pertanyaan selanjutnya Anda bisa tanyakan hal-hal lain sebagai acuan untuk melakukan tindakan kedepannya sebagai sikap dan tanggung jawab orang tua: 1. Kapan melakukan hal itu, 2. Di mana, 3. Dengan siapa, 4. Sudah berapa kali.

Sekian atas perhatiannya. Kami senang dapat membantu Anda menciptakan keluarga sakinah.

Untuk mencegah merebaknya perziaan, sebaiknya orang tua tidak mempersulit muda-mudi untuk segera menikah dengan mempersyaratkan pekerjaan tetap dan gelar sarjana.

Dalam beberapa kasus, anak yang memiliki trauma di masa kecil juga dapat memicu tindak di luar norma termasuk zina dan pelecehan seksual.

Bisa juga disebabkan oleh kurangnya perhatian orang tua yang menyebabkan anak sedih dan mencari pelampiasan kasih sayang di luar rumah. Sekiranya semua ini jadi perhitungan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here