Sejak pertama diturunkan 14 abad lalu, kitab al-Quran sudah dijamin keautentikannya. Inilah yang menjadi daya tarik manusia untuk memeluk agama Islam. Karena dianggap suci dan berasal dari Tuhan Sang Pencipta.

Selama itu pula orang-orang menggali dan mencari kesalahan kitab suci ummat muslim. Sayangnya, mereka semua gagal paham alias goblok bin bego, contohnya: Abu Jahal dan Abu Lahab.

Orang Kafir Membuktikan Kesalahan al-Quran

Ketika Allah subhanahu wa taala berfirman:

تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ . مَا أَغْنَىٰ عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ . سَيَصْلَىٰ نَارً‌ا ذَاتَ لَهَبٍ .

Celaka, pasti binasa Abu Lahab. Harta benda dan usahanya tidak akan bermanfaat. Kelak dia akan masuk ke dalam api neraka yang bergejolak. (al-Lahab: 1-3)

Secara tegas, ayat di atas menjelaskan bahwa Abu Lahab pasti masuk neraka. Orang musyrik Quraisy ini seharusnya membuktikan al-Quran itu salah dan tidak terbukti kebenarannya.

Caranya, cukup (pura-pura) masuk Islam dan (pura-pura) berkarakter baik. Lalu beberapa tahun kemudian, cukup berkata, “Bukankah orang yang masuk Islam itu diampuni seluruh kesalahan masa lalunya? Bukankah setelah masuk Islam, aku selalu taat terhadap perintah Allah dan Rasul-Nya?”

Maka, pastilah banyak muslim yang murtad keluar dari Islam karena sudah menganggap firman Allah dalam surat al-Lahab tersebut salah dan keliru.

Namun, Abu Lahab selalu istiqamah untuk membuktikan bahwa ayat tersebut benar, sampai akhir hayatnya, dia menjadi penentang Islam nomor satu. Maka terbuktilah Al-Quran itu benar.

Yahudi Menggugat Kesucian al-Quran

Sementara itu kaum Yahudi jauh lebih beruntung dari Abu Lahab, karena tanpa diberi batas waktu (deadline) untuk membuktikan al-Quran salah, sejak Allah berfirman:

لتجدن أشد الناس عداوة للذين آمنوا اليهود والذين أشركوا

Sungguh kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. (al-Maidah: 82)

Namun kaum Yahudi selalu istiqamah untuk membuktikan bahwa ayat tersebut benar.

Kaum Yahudi Bani Qoinuqa, Bani Nadzir, Bani Quraizah terus menunjukkan permusuhan yang paling keras kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, kaum muslimin dan khilafah.

Begitu juga kaum Yahudi lainnya dari bani lainnya terus berupaya meruntuhkan Khilafah Islam, hingga seorang Yahudi Dunamah yakni Bapak Pengkhianat Agama Mustafa Kamal –Laknatullah- berhasil meruntuhkan khilafah pada 1924, seraya menegakkan sistem demokrasi sekuler di Turki.

Tapi itukan dulu. Sekarang masih banyak kesempatan bagi kaum Yahudi untuk membuktikan al-Quran salah.

Kepalsuan al-Quran Zionis

Tidak perlu masuk Islam. Cukup (pura-pura) baik. Misalnya, dengan menarik mundur semua tentara dan pemukiman liar Yahudi di Palestina, lalu meminta maaf karena selama ini telah mendzalimi kaum Muslimin khususnya di Palestina.

Pertahankanlah (pura-pura) baik selama beberapa tahun, lalu berkata, “Apakah kami masih nampak paling keras dalam memusuhi umat Islam?”

Maka, pastilah banyak orang Islam yang murtad karena sudah menganggap firman Allah azza wa jalla dalam surat al-Maidah tersebut salah.

Muslim Menyatakan al-Quran Kitab Sesat

Bila kaum Yahudi kuno dan Kaum Yahudi modern tetap istiqamah membuktikan Al-Quran itu benar. Lain halnya dengan kaum Muslimin.

Kaum Muslimin dulu, begitu mendengar Allah -jalla wa ala- berfirman:

…اليوم أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتي ورضيت لكم الإسلام دينا…

…Hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu… (al-Maidah: 3)

Langsung secara tegas mereka menjawab, “Kami dengar dan kami taat” (sami’na wa atho’na).

Sampai-sampai begitu Rasulullah wafat, mereka sibuk mencari siapa pengganti Nabi sebagai kepala negara (khalifah). Selama tiga hari hingga dibaiatlah sahabat Abu Bakar as-Shiddiq radhiallahu anhu sebagai khalifah pertama.

Jadi, yang mereka perdebatkan hanya dalam persoalan siapa yang pantas menjadi khalifah. Bukan sistem pemerintahan apa yang akan diterapkan (padahal waktu itu ada sistem kerajaan yang sedang berjaya diterapkan oleh Romawi dan Persia dan sebelumnya ada negara polis1).

Karena mereka yakin seratus persen apa makna “sempurna”, “cukup” dan “ridha” pada al-Maidah ayat 3 di atas.

Islam agama yang sempurna karena hanya Islam dan satu-satunya yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan,2 hubungan manusia denga dirinya,3 dan hubungan manusia dengan sesamanya.4

Kesempurnaan itu merupakan nikmat dari Allah  yang “cukup” tidak perlu ditambah atau pun dikurangi karena sudah sempurna. Kaum muslimin hanya tinggal menjalankannya saja sehingga Allah subhanahu wa ta’ala “ridha”.

Menambahkan sesuatu yang telah sempurna ada cacat.

Bukti al-Quran Tidak Suci

Celakanya, mereka selalu berupaya membuktikan bahwa al-Maidah tersebut salah dengan usaha membuktikan Islam itu bukan agama yang “sempurna” sehingga dalam pemerintahan mengadopsi sistem demokrasi.

Seolah-olah nikmat Allah ini belum “cukup” sehingga mencari kenikmatan lain (kufur nikmat). Lantas bagaimana Allah akan “ridha”?

Maka berlakulah firman Allah :

ومن أعرض عن ذكري فإن له معيشة ضنكا…

Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku, maka baginya kehidupan yang amat sempit… (Thaha: 124)

Subhanallah, meski Indonesia dikaruniakan Allah kekayaan alam yang melimpah, kehidupan rakyatnya menjadi sempit karena…

-Yang dalam Islam wajib dikelola negara, haram diserahkan kepada swasta apalagi asing, lalu hasilnya dikembalikan untuk kesejahteraan rakyat melalui pendidikan, kesehatan, infrastruktur dan keamanan gratis-

…oleh kaum Muslimin Sekarang, melalui sistem demokrasi diserahkan kepada swasta dan asing (dengan istilah privatisasi dan investasi) untuk sebesar-besarnya kesejahteraan para penjajah dan antek-anteknya.

Sehingga negara tidak punya uang lagi untuk membiayai pendidikan, kesehatan, infrastruktur dan keamanan, kemudian muncullah istilah pencabutan subsidi dan penarikan pajak.

Akibatnya, kita semua merasakan kesempitan dalam penghidupan!

Sadarlah, wahai para pengusung demokrasi, bila mengaku ‘muslim’ jangan mencoba membuktikan al-Quran itu salah! Ingatlah, kita semua akan mati, bagaimana bila dibangkitkan di akhirat kelak dalam keadaan buta?

Allah subhanahu wa taala berfirman,

ومن أعرض عن ذكري فإن له معيشة ضنكا ونحشره يوم القيامة أعمى . قال رب لم حشرتني أعمى وقد كنت بصيرا . قال كذلك أتتك آياتنا فنسيتها وكذلك اليوم تنسى

Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku, maka baginya kehidupan yang teramat sempit, dan Kami akan membangkitkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. Berkatalah ia, “Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal dahulunya aku adalah seorang yang dapat melihat?” Allah berfirman, “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami kemudian kamu melupakannya, begitulah pada hari ini kamupun dilupakan.” (Thaha: 124-126)

Maka, marilah jangan alergi dengan tegaknya syariah dalam naungan khilafah… tak usah malu ataupun ragu, karena umur hanya Allah yang tahu.

Ngaku Pecinta bola Tapi Benci istilah goal, hattrick, kickoff. Siapa Anda?

Muslim kok alergi istilah jihad, khilafah, mudharabah, dan wadiah. Anda waras?

Baca juga: Membantah Orientalis Liberal Indonesia, al-Quran Kitab Dongeng

Note:

  • Tulisan ini bersumber dari Bapak Joko Prasetyo dan Zakir Naik.
  • Ada sejumlah penyuntingan yang tidak merubah makna dan gagasan.

_____________

Negara-kota atau wilayah yang dikelola secara eksklusif oleh suatu kota, biasanya dengan memiliki kedaulatan.
2 Hablum minallah seperti, akidah dan ibadah mahdoh.
3 Hak seseorang terhadap dirinya, seperti makan, tidur, mandi, dan menutup aurat.
Hablum minannas yang diwujudkan dalam sistem politik, sistem ekonomi, sistem pergaulan pria-wanita, sistem pendidikan, sistem sanksi (punishment), politik luar negeri, dll.

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here