SHARE
Mushaf al Quran Sunnah Syariah Fiqh

Membedakan antara pengertian syariat Islam dengan Fiqih Islam adalah suatu hal yang sangat krusial bagi kita, dimana sering terjadi perselisihan hanya karena masalah sepele yang seharusnya tidak perlu diributkan.

Pengertian Syariat adalah teks-teks suci yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad, baik al-Quran maupun as-Sunnah, yang mana sunnah sendiri adalah terjemahan, penjabaran dan praktek dari al-Quran.

Sedangkan Fiqih Islam adalah hasil konklusi dari pemahaman para Ulama Fiqih atas teks-teks suci tadi.

Sebuah kesalahan ilmiah mencampuradukkan atau tidak membedakan antara Syariah dengan Fiqih. Karena Syariah itu “ma’shumah” alias “tidak bisa salah”, semua isinya adalah kebenaran yang harus kita imani, kita lakukan, dan di dalamnya semua kebaikan dan kemaslahatan kita di dunia dan akhirat.

Sedangkan Fiqih adalah hasil cipta karya para Ulama Fiqih yang berdasarkan pemahaman, kajian, dan telaah mereka terhadap Syariah. Karenanya, wajar kalau ada perbedaan pendapat di antara mereka dalam satu masalah yang sama, setinggi apapun derajat dan keilmuwan mereka, masih tetap saja mereka manusia yang bisa benar dan bisa keliru.

Hal ini tidak berarti kalau Fiqih itu tidak ada harganya dan tidak besar nilainya, bukan demikian, tetapi disini kita maksudkan bahwa Fiqih tidak memiliki “qodasah” atau kesakralan sebagaimana yang dimiliki oleh al-Kitab dan al-Hadits.

Akhirnya Fiqih itu adalah hasil “perasan” pikiran Ulama Fiqih meskipun bersandarkan dan berdasarkan pada Kitabullah dan Sunnah, oleh karena itu sifatnya debatable, di antara mereka pun saling berbeda pendapat, sesuai dengan pemahaman dan dalil yang mereka miliki.

Dalam kata lain, Syariah adalah istilah yang memiliki nilai yang lebih tinggi karena istilah itu sendiri telah Allah gunakan dalam firmannya.

ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَى شَرِيعَةٍ مِنَ الْأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا

“Kemudian Aku jadikan kamu berada di atas syariat (peraturan/jalan) yang merupakan bagian dari agama, Maka ikutilah syariat itu…” (al-Jatsiyah: 18)

Namun, ada satu poin penting yang harus diperjelas di sini, bahwa Fiqih Islam itu memiliki dua jenis hukum:

Pertama, hukum-hukum yang ditetapkan oleh teks-teks suci tadi secara “qat’i” dan gamblang, artinya ketika membaca teks tersebut jelas tanpa perlu penafsiran atau kajian lagi, seperti:

kewajiban shalat, puasa, zakat harta, memenuhi janji, haram mencuri, zina, larangan nikah sejenis, dan lainnya yang disebut secara gamblang dalam dalil-dalil naqly, yaitu al-Quran dan Sunnah Mutawatirah.

Kedua, hukum-hukum yang di diamkan tidak dijelaskan secara gamblang serta multi-interpretasi, sehingga para ulama pun berijtihad dan hasilnya berbeda-beda. Seperti:

apakah fatihah dimulai dari basmalah atau dari “Alhamdulillah…”, apakah niat puasa ramadhan wajib diucapkan setiap malam atau tidak, apakah boleh menghitung awal Ramadhan dan akhirnya dengan hisab falaki atau tidak, berapakan nishab barang curian sehingga seorang pencuri bisa dihukum hudud, dan lain sebagainya. (Al Madkhal Al Fiqhy Al Aam, Prof. Musthafa Zarqa. Rahimahullah).

Jadi, perbedaan pendapat ulama fiqih dalam sebuah masalah merupakan khazanah dan kekayaan intelektual umat Islam yang harus dibanggakan dan dijaga, bukan diributkan atau malah jadi sumber perpecahan.

Perbedaan dan Contoh Syariah dan Fiqih

Perbedaan

Syariat

Fiqih

Istilah yang berasal dari Allah Istilah hasil ijtihad manusia
Absolut benar Relatif benar
Mutlak Kondisional
Secara bahasa lebih sakral

 

Contoh

Syariah

Fiqih

Shalat qunut, bacaan doa iftitah
Zakat jumlah nisab, takaran
Haji dan Wuquf Arafah waktu lempar jumrah
Nikah jenis mahar
Poligami lama dan giliran bermalam

Teladan Menyikapi Perbedaan Hukum Fiqih

Ikutlah kata Imam Abu Hanifah saat beliau berkata, “Kalau pendapat dan ijtihad saya bertentangan dengan kebenaran sebuah hadis, maka buang pendapat saya, dan amalkan hadis”.

Ikutilah perkataan Imam Ahmad saat ditanya kenapa shalat di belakang imam masjid bermazhab Maliki yang berbeda pendapat. Beliau berkata, “Bagaimana saya tidak shalat di belakang Imam Darul Hijrah, Malik bin Anas!”. Quote ini yang menggambarkan rasa hormat beliau.

Ikutlah kata Imam Auza’i yang selama bertahun-tahun menyebut Imam Abu Hanifah ahli bid’ah (karena belum pernah bertemu dan belum kenal, cuma dengar kata orang) saat beliau berkata setelah membaca risalah Imam Abu Hanifah yang diberikan oleh Imam Ibnu Mubarak, “Ikutilah dia, tidak akan sesat orang yang mengikutinya”.

Ikutilah para Imam besar itu saat mereka berkata, “Pendapat saya benar, tapi ada kemungkinan salah. Pendapat orang lain salah, tapi ada kemungkinan benar”.

Selevel Imam Abu Hanifah saja tidak mampu meyakinkan muridnya, Imam Malik atas pendapatnya, sehingga tercatat perbedaan ijtihad mereka yang elegan.

Secerdas Imam Malik pun tidak mampu meyakinkan Imam Syafii atas pendapatnya, sehingga tertulis indah perbedaan ijtihad mereka.

Manusia jenius seperti Imam Syafii juga tidak dapat meyakinkan Imam Ahmad atas pendapatnya, perbedaan ijtihad keduanya pun terukir dengan elok.

Siapa kita untuk memaksakan pendapat yang kita yakini kepada orang lain?

Siapa kita?

Berani-beraninya mengakui hanya pendapat kita saja yang mewakili Syariah dan pendapat orang lain tidak!

Biarlah hukum-hukum ijtihadi itu seperti apa adanya, karena kehadiran mereka bukan untuk memecah belah umat. Sebaliknya, perbedaan fatwa mereka adalah keringanan bagi saudara muslim kita lainnya.

Mari sama-sama kita jaga dan laksanakan apa yang telah kita sepakati, dan mari saling memahami, mengerti serta menghargai perbedaan yang belum kita sepakati…

Wallahu a’lam bi s-shoab

Baca juga:

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here