9 Fakta Pondok Modern Gontor Yang Harus Ditiru Lembaga Pendidikan Indonesia

Di antara banyaknya lembaga pendidikan terbaik di Indonesia adalah Pondok Modern Gontor yang berpusat di Ponorogo salah satunya.

Kiprahnya besar dengan izin Allah, telah terbukti menghasilkan banyak tokoh terkemuka untuk negeri ini dan dunia internsional. Sebut saja yang paling sering diliput media:

  • Dr. K.H. Idham Chalid, Wakil Perdana Mentri Indonesia, Ketua MPR ke-4, Ketua DPR ke-6,
  • K.H. Hasyim Muzadi, Ketua Umum PBNU, Dewan Pertimbangan Presiden,
  • Dr. Hidayat Nur Wahid, Ketua MPR ke-12, Presiden Partai Keadilan Sejahtera ke-2,
  • Prof. Dr. K.H. Din Syamsuddin, Ketua Umum Muhammadiyah, Ketua Umum MUI,
  • Bachtiar Natsir, Pimpinan AQL Center, Sekretaris Jendral MUIMI,
  • Emha Ainun Nadjib, Budayawan, Seniman,
  • Ahmad Fuadi, Penulis, Editor, Wartawan,

Dan masih beberapa ribu lain yang tentunya luput dari berita. Pasalnya yang mendirikan serta memimpin pesantren saja ada 200-an.

Mungkin sekali yang lain sedang berperan menjadi kepala sekolah, guru, dosen, tentara atau setidaknya membina pengajian.

Tentunya data ini bukan sekadar angka, tapi lebih dari itu indikator keberhasilan sebuah pendidikan.

Akan sangat panjang pembahasan apa dan bagaimana Ponpes Gontor mendidik santrinya.

Tapi jangan khawatir, di sini kita akan cuplik fakta tentang ponpes ini yang akan menggambarkan wujud pola pendidikan secara umum di dalamnya.

1. Wakaf Potensial Pondok Modern Gontor

Pendirinya mewakafkan seluruh harta warisan orang tua untuk dibangung pondok.

Terlihat ekstrim dan memang radikal. “Makan apa? bagaimana masa depan anak-cucu kita?” mungkin itu sudah tidak dipikirkan Trimurti (3 Pendiri Gontor).

Dengan itu bukannya ponpes kian surut dan pendiri menjadi melarat. Pesantren justru tambah berkembang pesat, meluas, serta mandiri dalam segala hal.

Sementara itu, para kyai pendiri, meskipun tidak digaji oleh pondok, dapat hidup dan menghidupi keluarganya dengan cara hidup sederhana.

Dengan statusnya sebagai wakaf, siapapun termasuk anak keturunan dari kiyai tidak bisa mengambil alih, mengklaim, menjual pondok. Gontor tidak bisa diakuisisi dan dipolitisasi kepentingan ormas dan partai tertentu.

Para ilmuwan yang pernah meneliti wakaf Pondok Modern Darussalam Gontor mengatakan bahwa pesantren ini memiliki sistem pengembangan wakaf produktif, yang mana dengan sistem tersebut wakaf berkembang, bukan malah berkurang;

2. Visioner

Kelanjutan dari wakaf tersebut Pendiri mencanangkan Panca Jangka:

  • Pendidikan dan Pengajaran,
  • Kaderisasi,
  • Khizanatullah,
  • Pergedungan, dan
  • Kesejahteraan Keluarga;

Sebagai pedoman yang memudahkan kyai atau Pimpinan Pondok dan generasi penerus mengemban amanah, mengendalikan haluan.

Siapapun yang akan memimpin harus berpedoman pada Panca Jangka tersebut agar tidak lepas dari jalur yang semestinya.

Panca Jangka ini acuan para pengelola ponpes tentang apa saja yang harus dilakukan untuk masa depan.

Semua yang dikerjakan harus berpendidikan dan untuk pendidikan. Pengajaran harus selalu berjalan, karena pengajaran adalah nafas lembaga pendidikan.

Selalu harus ada kader penerus pendidikan di Pondok Modern Gontor, mesti ada ahli di bidang tertentu untuk setiap generasi, ajal silih berganti datang.

Pesantren harus mandiri, tidak boleh bergantung dan terikat pada siapapun dalam urusan finansial. Jiwa berkembang, fisik juga harus berkembang.

Kereta boleh berganti, tapi relnya tidak boleh bergeser.

K.H. Hasan A Sahal

3. Orientasi Pendidikan Gontor

Secara konsisten, ponpes mengadakan Pekan Perkenalan Khutbatu-l-‘Arsy (P3KA) setiap awal tahun pelajaran.

Saat itu kyai mengajarkan dan berbicara dengan lantang, konsekuen, dan konsisten tentang Panca Jiwa Pondok sebagai filsafat hidup, pandangan hidup, dan jalan hidup kepada para santrinya:

  1. Keikhlasan,
  2. Kesederhanaan,
  3. Ukhuwwah Islamiyah,
  4. Kemandirian, dan
  5. Kebebasan.

Bukan hanya itu. Beliau juga siap menjadi contoh nyata yang dapat dilihat dan ditiru oleh para santrinya.

Sangat disadari oleh Pimpinan Pondok Modern Gontor bahwa pesantren adalah lembaga pendidikan yang meletakkan kyai sebagai sentral figur dan masjid sebagai titik pusat yang menjiwai.

Pekan Perkenalan ditujukan untuk “tajdidu an-niyat” alis penyucian niat bahwa kehadiran santri di ponpes untuk mendalami ilmu dan para ustadz mengajar bukan mencari penghidupan.

4. Mandiri

Mandiri di sini, Ponpes tidak bergantung pada SPP santri untuk tetap hidup mendidik generasi. Dengan begini, setiap santri dan wali santri yang mendaftar merasa mereka tidak diundang, bahkan mereka yang berharap dapat diterima oleh Gontor.

Ponpes ini juga tidak bergantung dari pemberian pemerintah, uang sertifikat dan sebagainya. Dengan demikian pesantren lebih fokus pada hal esensi pendidikan daripada harus mengurusi administrasi yang kadang menghambat guru.

Maka Pondok ini tidak memasang advertensi atau iklan dalam penerimaan siswa baru, tetapi yang mendaftar tetap banyak. Umumnya sekolah, untuk menjaring siswa baru, akan memasang iklan dengan informasi tentang sekolah sebegitu rupa agar calon siswa mau mendaftar.

Alhamdulillah, bahkan peserta ujian masuk di Gontor bisa mencapai angka 8000-an calon pelajar di tengah pandemi Covid-19.

Jiwa kemandiriannya membuat Gontor membalikkan (baca: meluruskan) paradigma, bahwa sebuah lembaga itu “disumbang karena maju, bukan maju karena disumbang”.

Kemandiriannya dalam hal pendanaan dan sistem pendidikan membuat Gontor bebas dan konsisten tidak tergantung kepada lembaga manapun.

Kemandirian ini sangat penting bagi pondok pesantren. Kiyai Abdullah Syukri Zarkasyi pernah berkata:

“Kalian ini mau nuruti kata hati atau nuruti kata orang?

Kalau nuruti kata hati, jangan pedulikan kata orang. Sebab orang itu kita bergerak kemanapun pasti dikomentari. Saya dulu buka UKK (koperasi Guru) dan KUK (Toko besi) dan Toko Buku saja habis-habisan dikomentari, dibilang Kyai Bisnis, Kyai Mata duitan, Kyai Matre, tapi saya jalan terus.

Sekarang semua baru terbuka, pada ramai-ramai ikut-ikutan buka usaha. Saya tahu bahwa Pesantren ini butuh biaya, utamanya untuk kesejahteraan Guru. Tapi bagaimana biar ini tidak membebani santri, kesejahteraan Guru tidak boleh diambilkan dari dana santri.

Kenapa?

Biar para santri tidak berkata “Kamu kan sudah saya bayar….!!”

Ini yang ingin saya hindari, maka saya buat Unit-Unit Usaha yang saat ini mencapai 23 buah. Itu semua untuk kesejahteraan guru…

Maka jangan dengarkan kata orang jika ingin maju.

Bagus atau jelek, jalani saja. Kalau jelek ya dievaluasi ditengah jalan. Sebab dengerin kata orang itu ndak ada habisnya. Bahkan kita tidak bergerak sekalipun, itu tetap akan dikomentari, ‘ini orang masih hidup atau sudah mati, kok cuma diam saja gerakannya’.

Maka itu, ikuti kata hatimu. Kata Rasulullah “Istafti Qalbak”, Gontor sudah kenyang dicaci maki, Gontor juga sudah kenyang dipuji-puji…..!”

5. Tegas & Disiplin

Pondok Modern Gontor menerapkan disiplin ketat, tanpa mengkaitkan dengan atau mempertimbangkan ketidakkerasanan santri. Artinya, dengan disiplin ketat, ponpes atau kyai tidak khawatir santrinya akan berkurang, kabur, atau tidak kerasan karena takut disiplin.

Logikanya, jika santri berkurang, pemasukan pondok juga akan berkurang, dst. Bagi Gontor, disiplin adalah mutlak.

Dengan disiplin, membentuk atau pendidikan karakter akan berjalan dengan baik. Dengan tegas pula, Gontor justru mengatakan, “Kalau siap menerima disiplin, ya silakan masuk Gontor, kalau tidak siap, silakan pulang saja!”.

Tidak akan ada kemajuan tanpa kedisiplinan dan tidak ada kedisipilinan tanpa keteladanan.

-K.H Hasan A Sahal

6. Mapan Sistem & Kurikulum

Setelah hampir seabad, Gontor kokoh dan tetap konsisten dengan sistem Kulliyyatu-l-Mu‘allimin al-Islamiyyah (KMI) 6 tahun sejak berdirinya; Ada kesinambungan pengawasan tanpa terputus karena beda jenjang SMP-SMA atau Tsanawiyah-Aliyah

Dengan sistem tersebut, penilaian atau evaluasi terhadap siswa dapat dilakukan secara kontinu dan mandiri oleh pesantren, bebas intervensi pemerintah atau lembaga lain.

Ditambah dengan sistem asrama penuh, penanaman jiwa pondok dan pendidikan karakter benar-benar lekat dan dapat menjadi pegangan hidup, sistem pendidikan di kelas dan di luar kelas (asrama) berlangsung integral; guru di kelas adalah juga guru pembimbing di asrama.

7. Ujian Pondok Modern Gontor

Paradigma lain yang dipegang oleh Gontor hingga saat ini adalah “Ujian untuk belajar, bukan belajar untuk ujian.” Juga, “Ilmu itu akan didapat sebelum ujian, ketika ujian, dan setelah ujian.” Sehingga “tidak naik kelas” adalah hal biasa, namun tetap menjadi hal yang tidak diharapkan.

Yang terpenting di Gontor bukanlah naik kelas, tetapi seberapa banyak ilmu yang sudah didapat/diamalkan santri. Tinggal kelas bukan masalah, yang penting ilmunya bertambah. Itu yang harus disyukuri.

Tidak naik kelas adalah bukti cinta pesantren. Daripada rapuh di kelas selanjutnya karena tidak kokoh di kelas sebelumnya.

Pada beberapa siswa, untuk naik kelas, memang dibutuhkan perjuangan ekstra, ada yang sampai 8, 9 bahkan 12 tahun mengenyam pendidikan di Gontor.

Ini juga salah satu alasan kenapa Pondok Modern Gontor tidak ikut  serta dalam ujian nasional pemerintah.

Ujian ini sangat bernilai di mata Pondok Modern Darussalam Gontor, sampai-sampai wafatnya KH. Imam Zarkasyi, sebagai seorang pendiri dan pimpinan pun dinomerduakan.

8. Pengabdian

Setelah 4-6 tahun menjalani hidup sebagai pelajar, menghadapi berbagai macam pelajaran, ujian dan pendidikan; maka sebagai lembaga yang berorientasi pada pendidikan, Gontor mewajibkan pada fresh graduate-nya sebuah program pengabdian selama 1 tahun.

Pengabdian ini adalah syarat mutlak bagi pelajar yang ingin diakui sebagai alumni, minimal secara tertulis dalam ijazah atau syahadah.

Karena ijazah hakiki bagi Gontor adalah “pengakuan masyarakatmu”. Amalkan ilmu yang sudah kau dapat.

9. Guru Tidak Digaji

Mungkin agak janggal di zaman heonisme ini. Beberapa orang bahkan berkata, “gak mungkin”. Namun demikian adanya, pimpinan Gontor pun tidak mendapat gaji.

Meski tidak menggaji guru-gurunya, ponpes tetapi memberikan kesejahteraan, dengan standar sekadar untuk bekal beribadah atau bekal mengabdi.

Pesannya, “Asalkan mau hidup sederhana, insya Allah tidak akan kelaparan.” Alhamdulillah, kenyataannya ustadz Gontor tidak ada yang melarat.

Kesejahteraan yang tertulis di Panca Jangka itu tidak diambilkan dari SPP, melainkan dari hasil usaha pondok; percetakan buku, pabrik roti, toko material, pertanian dan perkebunan yang dikelola para ustadz sendiri.

Jadi, disamping mengajar di pagi, siang dan malam; guru-guru Gontor bekerja untuk menghidupi diri mereka sendiri.

Prinsip ini membuat guru Gontor tampil berwibawa di hadapan para santri; mengajar dengan tidak membedakan siapa yang sudah membayar SPP dan siapa yang belum atau malah tidak membayar SPP sama sekali.

Santri dan walinya juga tidak bisa mengatakan, “Kamu sudah saya gaji”.

Karena gaji ustadz tidak diambil dari iuran santri, Pondok Modern Gontor dapat menekan biaya SPP ke tingkat serendah mungkin. Ada kalanya Gontor menurunkan uang bayaran pelajar.

Melihat hal ini, para santri memang benar-benar berhutang jasa pada para guru. Maka, wajar saja jika ada murid yang dikeluarkan karena melawan ustadz.

Sementara ini saja sedikit dari banyak hal yang tidak mudah dipahami dari Pesantren Gontor. Terlepas dari kekurangan yang ada pada lembaga ini. Semoga pondok ini istiqomah dan lebih baik lagi.

89 Comments

    • Wa’alaikumussalam wa rahmatullah

      Iya pak setingkat SMA, Aliyah, namun dengan pelajaran yang lebih banyak dan padat. Tapi tidak ada ujian negara.

  1. Assalamualaikum,, ustadz
    Maaf ustadz mau tanya,, ada gak buku khusus yang membahas tentang kurikulum di pesantren Gontor,,,?

    • Wa’alaikumussalam wa rahmatullah,
      Mohon maaf, untuk keseluruhan secara detil mungkin tidak ada. Kecuali untuk alumni yang ingin mendirikan pesantren.

  2. alhamdulillah anak saya yg pertama & kedua sudah di gontor putri 1, semoga adiknya yg masih kelas 2 sd, bisa nyusul mondok di gontor putra

  3. Assalamu’alaikum, saya mau tanya, mengapa kampus Gontor putra dan putri dipisah?
    Karena ada yang aneh di penat saya.
    Syukron.

  4. Assalamualaikum ustadz.. Mau tanya, anak saya sekarang baru kelas 3 SD, insyaAlloh lulus nanti ingin sekali masuk ke gontor putri. Yang ingin saya tanyakan, anak saya nanti kan lulus tahun 2023. Dimana tahun 2023, bulan Syawalnya jatuh di bulan April, padahal kelulusan kan sekitar bulan Mei. Jadi apakah anak saya lulus nanti langsung bisa mendaftar, ataukah harus menunggu 1 tahun lagi? Mohon penjelasannya, jazakalloh khoir..

    • Wa’alaikumussalam wa rahmatullah wa barakatuh. Kemungkinan, akan diberlakukan sistem calon pelajar muqim sebagaimana yang pernah diterapkan 20 tahun lalu. Calon santri akan tinggal dipondok, belajar sebagaimana santri yang sudah diterima.

  5. Mohon maaf ustad, untuk masuk Gontor yg lulusan SD dan SMP apakah di samakan kelasnya? Kebetulan anak saya sekarang kelas 2 SMP Al-Irsyad Karawang dan sudah diskusi kalau setelah lulus SMP inshaAllah akan melanjutkan ke Gontor pusat . Mudah mudahan terlaksana … aamiin

Leave a Reply

Blog Openulis

Blog artikel edukasi Islam di atas dan untuk semua golongan.